Thursday, February 22, 2018

Visual, Auditori atau Kinestetik? Tiap Gaya Belajar Anak Butuh Stimulasi

February 22, 2018 5 Comments
Aliran Rasa Game Level 4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional

"Don't teach me, i love to learn."


Mengajari anak-anak bagaimana cara belajar jauh lebih berharga daripada mengajari mereka untuk sekedar mengingat sejumlah informasi. Proses belajar yang bermakna akan mempengaruhi segala aspek dalam perkembangan kehidupannya. Proses belajar yang menuntut anak-anak lebih aktif juga menumbuhkan karakteristik baru sebagai pembelajar.

Belajar merupakan fitrah setiap anak. Pun fitrah saya juga sebenarnya, as a human

Masuk Game Level 4 Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, saya harus menghilangkan paradigma bahwa "belajar" identik dengan seorang anak yang tekun membaca, berkutat dengan soal latihan dan mendapatkan nilai sempurna di kelas. "Belajar" nyatanya punya arti yang lebih luas dan bisa dilakukan dimana saja.

Jaman berubah dan akan terus berubah. Sudah saatnya para emaks mengubah paradigma baru di dunia pendidikan, agar tak ada lagi generasi "text book" cem jaman kita old dulu. Salah satu caranya adalah dengan mengikuti Kelas Bunda Sayang di Institut Ibu Profesional ini :D

Dalam proses belajar, ada yang disebut dengan gaya belajar. Setiap anak memiliki gaya belajar yang berbeda-beda. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar atau biasa disebut dengan modalitas belajar adalah cara informasi  masuk ke dalam otak melalui indera yang kita miliki. Ada tiga macam modalitas belajar anak, yaitu visual, auditori dan kinestetik.

Visual, anak dengan gaya belajar visual (mata/penglihatan) seringkali harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Saat di kelas, anak-anak ini cenderung memilih untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir dengan menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar dengan lebih cepat lewat tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar dan video.

Auditori, adalah gaya belajar dengan cara mendengar. Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi/rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandingkan dengan mendengarkannya. Anak-anak seperti ini biasanya menghapal lebih cepat  dengan membaca teks keras-keras dan mendengarkan kaset.

Kinestetik, anak yang mempunyai gaya belajar tipe ini belajar dengan cara bergerak, menyentuh dan melakukan. Cenderung sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. 

game level 4 kelas bunda sayang
Kenali gaya belajar anak. Visual, auditori atau kinestetik?
Sumber gambar: Kelas Bunda Sayang 


Game Level 4 Kelas Bunda Sayang kali ini adalah... mengamati gaya belajar anak.

Karena anak baru satu, otomatis saya memilih Rania sebagai objek. Untuk peserta yang belum menikah, bisa diganti dengan mengamati diri sendiri. Sedangkan untuk yang sudah menikah tetapi belum memiliki anak, bisa mengamati pasangan.

Dalam game kali ini, kami diminta untuk melakukan stimulasi masing-masing gaya belajar, mengamati dan mendokumentasikannya. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mengetahui mana gaya belajar yang lebih dominan. Tentu menyenangkan saat kita bisa menemukan gaya belajar anak dan memaksimalkan kecerdasan yang dimilikinya.

Saya melakukan pengamatan selama 10 hari. Belum bisa berturut-turut sih, tapi rasanya cukuplah untuk melihat gaya belajar Rania di usia 2 tahun 9 bulan ini. Kegiatan pengamatan ini saya dokumentasikan di akun instagram pribadi saya @dwiseptiani.dwi

Hari pertama
Rania kami ajak melihat gerhana bulan secara langsung di pelataran kampus ITERA. Awalnya, kami sekeluarga ingin ikut meneropong, tetapi karena suami baru pulang kerja lepas maghrib, jadilah kami terlambat datang kesana. Maka stimulasi kinestetik saya ambil dari sholat gerhana berjamaah. Saya menjelaskan tentang gerhana bulan dalam bahasa yang sederhana dan alasan mengapa malam itu kami melakukan sholat gerhana. Game hari pertama ini sekaligus saya gunakan untuk semakin mengenalkan Rania dengan Yang Maha Menciptakan.

Hari kedua
Rania saya ajak untuk mendengarkan lagu daerah dan lagu kebangsaan. Awalnya, saya mencontohkan gerakan mengikuti irama lagu dan Rania mengikutinya. Tapi beberapa menit kemudian, dia sudah punya style sendiri. Ajaibnya, gerakan itu sesuai dengan irama lagu. Melenggak-lenggok saat mendengar Ampar-Ampar Pisang dan tangan kaki mengepal ala-ala latihan PBB saat mengikuti lagu Berkibarlah Benderaku. Sedang asik bergerak, musik saya matikan. Rania otomatis berhenti dan bertanya-tanya. Masuk instruksi tambahan untuk variasi permainan. Saat volume dikecilkan, Rania saya minta untuk tepuk tangan dan saat volume dinaikkan, Rania saya minta untuk loncat.

Hari ketiga
Selama ini Rania hanya membaca dari buku anak tentang dokter gigi. Hari itu, Rania berkesempatan menemani saya melakukan perawatan gigi. Memegang karet behel, melihat dokter berjas putih, mengamati saat mulut saya dibuka lalu disenter dan memperhatikan kursi periksa yang bisa dinaikturunkan :D


Hari keempat
Permainan ini terinspirasi dari buku Montessori di Rumah. Anak diminta untuk membersihkan dan memindahkan telur dari satu wadah ke wadah lainnya. Tujuannya adalah untuk mengasah kepekaan anak, memahami tentang benda yang mudah pecah/rapuh dan melatih kesabaran.

game level 4 kelas bunda sayang institut ibu profesional
Membersihkan dan memindahkan telur dari satu wadah ke wadah lainnya

Hari kelima
Karena Rania termasuk yang susah sekali diajak potong kuku, hari itu kami bermain potong kuku dengan replika tangan dari kardus. Rania yang menggunting kukunya langsung sembari mendengarkan penjelasan saya kalau kuku yang tidak dipotong itu bisa menjadi sarang kuman dan rumah syaithan.

game level 4 kelas bunda sayang institut ibu profesional
Bermain potong kuku dengan replika tangan

Hari keenam
Stimulasi yang mudah dilakukan di rumah untuk mengembangkan imajinasi visualnya. Sebenarnya bisa menggunakan media cat air atau pensil warna. Tapi hari itu Rania sendiri yang meminta untuk bermain dengan pewarna makanan yang ada di dapur :D


Hari ketujuh
Saya mengajari Rania lagu "Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum'at, Sabtu, Minggu, itu nama-nama hari.." untuk mengenal konsep waktu. Terlebih akhir-akhir ini Rania sering gak sabar menunggu weekend sama seperti mamaknya yang juga kebelet me time XD


Hari kedelapan
Hari itu kami dalam perjalanan pulang kampung. Jadi saya menstimulasi Rania untuk bermain di playground kecil-kecilan milik ruang tunggu bandara. Di pengamatan hari kedelapan ini, kelihatan sekali bahwa gaya belajar yang menonjol dari Rania adalah visual. Karena di sela-sela bermain, Rania banyak duduk dan mengamati anak-anak lain.

