Saturday, April 14, 2018

Oleh-Oleh Workshop Bersama Bunda Ressy Laila : Mempererat Bonding Keluarga dengan "Family Project"

mempererat bonding keluarga
Mini Workshop Family Project Ibu Profesional Lampung.
Foto : Heni Puspita

((Sebelum lanjut baca, plis jangan cari saya di poto itu itu, gak ada. Rania nangis, jadi saya gak ikut poto bareng. *hahahahha, maha penting untuk dikonfirmasi*))


Family project itu apa sih?

Saya sendiri mendengar istilah family project pertama kali saat acara family gathering yang diadakan oleh Komunitas Ibu Profesional (IP) Lampung. Sayangnya, saat itu saya terlambat datang, jadi belum 'ngeh' dengan maksud family project. Sampai saat IP Lampung mengadakan rangkaian acara Gebyar Sambut Ramadahan yang di dalamnya terdapat mini workshop family project, saya masih menganggap bahwa family project adalah semacam proyek sosial besar yang diadakan oleh masing-masing keluarga gitu dan level saya mah belum sampe lah *nyerah duluan* XD

Saya sudah bergabung dengan whatsapp group komunitas Ibu Profesional Lampung sejak tahun 2016 dan mulai ikut kegiatan offline-nya di tahun 2017. IP Lampung merupakan sebuah komunitas yang dibawahi oleh Institut Ibu Profesional (IIP), sebuah forum belajar bagi para ibu dan calon ibu yang ingin meningkatkan kualitas dirinya dalam menjalankan peran sebagai perempuan, ibu dan istri. Rangkaian acara Gebyar Sambut Ramadhan ini adalah salah satu kegiatan offline yang diadakan satu tahun sekali.

Baca : Belajar Membuat Mie Sawi Homemade Bersama Rumbel Memasak IIP Lampung

Mini workshop family project hari Minggu, 8 April 2018 kemarin diisi oleh Ressy Laila Untari Ningsih. Seorang praktisi homeschooling yang pernah menjadi Leader Kota IP Bekasi dan saat ini tengah menjabat sebagai Leader Kota IP Prabumulih. Selain itu, beliau juga merupakan penulis buku Witing Tresno Jalaran soko Kulino (WTJK) yang isinya membahas tentang project-project keluarga yang membuat cinta semakin tumbuh subur.

Baca : Resensi Buku Parenting : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Bunda Ressy dan Mbak Elsy, MC yang suka kelewat bahagia :D
Foto : Heni Puspita

Bunda Ressy Laila membuka workshop hari itu dengan sebuah pernyataan:
Ada 3 hal yang tidak akan ditolak oleh anak, yaitu mendongeng, bermain dan hadiah.
Bermain bisa menjadi salah satu sarana untuk mempererat bonding keluarga. Family project bagi anak-anak, erat hubungannya dengan bermain.
Family project adalah aktivitas yang secara sadar dibicarakan bersama, dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.
Jadi ternyata, family project itu bukan semacam proyek sosial besar seperti yang saya pikirkan di awal tadi, xixixi. Family project bisa berupa kegiatan apa aja kok. Yang penting dilakukan bersama, melibatkan komunikasi antar anggota keluarga, membuat anak-anak hepi (bukan hanya orang tuanya yang hepi) dan ada pelajaran yang bisa diambil setelah project selesai. Family project menjadikan keluarga kita sebagai a home team, bukan sekedar kerumunan.



Workshop Family Project bersama Ressy Laila Untari Ningsih. . . Sejak awal ikut acara, sungguh kutaktau arti family project itu apa. Kupikir semacam keluarga ngadain proyek sosial yang besar-besar gitu. Duh apalah aku cuma remahan kerupuk merah yang tersiram kuah soto.. . . Ternyataa family project itu ajang komunikasi antar anggota keluarga. Ngerencanain sesuatu bareng.. Ngelakuinnya bareng-bareng.. Dan di akhir kita apresiasi bareng.. Contohnya dimulai dari hal-hal sederhana banget. Misal, cuci mobil bareng. Itu bisa jadi family project. Orang tua bersih-bersih sambil ngobrol dan anak pun ikut asyik 'bantu' main-main sabun. Lengkapnya nanti di blog yaa. Kuterharu dengan workshop family project ini. Karena sadar bgt momen sama-sama sambil ngerjain sesuatu ini masih belum kami lakukan. . . Ini peserta sedang presentasi tentang keunikan keluarga.. Dan rencana project family saat bulan ramadhan nanti. . . Terima kasih banyak fotonya Mb @naqiyyahsyam dan Mb Evi ❤ . . #IbuProfesionalLampung #IPLampung #GebyarSambutRamadhanIPLampung #WorkshopFamilyProject
A post shared by Dwi Septiani (@dwiseptiani.dwi) on