Hari kesembilan
Rania bisa melihat secara langsung pohon dan hasil panen buah-buahan di Hortimart Agro Center. Durian dengan ukuran super besar menjadi buah yang paling menarik untuk Rania hari itu.

game level 4 kelas bunda sayang institut ibu profesional
Durian yang menarik perhatian Rania :D

Hari kesepuluh
Karena masih dalam rangka pulang kampung dan jalan-jalan, kami mengunjungi Kebun Binatang Gembira Loka. Disana Rania naik gajah dan memegang telinganya secara langsung. She was very excited. Saya gak nyangka ternyata dia berani, soalnya saya geli sih klo disuruh pegang langsung, hihihi. Di kebun binatang juga Rania mendengar bermacam-macam suara hewan. "Suara apa itu Nak?" Banyak suara yang belum Rania tau rupanya :D Yang paling out of the box adalah saat Rania melihat kura-kura makan sayur. "Nda, kura-kuranya makan sayur. Biar lancar ee*nya." HAHAHA, *mamak mbayangin kura-kura sembelit* XD warbyasak anak Bunda! fokus pada solusi wkwkwk.

game level 4 kelas bunda sayang institut ibu profesional
Naik gajah di Kebun Binatang Gembira Loka

Jadi, Visual, Auditori atau Kinestetik?

Dari sepuluh hari pengamatan tersebut, gaya belajar Rania cenderung didominasi oleh gaya belajar visual. Dibandingkan anak lain yang seusianya, Rania tergolong anak yang anteng dan tidak terlalu banyak bergerak. Tapi soal suara jangan ditanya, Rania hobi menjerit melengking-lengking menarik perhatian, haha. Matanya seringkali fokus memperhatikan, terutama saat mengenali lingkungan baru. Contohnya ketika bermain di playground. Rania lebih suka mengamati anak-anak lain, baru kemudian ikut bermain.

Rania juga seringkali menyampaikan suatu informasi berdasarkan apa yang dilihatnya. Seperti saat melihat gerhana bulan. Rania menceritakan bulan tertutup awan dan gelap. Pun saat membaca buku bersama, biasanya Rania lebih tertarik membahas gambar daripada mendengarkan saya bercerita :D

Selain itu, Rania tidak begitu tertarik dengan aktivitas fisik seperti berlarian kesana kemari, panjat-memanjat atau loncat-loncatan. Disinilah PR saya, untuk lebih sering lagi menstimulasi motorik kasarnya dan memberi waktu untuk bermain di luar ruangan.


Tentu sebenarnya masih terlalu dini untuk menyimpulkan hal tersebut, mengingat usia Rania yang baru 2 tahun 9 bulan. Dominasi gaya belajar bisa saja berubah seiring dengan pertambahan usianya. Namun pengamatan singkat ini sangat berguna sebagai langkah awal saya merencanakan berbagai kegiatan belajar di rumah kedepannya.

Tugas kita sebagai orang tua adalah terus mendampingi anak untuk belajar. Mengamati rasa ingin tahu dan imajinasinya yang terus berkembang. Memancing mereka menemukan "Aha! moment", yaitu teriakan yang berarti "aha! aku tahu sekarang" atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya selama belajar. Lalu mengarahkan proses belajar anak untuk semakin meningkatkan akhlak mulianya.

Semangat membersamai anak!

Mom, you are the best!
Gambar: Giphy



Friday, February 16, 2018

Lakukan 10 Stimulasi Praktis Berikut Agar Anak Cepat Jalan

February 16, 2018 8 Comments
"Mamahh, curhat dong Mah... Anak saya usia 12 bulan belum bisa jalan, gimana caranya ya Mah agar anak cepat jalan sendiri? Atau mungkin ada obat tradisional agar anak cepat berjalan? Kalau perlu sekalian vitamin anak cepat jalannya. Terus Mah ajarkan saya doa khusus agar anak cepat jalan dong. Supaya gak terlambat macem anak tetangga."

-______________-

Ya kalik Mamah Dedeh bisa jawab soal tumbuh kembang anak XD

Familiar kan ya dengan keresahan buk ibuk yang anaknya belum bisa jalan. Padahal usianya baru 12 bulan. Itu juga sih yang dulu pernah saya rasakan. Saat di usia 1 tahun, Rania bahkan belum memiliki reflek menapak ketika badannya saya berdirikan.

Kebetulan pula saya tinggal di perkampungan yang tetangga satu sama lainnya saling peduli. 'Peduli' bisa berarti dua sisi. Peduli yang membangun atau malah peduli yang bikin minder dan panik orang tua lain.

Topik soal anak umur 1 tahun yang belum bisa jalan ini lah yang bakal jadi bahan obrolan perdana saya bareng Mb Heni Puspita Mama Rayyaan Razqa di Ngupi Pay! Ngobrol seru bareng duo mom blogger Lampung.

Agar anak cepat jalan
10 stimulasi praktis agar anak cepat jalan

Baca juga punya Mama Rayyaan Razqa:
Anak Umur 1 Tahun Belum Bisa Jalan, Normal Gak Ya?

So yeayy! mulai bulan Februari dan seterusnya blog saya bakal diisi dengan Ngupi Pay! semacam ngobrol seru sambil ngopi-ngopi virtual. Kompakan posting satu tema di blog bareng Mama Rayyaan Razqa. Ngupi Pay! nantinya akan bahas macem-macem mulai dari parenting, family, jalan-jalan, kuliner, endebre. Rencana publish tiap hari Jum'at dua minggu sekali. Buk Ibuk yang mau request tema boleh banget loh :D

Kembali ke topik soal anak, saya pernah banget ada di fase itu. Saat usia 1 tahun, Rania belum bisa berjalan bahkan belum memiliki refleks untuk menapak saat badannya saya berdirikan. Rania lebih suka merangkak, meskipun saat itu sebenarnya mulai bisa rambatan dengan bantuan berbagai perabot yang ada di rumah.

Awalnya yang ada di pikiran saya cuma bagaimana cara melatih anak berdiri sendiri, bukan bagaimana agar Rania cepat jalan. Gak ada sama sekali terlintas pikiran panik, karena memang sudah pernah membaca Kuesioner Praskrining Perkembangan Anak untuk usia 12 bulan. Dan indikator "anak dengan perkembangan usia SESUAI" disitu tidak menyebutkan bahwa seusia tersebut Rania harus sudah bisa berjalan. Jadi saya santai aja, fokus sama stimulasi.

Unduh Kuesioner Praskrining Perkembangan Anak di link berikut.

Yang kemudian bikin saya panik justru, apalagi kalau bukan 'perhatian' dari para tetangga XD cem macem deh anggapan waktu itu. Karena mindset mereka anak 1 tahun harusnya sudah bisa jalan. Sebagai orang tua baru yang lagi semangat semangatnya belajar soal perkembangan anak #uhuk, tentu saja saat itu saya jadi agak sedih dan tersinggung. Cuma pura-pura cuek aja, hahaha. Toh akhirnya alhamdulillah Rania jalan pun di hari ulang bulannya yang ke-16 :D

Perasaan-perasaan kompetitif resah gitu beberapa kali saya alami. Dulu sih, di awal-awal jadi ibu. Sekarang mah udah lebih santai, xixixi.

Gitu katanya.. Hahaha


Kapan anak bisa dikategorikan terlambat jalan (delayed walking)?