Manfaat dari family project yaitu:

⇨ Menjadikan keluarga sebagai a home team
⇨ Sarana pendidikan bagi seluruh keluarga
⇨ Membuat cinta tumbuh subur
⇨ Keluarga kompak dan saling memahami
⇨ Keluarga semakin semangat
⇨ Hubungan antar keluarga semakin erat


Yang membedakan family project dengan kegiatan keluarga lainnya adalah prosesnya.

Bunda Ressy mencontohkan, proses komunikasi dalam  family project keluarga mereka diberi nama 'tea time'. "Kami punya forum ngobrol keluarga yang kami beri nama 'tea time'. Saat tea time, biasanya kami duduk bareng, ngobrol sambil minum teh dan makan cemilan. Tea time ini bisa disesuaikan dengan kebiasaan masing-masing keluarga, kalau tidak suka teh, bisa diganti dengan makan puding bersama sambil tukar hadiah misalnya. Tea time bukanlah sebuah forum yang kaku, melainkan waktu ngobrol khusus yang bisa dilakukan dimana saja. Yang penting semua bahagia dan bisa menjadi sarana pembelajaran bagi keluarga."

'Tea time' sebelum project
Dalam proses 'tea time' sebelum family project berlangsung, keluarga bisa mendiskusikan tentang hal-hal sebagai berikut:
Ide kegiatan. Bisa diambil dari mana saja. Hobi, aktivitas, masalah atau tantangan dalam keluarga. Kalau anak-anak sudah cukup besar, anak bisa ditanya tentang ide kegiatan apa yang ingin dilakukan untuk family project. Tetapi kalau anak-anak masih kecil, orang tua bisa memperhatikan kegiatan apa yang sedang disukai oleh anak atau aktivitas apa yang nantinya sekaligus bisa melibatkan si kecil dalam agenda family project.
Sarana. Apa saja alat-alat dan bahan yang dibutuhkan? Berapa estimasi dana?
Panitia. Siapa penanggung jawabnya? Anak-anak akan mengambil peran sebagai apa?
Waktu. Kapan pelaksanannya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan?
Branding. Berikan nama khusus untuk proyek keluarga tersebut.

⇨ 'Tea time' saat pelaksanaan project
Komunikasi antar keluarga dilakukan dengan hangat dan bahagia saat project berlangsung.

⇨ 'Tea time' setelah project
Lakukan apresiasi, bukan evaluasi. Setelah project selesai, tea time dilakukan sembari mengapresiasi apa yang sudah sama-sama dilakukan. Bukan sekedar evaluasi yang seringkali membuat anggota keluarga merasa 'dinilai' hasil kerjanya.
Master mind. Membuat anggota keluarga berpikir positif tentang family project. Apa yang sudah sukses dilakukan minggu ini? Apa yang bisa dibagi? Ada kesan apa? Mau sukses apa lagi minggu depan?

See, peserta pada serius banget, xixixi.
Foto : Heni Puspita

Sampai sini, tiba-tiba saya mbrebes mili. Gitu saya mah, gampang nangis anaknya XD Entah kenapa saya tiba-tiba sedih gitu. Keinget bagaimana saya dibesarkan.. dan keinget kondisi keluarga sendiri. Saya nih istri yang sering banget minta tolong suami dengan nada menyuruh. "Ayah, rumput samping udah tinggi-tinggi banget tuh. Semprot dong, kan udah tugas Ayah." Sementara yang suami saya inginkan adalah kata-kata semacam, "Yuk kita sama-sama bersihin halaman." Meskipun kemudian saya dan Rania cuma main-main di sekitar situ, nemenin doang. Bagi suami saya itu akan lebih menyenangkan. Pekerjaan rumah selalu bisa dibuat menyenangkan dan justru jadi ajang ngobrol keluarga. Hmm berarti, meskipun belum mengerti teorinya, sebenernya udah lama ya suami pengen ngajakin family project, hehehe.