Berdasarkan kuesioner praskrining perkembangan anak dan windows of achievement for six gross motor milestones dari World Health Organization, bisa disimpulkan bahwa anak disebut terlambat jalan atau delayed walking  bila hingga usia 18 bulan anak belum mampu berjalan sendiri tanpa dipegangi.


Jadi jika anak di bawah usia tersebut belum bisa berjalan, hal itu merupakan sesuatu yang normal dikarenakan tumbuh kembang setiap anak berbeda-beda. Yuk ah, resahnya buang jauh-jauh! Kita fokus stimulasi anak aja.

Baca : Resensi Buku Parenting Islami : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak


10 Stimulasi Praktis untuk Melatih Anak Berjalan  

Berikut beberapa cara yang pernah saya lakukan untuk menstimulasi tahapan berjalan Rania:

Permainan kaki, Saya makin gencar melakukan berbagai permainan saat Rania berusia 1 tahun, agar kakinya terbiasa dengan macam-macam stimulasi. Mulai dari saya biarkan menendang kerincingan, menyentuh es batu, dipijat sambil bermain sampai memercik-mercik air dengan hentakan kaki.

Ambil benda, ini salah satu cara melatih anak berdiri sendiri. Karena saat itu Rania sedang suka merambat, saya menaruh mainan atau bahkan benda-benda absurd macam remote tivi, botol bekas dan tutup panci untuk diambilnya :D

Mendorong, stimulasi mendorong ini saya lakukan agar Rania berani melangkah. Awalnya saya menggunakan 'bangku bakso' yang cukup ringan. Tapi suatu saat Rania oleng dan sepertinya cukup trauma, hihi. Jadi saya putuskan untuk menggantinya dengan  kursi biasa yang agak berat tapi masih bisa didorong oleh Rania. Saya ikut memegang kursi seolah-olah bantu dorong, padahal nggak sih, hehehe. Soalnya kalau Rania disuruh dorong sendirian gak mau dia. Dikira eksploitasi anak mungkin XD Lalu karna bosen dan pengen kekinian jugak, saya menyewa sebuah push walker di tempat penyewaan mainan anak. Gak disangka, Rania malah fokus sama main pencet musiknya, ketimbang mendorong si push walker. Akhirnya ya sudahlah dorong apa adanya barang di rumah aja. Lebih murah dan efektif :D


Mendorong kursi bersama Ayah

Tanpa alas kaki, di usia 1 tahun saat itu, kaki rania sangat sensitif dengan berbagai macam benda yang menempel di kakinya. Saya mulai rajin mengenalkan aneka ragam tekstur dengan mengajak Rania berjalan kaki di rerumputan hijau, pasir pantai dan paving block. Awalnya Rania menolak, bahkan menangis. Jadi saya harus mengajaknya bermain terlebih dahulu untuk mencairkan suasana, hehe

Naik turun tangga di rumah Iyah. Selain untuk melatih motorik kasarnya, fungsi naik turun tangga ini juga untuk melatih keberanian dan rasa percaya diri Rania.

Berenang, lebih tepatnya mengajak Rania berjalan di dalam kolam renang sih. Kan seru ya belajar jalan sambil main air :D

Bermain dengan hewan peliharaan, pertama kali Rania berani menapakkan kakinya di paving block belakang rumah, itu karena ingin mengejar kelinci loh :D

Rania dan kelinci-kelinci yang berjasa di masa tumbuh kembangnya, hehehe

Titah, saya tim #titah meskipun gak sering. Soalnya anaknya juga mau, hahaha. Cara saya titah sambil pegang ketiaknya untuk meminimalisir risiko keseleo. Tapi kalau sudah capek, kadang saya titah biasa aja sambil genggam tangan Rania.

No baby walker, karena alat ini dapat mengganggu perkembangan otot-otot kaki. Lah terus Rania gak pake baby walker kok tetep belum bisa jalan di usia 1 tahun? Takdir Perkembangan anak kan beda-beda, yang penting masih dalam batas toleransi tumbuh kembangnya, ya kan? 

Baca: Rekomendasi Dokter Spesialis Anak di Bandar Lampung
 
Kata-kata positif, yang bisa orang tua lakukan adalah terus menstimulasi anak termasuk dengan kata-kata positif, bukan malah menjatuhkan mental anak, "Tuh.. anak itu aja udah bisa jalan. Masak kamu belum sih." | "Memang penakut anak ini, gak mau jalan sendiri. Temen-temennya aja udah pada jalan." | "Jalan sendiri geh Nak.. kan udah gede. Kok lambat bener.." ((GEH nyaaa..  Lampung banget lalu inget Andika Kangen Band XD)) Saya suka sedih kalau dengar orang tua yang berkata seperti ini. Padahal anak kan sudah mengerti dengan apa yang kita ucapkan ya. Coba ganti dengan kata-kata positif, puji sekecil apapun perkembangan anak. Saat itu saya juga selalu membela Rania tiap kali ada yang bilang dia "penakut".

~

Yuk ah udahan resahnya, kita fokus stimulasi aja. Kalau sampai dengan usia 18 bulan, anak belum bisa berjalan sendiri, orang tua baru boleh panik. Tapi paniknya langsung ke dokter anak sub spesialis tumbuh kembang ya. Supaya tau penanganan tepat selanjutnya. Tabik pun!




Wednesday, February 14, 2018

Resep Bolu Pisang Panggang No Mixer dan Tanpa Pengembang

February 14, 2018 0 Comments
Aneka olahan pisang

Selamat pagi dari Jogjakarta! Rasanya udah kangen banget pengen nulis banyak hal. Tapi jadwal piknik disini padat merayap *halasan* XD Dilema karena pengen ngetik tapi sampe rumah udah capek, sedangkan di jalan enggak pengen asik sendiri sama gadget, xixixi. Liburan kali ini kami berusaha membuat perencanaan dengan lebih matang. Supaya gak menyesal pas udah balik ke Lampung nanti. Yaahhh kok kemarin gak ke objek wisata itu, gak foto, gak nyoba makanan, hehe. Semoga pulang kampung kali ini after taste nya jauh lebih baik dari liburan-liburan sebelumnya. 
Karena masih suasana liburan, saya pengen posting resep olahan pisang yang sebelumnya sudah pernah saya tampilkan di wall facebook. Tahun lalu sih, tapi sampai sekarang bolu pisang panggang ini tetap jadi favorit! dan andalan kalau pengen makan kue tapi waktu membuatnya terbatas. No mixer juga, tinggal aduk-aduk lalu masukin oven, jadi deh! :D

Resep Bolu Pisang Panggang No Mixer dan Tanpa Pengembang

Bahan:
4 buah pisang sereh ukuran sedang
(bisa diganti pisang apa saja yang penting manis, paling enak pisang ambon yang sudah sangat matang)
2 butir telur
150 gr gula pasir
120 ml minyak sayur
130 gr tepung terigu

Cara membuat:
Lumatkan pisang dengan garpu
Di wadah lain, kocok telur dan gula sampai mengembang dan berbuih
Masukkan minyak sayur
Masukkan pisang yang telah dilumatkan
Campur terigu, aduk rata asal tercampur aja. Gak perlu diadon kuat-kuat supaya gak keras.
Tuang ke dalam loyang yang sebelumnya sudah dilapisi dengan margarin dan tepung terigu
Panggang dalam oven yang sudah dipanaskan. Atur suhu api bawah 180 derajat, panggang selama 45 menit. Setelah matang, ganti api atas, panggang selama 10 menit untuk mempercantik warnanya

Hasil kue ini enak, gak terlalu manis jadi gak eneg. Cocok banget buat dijadiin cemilan berbagai suasana. Kalau saya biasanya buat olahan pisang semacam ini saat ada sisa pisang yang belum dimakan dan warna kulitnya sudah mulai menghitam. Nah, pisang yang begini justru paling optimal untuk dibikin kue. Rasanya lebih legit. Jadi mulai sekarang, gak perlu panik dan membuang pisang yang sudah terlalu matang ya.

Baca : Lambang Sari, Si Manis Gurih Pemikat Hati

Selain itu, bolu pisang panggang ini juga menggunakan bahan-bahan simpel yang ada di rumah dan tanpa pengembang. Gak perlu ribet beli-beli baking soda dulu ke warung. Abis itu gak dipake-pake lagi sampe keras mengering, hahah *pengalaman pribadi* Karena no pengembang juga, kue ini gak seret saat dimakan. Hasilnya licin padat. Pokoknya laff deh sama resep satu ini. Coba di rumah yaa buk ibuk. Semoga berhasil!







Thursday, February 8, 2018

Resensi Buku Psikologi Populer : Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa

February 08, 2018 4 Comments
Resensi Buku Psikologi Populer: Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa.
Foto dokumentasi stilettobook.com.

Hidup ini bagaikan masakan. Kumpulan dari aneka rasa. Manis, asam, pahit, asin yang tercampur dalam komposisi pas. Kita merupakan kokinya. Jadi, tergantung bagaimana koki mengolah aneka rasa itu agar tersaji masakan lezat.

Hidup ini seumpama lukisan. Terdiri dari berbagai warna. Merah, kuning, hijau, hitam, putih yang dikombinasikan dengan serasi. Kita berlaku sebagai pelukisnya. Tergantung bagaimana pelukis memadukan warna-warna itu agar tercipta karya lukisan nan indah.

BAHAGIA. Kata sederhana namun sarat makna. Banyak manusia di muka bumi ini yang berusaha mencari kebahagiaan. Ada yang mengatakan bahwa jika dapat memiliki harta berlimpah, ketenaran, kekuasaan itulah yang disebut bahagia. Manusia pun berlomba-lomba meraihnya. Namun tak jarang pula yang akhirnya merasa kecewa karena tidak kunjung mendapatkannya. Padahal, bahagia itu sederhana!

***

Beberapa paragraf tersebut merupakan kutipan kalimat dari buku Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa. Pertemuan saya dengan penulis buku ini terbilang unik, karena kami sama-sama dipersatukan dalam sebuah komunitas menulis di facebook, One Day One Post (#ODOPfor99days2017). Berkat rutinitas menulis yang kami lakukan, kami berdua terpilih masuk dalam grup whatsapp komunitas tersebut. Disitulah kali pertama saya berkenalan dengan Mbak Roma Pakpahan.

Saat itu Mb Roma menyebutkan bahwa beliau tinggal di Aek Kanopan. "Aek Kanopan itu nama salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara loh." beliau menjelaskan. Saya cuma bengong sambil bergumam, eh serius nih, baru tau gw hehehe. Gara-gara si Aek Kanopan itu lah saya jadi ingat betul dengan Mbak Roma Pakpahan. Tambah ingat lagi karena ternyata aslinya beliau ini berasal dari Liwa, Lampung Barat. Lahh, sama-sama di Lampung tohh, batin saya waktu itu.

Kami bertatap muka secara langsung pertama kalinya di sebuah acara yang turut dihadiri oleh komunitas blogger Lampung, Tapis Blogger. Dan kemudian berlanjut di beberapa acara kepenulisan lain, salah satunya Bedah Buku 17 Kisah Perjalanan dari Lampung hingga Canberra di Aula Perpustakaan Daerah Provinsi Lampung.


Acara bedah buku di Perpusatakaan Daerah Lampung. Foto dokumentasi: Naqiyyah Syam.

Dalam acara tersebut, saya bertanya tentang kiat sukses memasarkan buku terbitan indie. Alhamdulillah, beberapa penanya mendapatkan hadiah berupa buku. Saya ternyata mendapatkan buku Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa milik Mbak Roma, yang saat itu duduk persis di belakang saya. Langsung sigap lah saya meminta tanda tangan dan berfoto bersama, hehehe.

Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa. Foto dokumentasi andriyani.web.id.

Identitas Buku
Judul Buku: Toples Aksara, Berisi 33 Permen Renungan bagi Jiwa
Penulis: Roma Pakpahan
Penerbit: Stiletto Indie Book
Genre: Nonfiksi - Psikologi populer

Toples Aksara merupakan buku yang berisi 33 renungan dalam kehidupan yang akan memotivasi dan menginspirasi pembaca agar makin semangat dalam menjalani setiap proses kehidupan. Membaca buku ini diibaratkan seperti halnya sedang menikmati stoples permen beraneka rasa.

33 renungan jiwa dalam buku Toples Aksara antara lain berisi renungan tentang arti bahagia, indahnya berbagi, percaya pada kekuatan mimpi, berani keluar dari zona nyaman, hidup bermanfaat, belajar dari para juara, life must go on dan lain-lain.

Buku dengan ketebalan 80 halaman ini menyajikan gaya bahasa psikologi yang ringan dibaca. Selain itu juga menceritakan beberapa kisah dari sudut pandang penulis, sehingga para pembaca tidak perlu merasa terlampau digurui. Seperti dalam bab Belajar dari Anak Kecil yang menceritakan perenungan seorang Roma Pakpahan saat ternyata kita bisa belajar tentang hidup dari mana saja, termasuk dari anak kecil di sekeliling kita. Bab ini sangat berhubungan dengan kehidupan sehari-hari saya yang juga merupakan ibu dari satu orang putri. Bagi saya, latar belakang Mbak Roma yang pernah menjadi seorang guru Taman Kanak-kanak turut memperkaya 'rasa kehidupan' yang ditawarkan dalam buku Toples Aksara, 33 Permen Renungan bagi Jiwa.


Hanya saja, karena buku ini merupakan buku indie maka bisa jadi kita tidak menemuinya di toko buku yang biasa kita kunjungi dan harus memesan via online ke penerbit Stiletto Book.

Saya bersyukur bisa mendapatkan Toples Aksara dan berjabat tangan langsung dengan penulisnya yang merupakan teman saya sendiri. Selamat mewujudkan mimpi-mimpi lain Mbak Roma. Semoga sukses di buku-buku solo berikutnya :)

Saturday, February 3, 2018

Cara Membuat Sambal Terasi Mentah Rasa Pedas Manis

February 03, 2018 4 Comments

Sebagai orang jawa yang sudah sejak kecil keliling sumatera lalu menetap di Lampung, lidah jawa saya memang hampir-hampir tidak ada. Sejak dulu tidak terlalu suka yang manis-manis. Saat anak kecil lain nangis minta dibelikan permen, saya menangis minta dibelikan tahu bunting pakai rawit! LOL XD

Ditambah lagi, Mamah saya pun sama, bukan penyuka makanan manis. Masakan rumahan hampir selalu pedas gurih dan cemilan favorit kami jaman kecil dulu bukan bolu, melainkan tekwan, pempek dan bakso. Jarang buat kue, kecuali lebaran, baru dehh bikin nastar dan lapis legit, hehehe.