Baca : Resensi Buku Psikologi Populer : Toples Aksara, 33 Permen Renungan Bagi Jiwa


Nilai-nilai pembelajaran dalam 'tea time':

⇨ Musyawarah mufakat, tea time bisa menjadi ajang stimulasi ide untuk anak-anak dan mereka belajar bagaimana cara menyampaikan gagasan dengan baik. Anak belajar tentang musyawarah pertama kali dari keluarganya.

Baca : Visual, auditori atau Kinestetik? Tiap Gaya Belajar Anak Butuh Stimulasi

Problem solving, melatih daya pikir dalam memecahkan suatu masalah.
⇨ Tanggung jawab, membiasakan anak/seluruh anggota keluarga untuk berani mengambil peran dan bertanggung jawab atas hal tersebut.
⇨ Tidak memaksakan kehendak, dalam proses menyampaikan pendapat, ada kalanya pendapat tersebut kurang bisa diterima karena sesuatu dan lain hal. Disinilah anak/seluruh anggota keluarga belajar untuk menerima dan tidak memaksakan kehendak.
⇨ Toleransi, menjaga perasaan. Seringnya berdiskusi akan membuat kita semakin memahami karakter masing-masing anggota keluarga lau berusaha melatih diri untuk bersikap toleran dan saling  menjaga perasaan.


Mb Tiwi, peserta mini workshop family project yang jauh-jauh datang dari Kotabumi.
Foto : Heni Puspita

Contoh family project yang pernah dilakukan Omah Project:

Bunda Ressy Laila memberi nama Omah Project untuk project family keluarga mereka. Bagi Bunda Ressy, penamaan sangat penting. Karena hal tersebut akan menjadi branding yang melekat pada keluarga.

Project pertama yang dilakukan oleh Bunda Ressy dan keluarga beberapa tahun lalu adalah project coret lantai bersama-sama. Saat itu anak-anak dari Bunda Ressy memang sedang senang bermain cat. Satu ruangan khusus dijadikan sebagai tempat coret-coret. Di akhir project Keluarga Bunda Ressy membersihkan ruangan tersebut bersama-sama. Saya nyesel banget gak nanya merk cat-nya, hahaha *pengen niru tapi belum kebayang pake cat apa XD

Baca : DIY Menghias Kotak Sampah

Family project lain yang pernah dilakukan oleh Omah Project:

  • Project permainan tradisional, seperti ular naga dan cublak-cublak suweng
  • Project bermain cat, mengecat kaleng bekas, mengecat kamar bersama-sama 
  • Let's go clean, membersihkan taman di lingkungan sekitar rumah
  • Let's go green, berkebun
  • Membuat cilok
  • Pentas go green, anak-anak belajar membuat pementasan drama yang kemudian dimainkan di halaman rumah dan ditonton oleh Bunda Ressy dan suami
  • Kunjungan ke sawah, belajar apa saja yang ada di sawah dan ngobrol dengan para petani
  • Kunjungan ke kebun karet
  • Taman ceria, project mencabut rumput halaman rumah dengan cara yang kreatif, yaitu membuat tanda kotak-kotak dengan tali rafia kemudian membaginya sesuai jumlah anggota keluarga. Setelah selesai, masing-masing mendapat reward berupa hadiah
  • Main, baca puter-puter (cater). Ide family project ini diusulkan oleh anak-anak Bunda Ressy. Mereka mengumpulkan buku bacaan dan mainan yang ada di rumah untuk dibawa keliling. Tujuannya adalah mengajak anak-anak membaca buku dan bermain untuk mengurangi kecenderungan terhadap gawai

Baca : Cara Asik Belajar Bahasa Inggris untuk Anak Usia 2 Tahun

Omah Project juga membuat family project untuk bulan ramadhan yang mereka beri nama SINDURAM. Singkatan dari Generasi Rindu Ramadhan. Bahkan nyiptain lagu sendiri loh. Peserta diminta berdiri sambil bernyanyi. Saya masih inget nih sebagian liriknya, "Kami senang kami senang sambut ramadhaann.." *eaaa, nyanyi dengan suara yang dibikin sok merdu, hahaha*

Ini nih beberapa project yang pernah dilakukan oleh Omah Project selama bulan ramadhan:

  • Indahnya sahur dan serunya berbuka, menyiapkan makanan bersama-sama
  • Hias kartu ramadhan, menghias kartu ucapan bersama-sama
  • Membuat parcel sederhana
  • Melukis tampah
  • Mengaji juz 30 untuk anak-anak
  • Puasa 3 hari untuk anak-anak