Sejak bersuamikan sesosok pria yang sedari kecil tinggal di Yogyakarta, sekarang saya mulai suka yang manis-manis, meski tetap membatasi konsumsi gula. Suami saya ini lidah manisnya masih mendarah daging, meskipun lidah pedasnya lebih kebal daripada saya. Penyuka sambal gila-gilaan deh. Sambal belum dibilang sambal kalau hanya menggunakan cabai merah biasa. Harus cabai caplak alias rawit setan alias cabai bandung, sebutlah begitu. Perpaduan lidah manis pedas inilah yang membuat saya putar otak untuk membuat resep sambal mentah yang sedikit berbeda.

Baca :


Cabai caplak dan tomat, bahan utama untuk membuat sambal terasi

Alhamdulillah saat mbak saya, Mbak Pipit, pulang ke Lampung kemarin, saya diberikan resep sambal terasi yang rasanya pedas manis mantap. Kalau saya bilang, sebenarnya dari bahan sambal yang digunakan, resep sambal terasi mentah ini lebih layak disebut sebagai resep sambal tomat. Dominan tomatnya sih :D

Cara membuat sambal ulek ini sama saja dengan sambal terasi rampai yang biasanya saya buat. Hanya berbeda di penggunaan tomat dan takaran gula yang sedikit lebih banyak. Yuk, bikin sambalnya!

Resep Sambal Terasi Mentah Rasa Pedas Manis

Bahan yang digunakan:
26 buah cabai caplak/rawit setan/cabai bandung
2 buah tomat besar
2 keping terasi bakar (saya pakai merk ABC)
4 sdm gula pasir
1/2 sdt garam
Seujung sdt vetsin

Cara membuat:
Cuci bersih cabai dan tomat, keringkan dengan menggunakan tisu
Bakar 2 keping terasi di api kompor, bolak-balik. Angkat setelah berwarna agak kehitaman dan mengeluarkan bau
Masukkan terasi bakar, cabai, tomat besar yang sudah dipotong-potong, gula, garam dan vetsin ke dalam cobek
Ulek bahan-bahan tersebut
Aduk dan koreksi rasa, garam bisa ditambahkan sesuai selera

cara membuat sambal terasi mentah
Sambal terasi mentah rasa pedas manis, mantap!

Nahhh.. sambal terasi sudah jadi! Penyuka pedas manis wajib coba deh :D Tinggal siapkan lauk beserta lalapan lengkap. Btw, nasinya jangan lupa dimasak loh ya! Hahaha.




Tuesday, January 30, 2018

Dear Para Suami, Beri Waktu bagi Ibu Rumah Tangga untuk Me Time Tanpa Anak

January 30, 2018 12 Comments
Me time bagi saya saat usia Rania masih di bawah dua tahun itu tidak muluk-muluk, yaitu 'sekedar' menghirup udara segar dan mencari suasana baru di luar rumah. Jalan-jalan di sekitar kompleks, cuci mata ke toko buku atau pergi membeli bakso favorit, meskipun saat itu saya harus tetap membawa Rania kemanapun saya pergi, karena Rania masih ASI. Sesederhana itu arti me time untuk ibu menyusui. Itu aja udah bahagia banget loh, hehehe..

Teorinya sih bisa ya me time saat anak tidur siang. Tapi pikiran saya seringkali kembali tertuju pada tumpukan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Maklum lah, saya seorang stay at home mom tanpa asisten rumah tangga (ART). Me time di malam hari setelah anak tertidur juga sudah sering saya niatkan, tapi nyatanya saya justru ikut tertidur setelah menyusui. Dan bagaimana pula caranya me time jalan-jalan ke suatu tempat sendirian, sementara saya nyumput di balik tembok saja Rania langsung menjerit histeris, takut kehilangan :'D hahaha. Jadilah me time saya lebih banyak dilakukan sekaligus family time. 

Lama kelamaan saya mulai menyadari bahwa sebagai ibu rumah tangga, saya juga butuh waktu untuk betul-betul sendirian dan menikmati suasana baru. 24 jam sehari, 7 hari seminggu berkutat dengan kegiatan kerumahtanggaan dan mengasuh anak di rumah tanpa bantuan orang lain, membuat ibu-ibu macam saya ini rentan terkena stres.

MOM = Master of Multitasking (pic from: freepik.com)


Ibu Butuh Me Time

Tak jarang, para ibu rumah tangga itu segan loh saat meminta waktu untuk me time. Iya apa iya? xixixi. Bahkan saat kami saling curhat, beberapa teman seringkali merasa perlu diyakinkan kembali akan pentingnya me time untuk ibu ini. "Kita kan cuma di rumah, terus nanti pas ditanya stres kenapa? bosan kenapa? bingung juga jawabnya. Tapi ya rasanya suntuk aja. Yang begitu, perlu me time juga?"

Jenuh terus menerus dengan pekerjaan sehari-hari yang tidak ada habisnya merupakan salah satu pertanda bahwa para ibu butuh me time. Kebutuhan me time yang tidak tersalurkan ini lama kelamaan bisa menjadi 'bom' yang dapat meledak sewaktu-waktu. Wujudnya bisa macam-macam, mulai dari melampiaskan marah pada anak, menyesali pernikahan karena merasa kehilangan diri sendiri atau justru ngomel-ngomel gak jelas ke suami, kayak saya hahaha.

Baca : Resensi Buku Parenting: Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Kalau sudah begini, idealnya sih tanpa diminta, suami harus mengerti sinyal-sinyal bahwa istrinya butuh me time. Sayangnya para pria bukan cenayang. Jadi seringkali, kita para istri yang kudu rajin mengkomunikasikan kebutuhan me time ini dengan baik, bicara dari hati ke hati dan tidak perlu segan.


Me Time Ala Ibu Rumah Tangga

Berapa lama waktu yang ideal untuk me time? Tidak ada batasan, bisa sebentar, bisa juga lama. Yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai mengabaikan hak suami dan anak.

Lalu kalau sudah dapat 'izin' me time, kita bisa ngapain aja nih? Banyak. Beri waktu 'bernapas' bagi diri sendiri dengan melakukan aktivitas atau hobi yang kita sukai. Paling dekat, bisa dimulai dengan hal-hal sederhana yang sudah menjadi barang mewah bagi seorang ibu rumah tangga, misalnya: mandi tenang dengan pintu kamar mandi yang tertutup sempurna tanpa rengekan si kecil yang pengen ikut masuk ke dalam. Prestisius kan ini? :D Atau makan dua mangkuk mie ayam dengan kuah yang panas tanpa perlu ritual menyuapi anak sebelumnya. Duh, nikmatnya. Bisa juga memberi waktu bagi diri sendiri untuk berbelanja dengan tenang. Belanja yang betul-betul belanja, tanpa perlu menggendong atau tengok kanan kiri mengawasi anak. Jenis me time yang lain bisa kita sesuaikan dengan waktu yang dimiliki dan juga dana yang tersedia.



Saya sendiri, sejak Rania lepas ASI di usia 2 tahun 3 bulan, mulai memberanikan diri untuk memiliki waktu me time. Pertama kalinya saya memiliki momen sendiri tanpa anak itu adalah ketika saya mengikuti seminar kesehatan yang diadakan oleh AIMI Lampung.

Baca :
SelebrASI 2 Tahun AIMI Lampung: Seminar Kesehatan Bersama dr. Wiyarni Pambudi dan dr. Tan Shot Yen (Bagian Pertama)
SelebrASI 2 Tahun AIMI Lampung (Bagian Kedua), dr. Tan Shot Yen: Jangan Jadi Ibu Micin Pencetak Generasi Micin

Sejak saat itu, setiap kali saya meminta waktu me time, Rania pasti bilang, "Bunda mau seminar ya?" Hehehe. Rupanya Rania juga masih ingat momen pertama kali saat dia harus saya tinggal hanya berdua dengan si Ayah :D

Begitu pula saat saya mengikuti kegiatan gathering di komunitas Tapis Blogger minggu lalu. Rania 'ngeh' nya saya mau seminar. Jadilah Rania dan Ayah jalan-jalan ke Trans Studio Mini sementara saya 'seminar', hehehe.

Baca: Main di Trans Studio Mini Transmart Lampung, Mahal Gak Sih?

Beruntunglah ibu-ibu zaman now, karena teknologi bisa dengan mudahnya mempertemukan kita dengan berbagai komunitas yang memiliki kesamaan hobi.


Saya dan teman-teman komunitas di acara Tapis Blogger Gathering 2


Me time di acara Tapis Blogger Gathering 2 kemarin mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Karena selain bisa bertemu dengan banyak teman dan menambah ilmu, hari itu para peserta juga diizinkan untuk mencoba berbagai macam kain tapis khas Lampung yang sudah didesain menjadi beragam fashion cantik oleh Thasya Busana. Mata ibu-ibu mana yang tidak menyala-nyala saat disuruh mencoba baju? :D


Thasya Busana, Ethnic Syar'i

Rumah tangga itu ibarat workshop. Papa work, mama shop. Pernah dengar quotes ngasal ini kan? Hehe. Mungkin memang sudah kodratnya wanita untuk menyukai kegiatan berbelanja. Saya juga gak nolak deh kalau dapat kesempatan me time cuci mata seperti ini.

Saya saat memilih gamis

Yang menjadi khas pada berbagai produk yang dihasilkan oleh Thasya Busana adalah tapis yang ditenun langsung pada bahan yang akan digunakan, bukan sekedar kain tapis tempelan.



Saat ini Thasya Busana telah memproduksi berbagai macam gamis, outer, jilbab,  tas, kemeja, dan baju anak yang semuanya dihiasi dengan tenun tapis khas Lampung. Dalam waktu dekat, Thasya Busana juga berencana untuk membuat sarung, yakni sarung lilit. Semua produk yang dihasilkan oleh Thasya Busana menonjolkan karakter si pemakai yang berakhlak dan berwibawa.


Jilbab dan gamis yang dihiasi tenun tapis

Tas motif kain tapis!

Kemeja pria motif tenun gisting

Tenun tapis yang diaplikasikan pada baju anak

Desain produk lain bisa juga dibuat berdasarkan permintaan pelanggan. Harga yang ditawarkan tentu disesuaikan dengan bahan yang digunakan. Pelanggan bisa mendapatkan potongan diskon sekitar 10-15% untuk pembelian langsung.

Thasya Busana
Alamat: Jalan Purnawirawan 9 No. 30, Kelurahan Gunung Terang, Bandar Lampung
Facebook : Thasya Busana
Instagram : @thasya_busana
WA : 081369704950


Manfaat Me Time

Sepulangnya dari me time di acara gathering Tapis Blogger kemarin, saya merasa lebih fresh dan siap untuk kembali bertemu dengan anak dan suami. Para suami perlu memahami bahwa pentingnya me time untuk ibu rumah tangga ini bukan sekedar akal-akalan ibu untuk meninggalkan kewajiban. Justru dengan memberikan waktu me time tanpa anak, ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan tidak hanya oleh ibu, tapi juga untuk ayah dan anak, antara lain:

Menenangkan Pikiran
Happy mom, raise a happy family. Ibu yang senantiasa memiliki pikiran positif, akan menularkan aura positif tersebut pada seisi rumah. Jadi kalau akhir-akhir ini kesabaran kita mulai menipis pada anak, mungkin selain mendekatkan diri pada Sang Pencipta, kita juga butuh me time sejenak untuk menstabilkan emosi. Memikirkan hal-hal menyenangkan di luar tanggung jawab sehari-hari dapat menenangkan pikiran dan meningkatkan mood.

Mengembalikan Energi Tubuh
Sepakat kan kalau mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mendampingi aktivitas anak itu banyak membakar kalori? Me time bisa membuat tubuh kita beristirahat sejenak, untuk kemudian lebih siap menghadapi aktivitas.

Memberikan Penghargaan pada Diri Sendiri
Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan menyenangkan atau hobi di luar rutinitas harian merupakan semacam reward bagi seorang ibu rumah tangga. Hal ini mampu meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak perlu merasa bersalah. Memiliki waktu me time bukan berarti egois, melainkan memberi jeda agar ibu tidak merasa kehilangan waktu pribadi setelah berkeluarga. Mom, you are worth to get a little me time! or a lot!


Pic from: lovethispic.com

Meningkatkan Bonding antara Ayah dan Anak

Saya dan Rania itu lengket tak terpisahkan :D Tak jarang meskipun ada Ayah, Rania tetap memilih bermain dengan saya. Nah, di waktu me time inilah, suami berkesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Rania. Sekaligus merasakan 'ujian kesabaran' yang sesungguhnya, hahaha.

Teruntuk para suami, jangan pernah merasa rugi untuk memberikan waktu me time tanpa anak pada ibu rumah tangga. Manfaatnya sudah saya jembreng di atas yah. Pun para ahli psikologi juga menyarankan agar ibu tetap memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


Karena romantis itu adalah.. sesekali memberikan istri waktu untuk me time tanpa anak.

Special thanks untuk suami yang sudah berkenan memberikan waktu me time untuk saya. Bahagiaaa adek Mas.. #uhuk! Dan akan lebih bahagia lagi kalau sekalian dibeliin gamis tapis lengkap dengan jilbabnya dari Thasya Busana XD

***

Tulisan ini merupakan tugas dari Kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam.

Friday, January 26, 2018

Resep Combro Enak, Simpel, Pedas, Ginuk Ginuk

January 26, 2018 0 Comments
Suka bingung ya mau bikin cemilan apa kalau rumah kita ketempatan untuk acara tertentu. Kayak si Mamah, tiap jelang hari Kamis mulai deh puter otak buka-buka buku resep, kira-kira minggu ini mau bikin cemilan apa. Jadi ceritanya, rumah Mamah itu jadi basecamp abadi ibu-ibu pengajian selama musholla dalam proses renovasi. Berhubung masih kagok pake google, Mamah justru lebih nyaman bolak-balik buku resep. "Septi, minggu depan buat apa kita? Yang enak tapi murah meriah." WOW sungguh pertanyaan yang sulit, sebelum akhirnya saya bertemu dengan resep combro yang enak, simpel, pedas dan ginuk ginuk ini *persis iklan shampoo anti ketombe LOL*

Combro enak, simpel, pedas dan ginuk ginuk
Combro adalah salah satu jenis panganan populer nusantara yang berasal dari Jawa Barat. Saat ini sudah banyak yang mulai membuat variasi rasa supaya combro jadi lebih menarik dan naik kelas. Meskipun begitu, rasa combro yang original tetap jadi favorit banyak orang. Rasanya otentik, sesuai dengan arti kata combro yang konon berasal dari bahasa sunda yaitu "oncom di jero", maksudnya (isian) oncom di (bagian) dalam. Combro ini juga punya saudara, namanya misro "manis di jero" alias manis di dalam, yang isiannya terbuat dari gula merah. Mungkin kapan-kapan saya akan membuatnya, xixixi.


Resep Combro Enak, Simpel, Pedas, Ginuk Ginuk
(sumber: Buku resep Kue-Kue Indonesia)

Bahan:
500 gr ubi kayu/singkong, parut
1/2 sdt garam

Singkong yang sudah diparut dan dicampur garam

Isi:
200 gr oncom, cuci, haluskan
1 batang seledri, iris halus

Bumbu yang Dihaluskan:
2 siung bawang putih
4 bh bawang merah
2 bh cabai merah
4 bh cabai rawit
garam dan gula sesuai selera

Cara Membuat:
  1. Untuk isian: Tumis bumbu halus sampai harum, masukkan oncom, aduk, beri air lebih kurang 100 ml. Masak sampai matang dan air habis, beri seledri, aduk sampai layu. Angkat dan dinginkan.
  2. Di tempat lain, campur segera singkong parut dan garam agar tidak berair. Pipihkan, isikan 1 sdt oncom tumis, tutup dan rapikan kembali.
  3. Dengan api sedang, goreng hingga matang dan kecoklatan. Hidangkan selagi hangat.
Catatan:
  • Bila ubi kayu berair banyak, tambahkan 1-2 sdm tepung kanji supaya adonan dapat dibentuk
  • Satu resep ini menghasilkan sekitar 10-15 buah combro
Bahan isian yang sudah ditumis

Combro!

Awalnya, Mamah mau memarut singkong secara manual, sampai pinjem parutan kelapa punya tetangga. Baru parutan pertama, tangan sudah hampir luka. Saat itulah Papah teringat kalau di pasar Perumahan Korpri ini ada warung yang menerima parutan singkong. Cukup dengan Rp 3.000 rupiah saja, singkong sebanyak 2 kilo lebih itu siap untuk diolah. Gak berair banyak sih, jadi kami tidak menambahkan tepung kanji sama sekali.

Nah, begini nih cara memasukkan adonan oncom ke dalam parutan singkong. Bentuk pipih lonjong sehingga terlihat ginuk ginuk menggemaskan. Nyam nyam!

Oncom ginuk ginuk berawal dari sini

Untuk isian, jika ingin lebih pedas, bisa ditambahkan jumlah cabainya. Saya sendiri menggunakan jenis cabai rawit setan. Saat penyajian pun, saya tetap menyediakan cabai rawit burung, yang kecil-kecil itu, untuk menambah level kepedasan :D 

Dalam resep ini, parutan singkong tidak perlu diperas. Dan rupanya rasa combro sangat bergantung pada pemilihan singkong yang bagus. Dua kali saya dan Mamah membuat combro dengan hasil yang berbeda. Hasil combro perdana buatan kami rasanya agak pahit, nah yang kedua ini baru wuenakk, kenyil-kenyil seperti cireng dan gak pahit. Secara kebetulan, Mamah bertemu dengan pedagang singkong yang sering jadi langganan banyak tukang getuk di Pasar Pembangunan. Jadilah beli singkong disitu, dipilihkan dengan si ibu pedagang dan pilihannya sungguh tepat, karena dengan adonan yang sama, kami bisa menghasilkan combro yang lebih enak.

Berikut tips memilih singkong yang enak, saya kutip dari website Bogasari:
➣ Jika dipotong, singkong masih basah dan sangat mudah retak atau dipatahkan.
  • ➣ Kupas atau cungkil kulit umbi singkong dengan kuku. Kulit yang kekuningan (mentega) atau kecoklatan atau kemerah-merahan umumnya lebih baik dari pada yang berwarna putih.
  • ➣ Patahkan sedikit ujungnya. Bila ada bagian yang membiru sebaiknya jangan dipilih. Noda biru atau hitam menandakan bahwa singkong telah lama disimpan. Singkong yang telah lama disimpan memang cenderung mengeluarkan noda biru atau hitam yang diakibatkan enzim poliphenolase yang bersifat racun.
  • ➣ Jika memilih singkong pada suatu tumpukan dan menemukan singkong yang tidak baik, maka hindarkan memilih singkong pada tumpukan tersebut karena biasanya satu tumpukan singkong sifatnya sama. Satu bantat yang lain juga bantat.
  • ➣ Perhatikan tanah yang menempel di kulit umbi. Tanah yang masih liat, belum kering, menandakan singkong baru dicabut, dan paling ideal untuk diolah.
  • ➣ Cuci singkong supaya bersih. Apabila belum diolah, rendam singkong terlebih dahulu agar warnanya tidak berubah.

  • So first thing first, carilah singkong yang enak dan kemudian yuk eksekusi resep combro enak, simpel, pedas dan ginuk ginuk inih. Salam gorengan!

    Friday, January 19, 2018

    Resensi Buku Parenting : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

    January 19, 2018 7 Comments
    Jelang usia 3 tahun, Rania mulai menunjukkan beberapa perilaku ‘ajaib’ yang seringkali membuat saya (pengen koprol) istighfar. Kemampuan komunikasinya yang berkembang pesat membuat dia mulai melakukan praktik negosiasi dalam banyak hal, contoh sederhananya mandi. Total waktu yang saya gunakan saat merayu Rania mandi: 30 menit, total waktu mandi: 5 menit, drama masih mau main busa dan gak mau bilas: 10 menit. Jadi intinya waktu yang dihabiskan untuk bujuk rayu itu gak seimbang dengan waktu yang dihabiskan untuk mandi itu sendiri, hahah. Sungguh drama ibu muda beranak satu. LOL.

    Baca : Sabar Mak.. This Too Shall Pass (1)

    Rania juga lagi hobi banget bilang “stop!” saat saya atau suami sedang menasehati. Yang gak kalah ‘nggemesin’ adalah ketika Rania minta sesuatu, istilah suami saya harus sak dheg, sak nyet, saat ini juga pokoknya. Fiuhhh. Gak jarang perilaku ini membuat saya ikut-ikutan emosi atau malah tantrum ke suami.

    Kalau digambarkan dengan diagram kira-kira begini:
    Rania marah ke Bunda → Bunda kesel lalu melampiaskan marah ke Ayah → Ayah bingung cari pelampiasan
    atau
    Bunda nasehatin Rania → Rania bete tapi tetep dengerin. Pas Ayah ikut nasehatin, Rania langsung bilang “stop!” marah sama Ayah lalu nangis → Ayah putus asa

    Jadi intinya? wanita selalu benar! Hahaha. Dan orang yang sebenarnya paling patut dikasihani di rumah ini karena  selalu jadi pelampiasan kekesalan kami adalah si Ayah :'D

    Level ‘marah’ nya saya itu paling parah saat sudah mulai ngomong dengan nada yang cenderung membentak dan otomatis mata membesar. Ngomel panjang atau malah sekalian ngambek, mogok bicara, mogok main. Setiap kali saya marah model begini, Rania seperti otomatis juga menunjukkan emosi yang gak kalah negatif. Saya sadar something should be wrong dan mulai membuka kembali buku parenting yang pernah saya beli saat usia Rania masih sekitar satu tahunan, pas masih 'manis-manis' nya deh umur segitu mah :D

    Baca : Lambang Sari, Si Manis Gurih Pemikat Hati

    Buku parenting islami: Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

    Identitas Buku

    Judul Buku : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak
    Penulis : Bunda Wening
    Penerbit : Tinta Medina
    Ketebalan Buku : XX+108 halaman

    Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta nasihat beliau. Orang itu berkata, “Berilah wasiat (nasihat) kepadaku.” Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau marah.” Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR Bukhari dan Abu Hurairah r.a.)

    Psikolog bernama R. Plutchik, mengungkapkan bahwa ada empat emosi dasar dalam diri manusia, yaitu kegembiraan (joy), ketakutan (fear), kesedihan (sadness) dan kemarahan (anger). Sedangkan menurut Paul Ekman, salah seorang peneliti emosi terkemuka, manusia memiliki enam emosi dasar, yaitu takut (fear), marah (anger), sedih (sadness), bahagia (happiness), jijik (disgust) dan terkejut (surprise). Buku Marah yang Bijak ini fokus untuk membahas salah satu emosi dasar tersebut, yaitu emosi marah dari sisi parenting islami.

    Emosi marah merupakan salah satu fitrah manusia. Bahkan, seorang Rasul pun sebagai pribadi yang mulia pernah marah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR Muslim). Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa marah merupakan suatu sikap, bukan perilaku. Ada perbedaan antara marah saja dan marah ‘tanpa kendali’ yang memberikan dampak buruk.

    Marah tanpa kendali menunjukkan rendahnya kemampuan problem solving.

    Buku ini memberikan orang tua Form Assesment sebagai alat untuk refleksi diri. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam assessment tersebut antara lain: Seberapa sering marah kepada anak dalam sehari? Siapa yang lebih sering melakukannya? Ayah atau Ibu? Biasanya marah jika? dan lain sebagainya. Tujuan dari assessment ini adalah agar orang tua dapat melakukan evaluasi terhadap cara penanganan anak selama ini. Apakah marah yang dilakukan sudah efektif atau justru tidak berhasil karena hasilnya tidak sesuai dengan tujuan marah itu sendiri.

    Jika marah tidak membuat perubahan yang lebih baik bagi anak, lalu mengapa marah masih dipakai sebagai strategi penanganan dalam pengasuhan?

    Sebuah pepatah mengatakan, “Jika selalu ada alasan untuk marah, berarti juga selalu ada alasan untuk tidak marah.” Orang tua diminta untuk mencari hal-hal apa sajakah yang biasanya menjadi pemicu kemarahan pada anak. Apakah karena lelah fisik dan mental, panik saat menghadapi sikap anak, tidak siap dengan perbedaan atau justru menggunakan standar orang tua untuk anak.

    Ketika orang tua menganggap MARAH tanpa kendali adalah wujud kasih sayang kepada anak, kelak anak pun akan belajar menyayangi dengan KEMARAHAN.

    Islam jelas menganjurkan untuk sedapat mungkin mengendalikan amarah karena hal ini akan berdampak secara fisiologis dan psikologis di kemudian hari. Anak bisa saja meniru perilaku marah tersebut, menjadi pemurung dan tidak ceria, cenderung menutup diri, kurang berani mengambil keputusan penting dalam hidup bahkan menjadi seorang pemberontak. Marah pun memiliki dampak buruk bagi si pelaku itu sendiri.

    Buku Marah yang Bijak ini juga memaparkan tentang beberapa teknik pengendalian marah. Marah adalah sebuah sikap, marah adalah sebuah bentuk komunikasi, marah adalah fitrah, marah itu boleh dan marah dapat membuat tubuh sehat. Namun marah tidak harus terwujud dalam bentuk perilaku mata melotot, berkata kasar, mencubit, memukul dan semisalnya. Marah dapat terwujud dalam bentuk lain.

    Yang saya sukai dari buku ini adalah satu bab yang membahas khusus soal contoh kasus dan penanganannya. Bahkan saat pertama kali membaca, bab terakhir inilah yang justru paling pertama saya buka. Aplikatif soalnya, hehe. Pernah kan menghadapi anak tantrum di tempat umum? Saya ingat betul waktu Rania nangis ala ala Waljinah dengan suara tangis yang melengking pake banget. Kek nya memang udah doi setting sedemikian rupa sehingga menarik perhatian hampir seluruh orang yang ada di sekitar situ. Saat itu rasanya satu supermarket tau kalau Rania minta es krim dan gak saya izinkan. Wajah saya hangat dan kuping memanas mendengarnya, fiuhh :D


    Rania, 2 tahun 8 bulan, saat bibir mecucu

    Menurut buku Marah yang Bijak, ada dua hal yang dapat dilakukan saat menghadapi perilaku semacam ini, yaitu pencegahan (preventif) dan penanganan (kuratif). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk kesepakatan. Jadi, saat akan pergi kemana pun, sebisa mungkin dilakukan kesepakatan dengan anak terhadap apa yang akan dilakukan disana, terutama ketika hendak membeli sesuatu.

    Misal saat akan ke warung bersama anak, jelaskan bahwa disana nanti ibu akan membeli sabun, odol dan sikat gigi. Tawarkan apakah anak juga ingin membeli sesuatu, buat kesepakatan apa barangnya dan berapa jumlahnya. Contoh: dua buah permen cokelat. Ketika sampai di warung, ada kemungkinan anak meminta lebih dari kesepakatan. Tugas ibu adalah mengingatkan tentang kesepakatan yang sebelumnya sudah dibuat dengan suara yang sedang dan ekspresi hangat, posisi tubuh agak merendah, lalu tenangkan. Jika si anak masih menangis, temani di sampingnya, sambil sesekali ucapkan bahwa ibu akan menunggu sampai si anak tenang. Konsisten sampai emosinya mereda. Jika sudah tenang, beri pelukan dan ciuman, lalu gandeng tangannya untuk diajak pulang bersama. Sepanjang perjalanan pulang tidak perlu menasehati atau berkomentar atas perilakunya tadi. Ajak bicara dengan hal-hal menyenangkan yang ditemui di jalan.

    Salah satu tip keberhasilan pengasuhan anak adalah konsistensi. Dalam mendidik anak, harus ada kombinasi yang cantik antara kelembutan dan ketegasan, lembut dalam menyampaikan dan tegas dalam kesepakatan.

    Buku yang tebalnya hanya 101 halaman ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Bagian favorit saya selain quotes dari Bunda Wening, yaitu bab contoh kasus, karena sangat aplikatif. Saya bahkan berharap agar contoh kasus dalam buku ini bisa lebih diperbanyak. Untuk buku dengan harga yang tak sampai Rp 50.000, Marah yang Bijak ini layak dijadikan sebagai salah satu buku pegangan pengasuhan anak (parenting) untuk para orang tua.

    Bu ibu pak bapak, jomblowan jomblowati, selamat berburu Marah yang Bijak di toko buku online ya!