Sesi berikutnya masing-masing peserta diberikan sebuah kertas lebar untuk diisi dengan nama keluarga, tiga keunikan keluarga dan rancangan family project untuk kegiatan ramadhan tahun ini. Gak kerasa yaa, sebulan lagi puasaa :D

Saya saat presentasi keunikan keluarga. Suka jalan, suka mie ayam bakso, suka yang unik-unik, xixixi.
Foto : Naqiyyah Syam

Para peserta, termasuk saya, semangat untuk berpartisipasi dan mengajukan pertanyaan. Ada pertanyaan menarik dari Mbak Naqiyyah Syam nih soal menjalankan family project bagi suami istri yang sama-sama sibuk dan terpisah jarak *ciee* Pas banget suami Bunda Ressy baru saja hadir, jadi bisa ikutan nimbrung jawab pertanyaan. "Bagaimana mengkomunikasikan dan bersinergi dengan suami untuk menyatukan ide family project terutama bagi suami yang sibuk? Tadinya kami mau sama-sama dateng, tapi abinya ada acara lain. Sehingga kami harus bagi tugas menjaga anak-anak."

Menurut Bunda Ressy, terpisahnya jarak dan waktu ternyata tidak bisa dijadikan penghalang untuk agenda family project ini. Bahkan, menjaga anak-anak justru bisa dijadikan family project tersendiri. Sebelum berangkat, keluarga melakukan diskusi pembagian tugas dan menceritakan agenda yang nanti akan dilakukan. Saat kembali berkumpul di rumah nanti, masing-masing keluarga bisa saling bercerita tentang apa saja yang tadi dilakukan. Ketika suami berjauhan sekalipun, keluarga tetap bisa melakukan family project yang sama di beberapa tempat yang berbeda. Lalu setelah itu bisa video call. Jadi family project itu sama sekali gak kaku. Yang penting adalah komunikasi antar keluarga dan apresiasi setelah family project itu selesai.

Pak Ressy ikut sharing *saya lupa nama beliau XD
Foto : Naqiyyah Syam

Suami dari Bunda Ressy juga menambahkan sharing tentang bagaimana seorang Ayah bisa menjadi teladan dalam pelaksanaan komitmen family project tersebut. Misal, dalam bulan ramadhan masing-masing keluarga punya family project untuk target khatam Al-Qur'an. Ayah menargetkan khatam 1x, maka Ayah mencontohkan keberhasilan dari target tersebut dan memperlihatkan prosesnya kepada anak-anak.


Foto : Evi Wiliyanti

Ini saat beberapa peserta maju mempresentasikan rencana family project untuk bulan ramadhan. Kreatip-kreatip loh, saya modal ATM (amati, tiru, modifikasi) aja, xixixi. Saya jembreng yah, mana tau jadi inspirasi untuk yang mau buat juga jelang bulan ramadhan ini.
­čö║Bersih-bersih rumah
­čö║Tarawih keliling
­čö║Memberi ta'jil ke masjid
­čö║Membuat menu bersama keluarga
­čö║Menyiapkan makanan bersama-sama

Baca : Resep Oseng Cumi Asin Pete

­čö║Membuat es kopyor
­čö║Membuat kolak pisang

Baca: Resep Bolu Pisang Panggang No Mixer No Pengembang

­čö║Membuat sop buah
­čö║Membuat es blewah
­čö║Membuat es teler
­čö║Membuat es cendol

Lhaaaaaaa, minuman semuaa, hahaha. Ini sih tambahan dari saya ya XD

Gimana-gimana? Kebayang kan serunya family project? Pasti asik deh ngerjain sesuatu bareng-bareng sambil ngobrol hangat gitu. Makin mempererat bonding keluarga, kan? Jadi, kamu punya rencana apa nih untuk family project di bulan ramadhan? Share di kolom komentar yaaah.








4 comments:

  1. Masya Allah Mantap sharingnya... Makasih ya mba

    ReplyDelete
  2. Wah, tulisan mba uwikk sarat ilmu nih. Agendanya pun sukses bikin pengen gabung IIP hehe

    ReplyDelete
  3. Heheheeh... Kadang laki2 g mau ngerjakan pekerjaan perempuan mb. Sepertinya, baik istri atau suami harus ikut agenda ini ya.. Biar sama2 termotivasi.. Inspiring..

    ReplyDelete
  4. program IIP emang keren-keren. bersyukur aku bisa gabung di komunitas ini... rasanya...masyaAllah

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi