Friday, August 17, 2018

Breastfeeding 911 : Sukses Memberi ASI dalam Berbagai Kondisi

August 17, 2018 1 Comments
[a very long post, mending sediain cemilan dulu deh.]

Parenting Blogger Indonesia


Tiap mendengar kata-kata menyusui, pikiran saya seringkali otomatis flashback ke masa-masa awal menyusui Rania, tiga setengah tahun yang lalu. Alhamdulillah direct breastfeeding hampir gak ada masalah, tapi soal ASI perah, huhuhu, saya bahkan belum 'ngeh' merk pompa ASI mana yang cukup nyaman untuk memerah, padahal harus sudah kembali masuk kantor. Ckckck.


Seneng banget melihat beberapa tahun terakhir makin banyak komunitas, organisasi ataupun perusahaan yang mengadakan sharing tentang seluk beluk menyusui. Saya selalu dukung sratus persen acara-acara semacam ini karena menyusui punya peran penting di 1000 hari pertama kehidupan anak. Dengan akses informasi yang semakin mudah, semoga semakin banyak juga ibu-ibu yang berhasil memberikan ASI. Itulah kenapa saat tau ada acara Breastfeeding 911 yang diadakan oleh majalah Ayah Bunda dan Pigeon di Lampung, saya langsung mupeng banget pengen ikut. Ditambah lagi pematerinya dongg, dr.Tiwi ! Buibu yang hobi baca soal parenting di instagram pasti udah akrab sama nama dokter anak feverit para arteis ini :D


Pagi itu, Sabtu, 11 Agustus 2018, saya udah berusaha banget dateng ke Novotel sebelum jam setengah 10 teng demi dapet hadiah dari majalah Ayah Bunda *usaha bgt sist* Tapi sayangnya, udahlah berangkat nge-pas waktu, eh di jalan ada insiden suamik hampir nyenggol motor. Jadi gagal dateng in time. Kusyedih, namun yasudalaaaa~ Sesampainya di ballroom tempat acara berlangsung, saya dan teman-teman eksis blogger, langsung sigap foto-foto sebelum acara dimulai. Buat update status ya kaaannn, wk.

Foto komplit bareng manteman Tapis Blogger :D

Jumpa Pakar Breastfeeding 911 dimoderatori oleh Arif Tirtosudiro, seorang MC yang sukses bikin saya termotipasi untuk olahraga dan beli krim anti aging. Gimana nggak, anak gadisnya udah usia 15 tahun tapi tampilan masih seger bgt *huhu, cry* Selanjutnya acara dibuka oleh Mbak Gracia Danarti, selaku redaktur pelaksana majalah Ayah Bunda. Turut hadir pula bu wali, Eva Dwiana Herman HN yang sangat mengapresiasi kegiatan positif semacam ini. Bahkan di akhir sambutannya, Bu Eva sempet nyanyi dangdut yang intinya dukung ASI loh. Saya lupa liriknya, tapi lucuk sih, kreatif, xixixi.

Ibu Eva Dwiana Herman HN saat membuka acara Breastfeeding 911 di Hotel Novotel, Lampung
 
dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS : "ASI diciptakan sangat spesies spesifik"

Materi pertama disampaikan oleh dr. I.G.A.N Partiwi, SpA, MARS atau yang lebih dikenal dengan sapaan dr. Tiwi. Biasa cuma liat di instagram, liat langsung gini beda bgt euy. Dokternya cancik, mungil, cucok, hahaha. dr. Tiwi membuka presentasi hari itu dengan menekankan bahwa ASI diciptakan dengan sangat spesifik. Sama seperti air susu mamalia lain yang juga spesifik untuk spesies keturunannya. Kebayang kan, kalau bayi manusia langsung diberi susu sapi di awal kehidupannya? Pasti akan ada sesuatu yang missed (hilang) dan tidak sempurna.
Susu sapi untuk otot, ASI untuk otak.

dr. Tiwi saat menyampaikan materi
Perbedaan ASI dan susu sapi
Dilihat dari jumlah protein,  ASI memiliki jumlah yang lebih sedikit dibandingkan dengan susu sapi. Namun, kandungan laktosanya lebih tinggi. Laktosa merupakan salah satu komponen penting yang dibutuhkan untuk perkembangan otak. Jadi kasarnya, susu sapi tuh untuk otot, sedangkan ASI untuk otak. Anak belum mau kita jadiin Ade Rai sejak bayi kan? ckck. Kandungan protein yang lebih sedikit pada ASI sudah sangat sesuai dengan kebutuhan bayi karena lambung bayi yang baru lahir masih butuh proses penyempurnaan. Kelebihan protein justru akan membuat bayi rentan terkena alergi. Selain itu, lemak pada ASI mengandung DHA, AA dan lipase, sedangkan susu sapi hanya DHA dan AA saja. Saat usus belum sempurna, enzim lipase ini berfungsi membantu menyerap DHA untuk otak. Lha kalo gak ada kandungan enzim lipase nya? Coba dibikin kesimpulan sendiri, udah yaqin kan ASI yang terbaique?


Di masa awal menyusui, payudara akan mengeluarkan kolostrum. Jumlahnya hanya sedikit, sesuai dengan ukuran lambung bayi yang masih sangat kecil. Karena warnanya yang agak kekuningan, kolostrum sering dianggap sebagai susu basi yang harus dibuang. Padahal kolostrum memiliki banyak kandungan dan manfaat yang sangat penting. Saking pentingnya, bayi dengan kondisi tertentu yang belum bisa dirawat gabung dengan ibu karena adanya pemeriksaan lanjutan, tetap harus mendapatkan kolostrum dengan cara diperah dan diberikan melalui media spuit.




Kunci keberhasilan menyusui
Menyusui itu sebenarnya kemampuan natural. Jadi kita harus pede, insya Allah bisa menyusui eksklusif (tanpa tambahan apapun termasuk air putih) sampai usia anak 6 bulan dan dilanjut (dengan tambahan makanan pendamping ASI) sampai anak berusia 2 tahun atau lebih. Tapi selain pede, ada 3 hal yang bisa menjadi kunci keberhasilan menyusui. Yang pertama, edukasi antenatal. Kita harus banyak belajar soal pentingnya menyusui saat masih dalam masa kehamilan. Kenapa harus belajar? Karena sebagai ibu baru yang rasanya masih campur-campur, kaget iya, sakit iya, ngantuk dan capek iya, kalau gak banyak bekal ilmunya pasti akan gampang banget tergoda pake susu formula.

Yang kedua, Inisiasi Menyusu Dini. Menyusu ya, bukan menyusui. Jadi bayi yang diletakkan di dada ibu dan biarkan ia mencari sendiri puting ibunya. Bukan ibu yang menyodorkan puting untuk dihisap. Kalau kondisi ibu belum memungkinkan untuk IMD, bisa digantikan dengan ayah. KAGET GAK??? Seriusan inih bapak-bapak boleh nge-IMD-in anak jugak? Qiqiqiqq. Hari itu kami ditunjukkan video suami dari Olla Ramlan (tau kan yaa, Aufar Hutapea XD ) yang sedang meng-IMD-kan anaknya. Tujuan utama dari IMD ini salah satunya adalah merangsang refleks primitif pada bayi. Jadi boleh digantikan tugasnya oleh ayah. Tapi kalo kondisi ibunya memungkinkan jangan dikasihin ayah yaaaa. Nenen bapak-bapak kan gak ada kolostrumnyaa, wqwq. Pengalaman IMD bagi saya tiga setengah tahun yang lalu itu emejing banget, menyenangkan dan membuat ASI jadi lancar. Kita harus proaktif sama RS dan tenaga kesehatan yang menangani proses persalinan untuk meminta waktu buat IMD, minimal 60 menit. Mana tau mereka lupa ye kaan, meskipun ada poster IMD segede gaban di ruang persalinan.

Baca : Selebrasi 2 Tahun AIMI Lampung : Seminar Kesehatan bersama dr. Wiyarni Pambudi dan dr. Tan Shot Yen

Yang ketiga, posisi dan pelekatan. Harus sabar dan pelan-pelan belajar supaya posisi dan pelekatannya pas biar gak ada drama-drama lecet di awal menyusui. 

Nonton video IMD bayi baru lahir


Selain memberikan nutrisi terbaik dan kekebalan tubuh, menyusui juga merupakan proses stimulasi dan saat-saat kita membangun kelekatan dengan anak. dr. Tiwi berpesan agar buibu banyakin belajar saat masa-masa kehamilan. Kalo udah tiba waktunya menyusui, ya menyusui aja, jangan sambil nonton IG TV! ohkutersindir pemirsa yang budiman, uhuhuu. Semua perempuan dengan berbagai bentuk payudara, bisa menyusui btw. Size doesn't matters. Bentuk puting juga ga penting, karena bayi nyusu di aerola, bukan di puting. Untuk keberhasilan menyusui minimal sampai 6 bulan, dr. Tiwi menyarankan agar tidak memberi dot sampai bayi berusia 6 minggu. Saat daya tahan ibu menurun dan sakit, tetap berikan ASI. Karena saat itu ASI justru membentuk antibodi yang memberi perlindungan pada bayi. Sakit apapun boleh tetap menyusui, kecuali saat ibu menjalani kemoterapi atau mengidap penyakit HIV.

ASI eksklusif harus diiringi dengan evaluasi berat badan.

Presentasi dari dr. Tiwi hari itu ditutup dengan pesan bahwa ASI eksklusif harus diiringi dengan evaluasi berat badan. Ibu harus rutin mengecek kurva pertumbuhan. Kalaupun suatu saat memang dibutuhkan untuk menaikkan berat badan, gaess, susu formula itu bukan racun. Tapi harus konsul ke dokter dulu dan memang ada indikasi medisnya. Semoga anak kita sehat-sehat yaa. Jadi ga perlu sufor sampe usianya 2 tahun nanti, aamiin.

dr. tiwi
Selfie bareng dr. Tiwi. Posisi eik kurang strategis btw, xixiix



dr. Luh Karunia Wahyuni, Sp. KFR : Keterampilan  Oromotor untuk Fungsi Menyusu

Saat pertama kali mendengar nama dan penyebutan gelar dr. Luh, saya bingung sih. Baru kali ini tau kalau ada spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Kira-kira bakal ngomongin apa di acara Breastfeeding 911 ini?

dr. Luh saat ini merupakan Kepala Departemen Rehabilitasi Medik, FKUI-RSCM sekaligus pengajar disana. Gayanya menyampaikan materi pagi itu santai dan keibuan banget. Entah kenapa, tiap kata-kata yang keluar bikin saya pengen nangis! huhuhu. Berbeda gaya dengan dr. Tiwi yang semangat berapi-api, dr. Luh ini ibarat oase di tengah padang pasir ya gaes, adem ~ Sumvah saking terpananya, catetan saya sampek kosong. Dan saya nyesel banget gak ngerekam kata demi kata yang beliau ucapkan, penguatan banget soalnya, beneraannnnnnn. Uwuwuwuwww pengen mengulang momen ndengerin dr. Luh lagik  ~
Menyusui itu harus sakral.

Pesan dr. Luh, gunakanlah saat menyusu itu sebagai saat yang sakral. Pernah ngerasa bete gak sih menyusui anak pas awal-awal lahir? Jujur saya pernah banget. Begadangnya itu loh.. hik. Apalagi pas Rania baru lahir, posisi menyusuinya harus duduk kan. Jadi hampir tiap malem, begadang nyusuin lalu tertidur dalam posisi duduk, paginya pinggang panass pegel bgt, mata panda, kangen bobo nyenyak, huhu. "Kalau dalam 3 bulan pertama semua terasa menyakitkan, that's normal. Jangan putus asa." gitu kata dr. Luh. Pengen meluk banget yhaaa T.T

breastfeeding 911
Foto bareng dr. Luh

Dalam proses menyusu, bayi belajar banyak hal. Itulah kenapa menyusu itu merupakan stimulasi penting di awal kehidupan mereka. Jangan dikira kita doang yang lagi penyesuaian, bayi juga loh! di dalam rahim mereka adem ayem, makan tinggal nunggu pasokan aja dari plasenta. Tetiba lahir ke dunia, denger banyak suara, ngerasain dinginnya kehidupan *halah* dan kadang jauh dari musik yang akrab mereka dengar setiap hari saat di dalam rahim, yaitu detak jantung ibunya. Itulah kenapa bayi sering nangis kalo harus jauh. Pengennya digendong terus, deket-deket ibunya terus, maunya nenen aja. Karena selain laper, mereka juga butuh rasa nyaman. Dan itu cuma ada di pelukan si ibu melalui proses menyusui. CRY akuh CRY. Saya curiga dr. Luh ini kesehariannya pasti puitis banget, entahlah, huhuhu. Kalo dulu kamu termasuk yang pernah nyerah saat menyusui atau kesel sama bayi yang posisinya susah gak pas pas, udah pasti bakal nangis denger dr. Luh hari itu.

Menyusui jangan takut goyor-goyor, itu cuma otot. Exercise aja! nanti balik lagi.

Ini nyata ya. Memang ada buibu yang gak mau menyusui bayi karena takut bentuk payudaranya tak lagi indah. If only they knew that breastfeeding was not just feeding their babies.. kekhawatiran payudara kendor mah gak ada apa-apanya dibanding manfaat yang akan diterima anak sampai mereka dewasa nanti.

Saat bayi lahir, mulut berperan besar untuk mengatur sensori-integrasi dan perilaku neuromotor pada bayi. Mulut adalah pintu dunia bagi bayi. Bayi menjadikan kegiatan menyusu sebagai media untuk menumbuhkan kasih sayang, berkomunikasi, bersosialisasi dan relaksasi. Menyusu pada ibu adalah saat yang membahagiakan dan sangat berharga untuk masa depan anak.

Saat menyusui, ada 6 hal yang perlu diperhatikan:

1. Positioning
Posisi harus benar agar bayi dan ibu mendapatkan manfaat dari proses menyusui. "Ibu-ibu bapak-bapak coba kepalanya mendongak, tarik ke belakang. Bisa menelan? Susah ya. Begitu juga dengan bayi. Jadi posisikan bayi dengan benar sesaat sebelum proses menyusu. Leher dan tubuh berada dalam satu garis, biarkan bayi berada pada posisi alaminya, yaitu panggul menekuk." Saya langsung manggut-manggut dongg.. xixixi. Soalnya beberapa kali saya pernah lalai dan gak 'ngeh' saat posisi Rania terlalu mendongak. Itu berarti nelennya susah yaa, huhu maapkan mamakmu nakk.



Membedong bayi juga ada ilmunya lho. Jangan sampai terlalu kenceng, tegak lurus siap grak! selain karena posisi menekuk pada bayi baru lahir sangat penting untuk perkembangan, tangan yang dibungkus dalam kain bedong akan menghalangi bayi memasukkan tangan ke mulut yang merupakan gerakan alami bayi. Berikut adalah langkah-langkah membedong bayi yang saya kutip dari buklet "Membedong Bayi" yang ditulis oleh dr. Luh.
  • Tangan bayi diposisikan pada garis tengah tubuh dan dekat dengan mulut
  • Tungkai bawah ditekuk dengan perlahan menuju ke perut
  • Derajat tekuk berbeda pada setiap bayi tergantung pada kondisi medis dan toleransi terhadap suatu posisi
  • Selimut harus mudah dikendurkan dengan menendang atau gerakan-gerakan lain oleh bayi jika ia merasa terganggu selama dibedong
  • Untuk bayi yang berisiko tinggi yang tidak dapat dibedong, gunakan popok yang digulung untuk menyangga disekelilingnya kemudian selimuti yang diselipkan disisi bayi.

langkah-langkah membedong bayi
Pembedongan bayi yang optimal


2. Refleks rooting
Adalah kemampuan untuk menerima sentuhan pada pipi, bibir, gusi dan lidah yang merupakan prasyarat untuk menyusu. Jadi ada stimulasi yang sering kita lakukan gengs, tapi selama ini pastilah gak sadar dan gak 'ngeh' ternyata sepenting itu. Penasaran??? Itu loh, usap-usap jari telunjuk ke pipi bayi. Terus bayi bakalan nyari gitu kan, mau ngisep telunjuk kita karena dikira nenen, hihi. Itu artinya bayi merespon dan mempersiapkan diri untuk memulai menghisap payudara ibu, ini penting bgt ternyata. Oke fix anak kedua nanti sebelum nenen usap-usap pipi dulu, xixixi.

3. Menempel pada puting
Menempel sempurna pada puting ini berfungsi supaya payudara gak lecet. Percayalah, payudara lecet yang diisep bayi kelaparan itu sungguh perih! seperih ditinggal pas lagi sayang-sayangnya -.- Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
  • Postur ibu dan posisi bayi
  • Posisi awal dari hidung sejajar puting dan memiringkan kepala
  • Pergerakan bayi ke payudara ibu
  • Posisi hidung dan pipi
  • Menempel pada puting
Di sesi ini, dr. Tiwi menambahkan catatan untuk ibu dengan payudara besar agar menekan puting ke atas dengan dua jari tangan terlebih dahulu, lalu arahkan ke mulut anak. Jika anak masih sulit dan ibu pun masih belajar, perah ASI awal lalu tetap berikan dengan menggunakan spuit. Berbahagialah buibu dengan payudara kecil, karena kata dr. Tiwi itu akan lebih memudahkan bayi untuk menyusu. Kan gaes, percayalah Allah udah menciptakan dengan sebaik-baik bentuk XD

4. Mengisap
Ada dua karakteristik pengisapan, yaitu nutritive sucking (NS) dan non nutritive sucking (NNS). NS ini tujuannya mendapatkan nutrisi atau istilah kita-kitanya sih bayi memang beneran haus dan laper. Kalau NNS itu terjadi saat bayi cuma ngempeng doang. Tujuannya untuk eksplorasi oral, menumbuhkan rasa aman dan nyaman.


Proses mengisap pada bayi


5. Menelan
Yaitu gerak reflek lidah untuk mendorong cairan ke belakang.

6. Koordinasi antara pengisapan, menelan dan bernafas
Setelah materi dari dr. Luh, saya baru 'ngeh' kalo proses menyusui itu sebenarnya panjang ya. Harus ada koordinasi yang baik antara mengisap, menelan dan bernafas. Dan itu semua pelajaran yang bener-bener baru, bukan cuma buat kita, tapi utamanya buat anak kita. Iya, mereka bayi kecil itu belajar banyak hal dari proses menyusui. Puk-puk diri sendiri dan semua buibu pejuang ASI, sabar kita harus dibanyakin lagi. Emang gak mudah tapi bukan berarti gak bisa. Masya Allah, tabarakallah.

Buklet dr. Luh, saya beli 5 diantaranya, buat warisan ke anak cucu XD


Acara ditutup dengan pemberian doorprize bagi pemenang lomba caption instagram, penanya dan peserta dengan kostum terbaik. Gak lupa juga foto bareng-bareng, dilanjut makan siang dan pengambilan goodie bag dari Pigeon. Ahhh seru banget! Hari itu juga ada diskon pembelian untuk produk Pigeon, tapi saya belum ada yang perlu dibeli sih, hehehe. Overall puas banget! Thanks a bunch untuk Majalah Ayah Bunda dan Pigeon Baby Indonesia. Makin semangat nih #2019GantiStatus jadi ibu beranak dua, iya-in gak gaesss??? XD

Pemenang best caption instagram. Eciyee ada Mak Ajeng dari Komunitas Eping Lampung.

Best costume, foto bareng dr. Luh dan Mb Gracia Danarti


Ini yang mengajukan pertanyaan kalo ga salah, lupa euy :'D


Finally foto bareng-bareng! Yeayyyyy. Thanks a bunch Ayah Bunda dan Pigeon Baby Indonesia!




Saturday, August 4, 2018

Cerita Menyusui Rania Sampai Usia 2 Tahun 3 Bulan

August 04, 2018 0 Comments
Alhamdulillah masuk bulan Agustus nih buk-ibuk. Sudah tau belum, kalau setiap pekan pertama di bulan Agustus, mulai dari tanggal 1 sampai dengan tanggal 7 itu diperingati sebagai hari Pekan ASI Sedunia. Saya juga gak begitu 'ngeh' sih ya awalnya. Cuma sebagai mamak milenial yang rajin buka sosmed (wqwq), akhirnya saya jadi banyak baca tentang infonya.

Tujuan organisasi kesehatan dunia, World Health Organization, memberikan hari khusus untuk memperingati Pekan ASI Sedunia ini adalah untuk mengajak masyarakat peduli terhadap pentingnya Air Susu Ibu (ASI) dan memberikan dukungan agar tercapai keberhasilan menyusui.

Mulia banget kan yaa. Makanya saya ikut ngeramei-ramein Pekan ASI Sedunia ini dengan menulis postingan nostalgia saat masih menyusui Rania dulu, hehehe. Pengalaman menyusui anak pertama itu campur-campur banget. Ada rasa pede, tapi kemudian ragu. Seneng lalu beberapa menit setelah itu baper. Semangat then tetiba capekkkk gitu kayaknya. Cuma alhamdulillah semua itu sudah saya lewati. Dan untuk ukuran ibu menyusui, saya sepertinya alhamdulillah termasuk yang lancar-lancar aja.



Yang saya inget banget dulu sebelum Rania lahir itu adalah saat memilih BRA! Soalnya kata orang-orang terdekat, payudara kita akan berubah size. OH IYA KAH? Saya excited dong yaa. Soalnya selama ini suka julid liat iklan pembesar payudara, HAHAHA. Well, itu akan saya dapatkan setelah melahirkan! (harapan) XD Nyatanya setelah melahirkan, ya gede sih, beberapa bulan doang tapi, lalu balik lagi ke ukuran semula XD Lalu apakah payudara dengan size mini produksinya mini jugak? NGGAK ternyataa. Jadi mitos kalo payudara kecil gak bisa sukses menyusui anak. Saya buktinya :D


Sejak usia kehamilan 6 bulan, saya mulai bisa merasakan payudara semakin berisi dan mengeluarkan ASI. Amazed banget! Cepet amat keluarnya? Alhamdulillah iya, mungkin karena saat itu saya gak punya pikiran macem-macem. Bagi saya melahirkan dan menyusui itu ya kemampuan natural aja gitu, insya Allah bisa. Saat itu juga saya belum aktif buka-buka sosmed karena sibuk dengan pekerjaan. Ditambah lagi LDR. Ada bersyukurnya juga sih, karena saya jadi gak baca yang aneh-aneh di sosmed yang malah bikin saya jadi gak pede, hehehe. Pokoknya saya menganggap semua alami deh, ga perlu ragu. Satu-satunya buku menyusui yang saya punya saat itu judulnya "Buku Pintar ASI dan Menyusui" karangan Fatimah Berliana Monika Purba, hadiah dari mbak saya. Isi bukunya lengkap banget, rekomendid ya ini.

Punya saya masih cover edisi lama. Ini cover buku yang baru. Pic from: Bukupedia

Jeleknya, karena saya baca buku doang dan gak punya supporting group saat itu, sedangkan saya masih seorang ibu bekerja, saya bingung pake banget gimana real praktek nya. Di buku dijelasin sih caranya, tapi saya pengen tanya-tanya langsung sama yang udah mraktekin pemberian ASI Perah (ASIP). And i have no idea. Sampai kemudian Rania lahir.

Berkat bukunya Mbak Monika Purba, saya udah bersiap-siap Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan juga menunda pemotongan tali pusar sesaat setelah melahirkan. Alhamdulillah terlaksana. Setelah hampir 2 jam, akhirnya Rania berhasil manjat menuju puting payudara saya dan menghisapnya untuk yang pertama kalinya. Haruuuuu banget, huhuhu. Kayak gak percaya aja gitu, kalau dari tubuh saya ini, saya bisa menghidupi makhluk hidup lain, yaitu anak saya --> *melow*

Saya ngerasa semua baik-baik aja sampai tiba saatnya masuk kantor dan saya gak punya persiapan apa-apa :'D Gak punya tabungan ASI Perah bahkan belum beli peralatan pumping! Memang bisa memerah langsung sih ya, cuma kan pegel.. Ditambah lagi, usia Rania yang saat itu belum genap 40 hari ketika saya harus balik ngantor, huhuhu (cuti yang diberikan kantor fix harus 1,5 bulan sebelum dan 1,5 bulan sesudah HPL, dan ternyata Rania lahir mundur sampai hampir 3 mingguan dari HPL, hiks). Sedih sebenernya mbayangin bayi merah Rania saat itu harus diajarin minum dari media lain selain dari payudara saya. Akhirnya 2 hari sebelum balik ke Jambi, saya beli alat pumping asal merk (waktu itu belum tau merk yang bagus yang mana, haha), beberapa botol kaca, dot dan alat pembersih botol. Baca-baca buku lagi dan okelah tarik napas, siap gak siap.

Sehari sebelum masuk kerja, saya pumping. Inget banget dapet 50 ml. Happy karena bagi saya itu cukup. Saat itu saya masih jaranggggg banget buka sosmed, jadi nggak ada kepikiran galau kalau 50 ml itu sedikit. Lalu saya belajar cara mencuci dan mensteril botol plus alat pumping. Kenapa pilih dot? Karena dari hari-hari sebelumnya emang salah sih, saya gak spare waktu supaya Rania belajar minum pake sendok. Saya juga belum pernah lihat contohnya, gak kepikiran Yutub dan bener-bener gatau kalo infonya banyak banget di sosmed. Pokoknya waktu itu saya bener-bener disibukkan dengan menikmati waktu sebagai ibu baru yang begadangan tiap hari. Saya yang biasanya gampang tidur itu, jadi harus banyak melek. Maka tiap ada waktu luang, saya milih tidur deh, haha. Gak baca-baca pas hamil? BACA bangett. Tapi gak baca soal ASI Perah ini, huhuhu.

Hari masuk kerja tiba. Saya punya persediaan 3 botol ASI masing-masing 50 ml. Saya ajarin Papah, yang waktu itu nemenin saya di Jambi, untuk ngangetin ASI dan ngasih ke Rania. Tiap istirahat, saya pulang ke kontrakan yang cuma 5 menit dari kantor. Alhamdulillah saat itu bulan ramadhan (dan load pekerjaan saya belum banyak karena baru masuk), jadi bisa pulang cepet jam 3 sore. Alhamdulillah cukup dengan ASI yang kejar tayang itu. Sempet ngerasa keteteran sih waktu Rania growth spurt dan minumnya jadi banyak. Tapi syukurlah masih bisa teratasi. Begitu terus selama 2 bulan, sampai kemudian saya memutuskan resign, karena banyak hal.


Setelah resign, saya full menyusui Rania langsung dari payudara (direct breastfeeding). Kemana-mana, Rania selalu saya bawa. Gak pernah ada stok ASI Perah lagi di rumah, hihihi. Tau aja kan menyusui itu lamaaaa. Jadi disela-sela itulah saya buka sosmed. Mbak Sukma, senior saya saat di kampus dulu, memberi tahu saya untuk bergabung dengan grup Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) cabang Lampung. Dari situlah pikiran saya banyaaaaak sekali terbuka. Sejak saat itu juga muncul beberapa suggested group lainnya. Thanks Facebook! Saya lebih banyak baca buku dan juga sosmed untuk mengejar ketertinggalan yang kemarin-kemarin. Lalu saya jadi rajin update info di sosmed, bahkan sampe punya blog ini yang salah satu tujuannya adalah sharing


Dari situ beberapa teman sering bertanya soal menyusui kepada saya. Sama seperti yang dilakukan Mbak Sukma, saya jelaskan sebisa saya dan saya ajak teman-teman untuk juga bergabung di beberapa grup. Karena ternyata supporting group itu penting banget! Terima kasih kemudahan jaman! terima kasih sosial media! XD

Saya memang alhamdulillah dianugerahi keluarga yang menganggap bahwa menyusui itu ya natural. Bukan pendukung ASI banget-banget sih tapi juga gak menolak sufor saat saya harus kembali bekerja. Mereka gak rewel, tapi pemahamannya harus saya luruskan lagi. Bahwa ASI itu wajib sampai usia 6 bulan, tanpa diberikan tambahan makanan atau minuman apapun. Diperkenalkan dengan MPASI di usia 6 bulan dan ASI tetap dilanjutkan sampai 2 tahun, gak butuh susu tambahan selain itu. Perlahan saya edukasi semampu saya. Suami, keluarga, teman-teman dan orang-orang di sekitar saya. Rania membentuk saya jadi seseorang yang baru. Makasih banyak Nak.. huhuhu, haruuu. Mamakmu ini jadi belajar banyak sejak Rania lahir.

Anaknya sekarang udah segede gini, hehehe

Rania terus nempel sampai usia 2 tahun 3 bulan. Saya menyusui dimanapun saya berada. Dulunya sih nyari ruang khusus untuk menyusui, atau mushola dan bete banget kalo gak nemu itu semua, haha. Makin mahir, saya ga perlu cari ruangan khusus. Umpetin aja di balik jilbab, kelar deh, xixixi. Capek nggak bawa anak dan menyusui dimana-mana? Ya capek, tapi itu wajar kok. Dan saya ngerasa santai sih. Karena Rania udah jadi bagian hidup saya. Aneh malah kalo gak dibawa, haha.

Banyak manfaat yang saya rasain, salah satunya bonding. Kami jadi deket bgt. Sampe-sampe Rania mau apa-apa sama saya doang, Ayah nya aja ga laku XD Sama sekali gak nyesel dikintilin Rania sampe 2 tahun 3 bulan. Karena sekarang, di usianya yang 3 tahun ini, dia udah mau deket sama banyak orang. Gak lagi selalu nempel sama saya.


Btw, cerita menyapih Rania saya sambung kapan-kapan, soalnya ini udah kepanjangan banget XD. So, tetap keras kepala untuk menyusui. Karena menyusui itu bukan sekedar banyak manfaatnya, tapi juga perintah Allah kepada kita, sebagai bentuk kasih sayang dari-Nya. Apa-apa yang Allah perintahkan, percaya deh, insya Allah itu yang terbaik. Semoga Allah senantiasa memberikan kita kemudahan dalam menyusui ya. Juga buat adeknya Rania nanti, coming soon, aamiin, hehehe.

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan waris pun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." (Al-Baqarah : 233)











Tuesday, July 24, 2018

Banyak Berpikir, Bukan Kebanyakan Mikir

July 24, 2018 1 Comments


Kalau ada salah satu nasehat yang paling saya ingat sepanjang hidup saya, itu adalah nasehat dari Ustad Ahmad Jajuli. Bukaan. Saya bukan pendukung salah satu parpol. Tapi beliau ini kebetulan memang berasal dari parpol tertentu dan kemarin nyalon jadi wakil gubernur, lalu gak (belum Allah izinkan untuk) menang.

Suatu sore di Gedung E306 Jurusan Akuntansi Universitas Lampung. Saat itu kami mengadakan rapat pengurus jelang sebuah kepanitiaan akbar. Gak disangka, undangan yang awalnya hanya untung-untungan itu, benar-benar dihadiri oleh Ustad Ahmad Jajuli. Saya pontang-panting sms semua pengurus, "Dateng rapat ya. Ustad Jajuli nya hadir beneran nih di E306." Kira-kira begitu. Terus yang dateng cuma segelintir orang, wahaha, ironi organisasi jaman kuliah.

Kukira karena yang dateng cuma berapa bijik, ustad bakal marah. Ternyata nggak. (Ya kalik doi ustad, kalo gue mah iya udah pasti baper, wkwk). Beliau sampaikan tausiyah panjang lebar penuh makna. Dan diantara semua yang panjang itu, yang saya ingat adalah kalimat dalam judul postingan ini. "Selama ini coba kita renungkan, kita lebih banyak menggunakan otak untuk berpikir atau sekedar kebanyakan mikir?" WOW, kalok aing sih kebanyakan mikir yes. Pfft.

Dulu suka mikir nanti jodohku itu siapa ya, orangnya kayak apa, terus aku nikah umur berapa. Sekarang setelah melewati masa-masa itu, ternyata semuanya gak sesulit yang dibayangkan. Hidup tuh apa sih yang sulit kalo kita melibatkan Allah di dalamnya.

Disclaimer:
Sesungguhnya postingan ini adalah postingan pemanasan karena udah lama banget gak nulis. Keenakan libur lebaran. Gak bawa laptop dan terlalu enggan ngetik di layar hape. Jadi monmaap kalau nirfaedah ya sudah kamu stop baca sampai sini yaa~

Ada banyak hal lagi yang ternyata membuat kita jadi lebih kebanyakan mikir, terutama setelah jadi ibu. Aku tuh bisa gak jadi ibu yang bener. Apa aja yang udah kuajarin sama anak-anakku. Udah bener belum ngajarin mereka. Udah ngenalin Allah belum ke anak. Akunya belum deket sama Allah trus anak aku nanti 'ancur' nggak ya. Semoga mereka lebih baik, etapi orang tua kan harus mengawali dengan jadi baik terlebih dahulu. Kalo udah besar nanti, mereka gimana ya. Terus hidupku akan jadi gimana. Apakah masih sama, atau dengan kesibukan yang berbeda. Memulai kesibukan yang berbeda itu mengawalinya dari mana. Apa aku masih bisa buat orang tuaku merasa gak sia-sia nyekolahin aku. Jadi anak baik aja mungkin gak cukup. Oh ya, aku pun gak sanggup deh kalo nggak ada Mas. He is the light of my life. Allah kasih sampai kapan ya kebersamaan kami ini. Semoga aku aja yang 'duluan', bukan aku yang 'ditinggalin'.

OKE FINE.

Bagi saya, mikir sesuatu itu penting. Tapi jangan sampek jadi mikir doang dan gak action apa-apa. Itu yang dimaksud Ustad Jajuli dengan harus banyak berpikir, bukan kebanyakan mikir. Mikir tentang anak, just do your best, lakukan ikhtiar terbaique versi diri sendiri, lalu titipkan semuanya sama Allah. Mikir masa depan, ketemulah dengan banyak orang di banyak tempat. Karena sungguh itu bener-bener ngebuka wawasan. Seperti ayat "Bacalah", itu mencakup seluruhnya banget. Bertemu banyak hal membuat kita jadi lebih bijak. Dan semua itu, kalau kita ambil hikmahnya, bakal semakin mendekatkan diri kita sama Allah. Lalu apalah artinya soal kehilangan. Dunia ini memang persinggahan sementara kok. Untuk berkumpul lagi kelak di syurganya Allah. "Adek mau nggak nemenin Mas di surga?" Ucapnya suatu ketika saat saya rasanya hopeless banget jadi istri sholehah dambaan umat, 'susah' diatur dah. "Yang paling berhak mendapatkan versi terbaik dari diri Adek itu Mas. Bukan orang lain. Bukan sosmed. Bukan instagram, bukan facebook Adek."

Ada alasan di balik kejadian yang Allah izinkan lewat di kehidupan kita. Keluarga yang Allah kirimkan. Anak dan titipan lain yang Allah berikan. Juga pertemuan dengan seseorang yang kemudian berkomitmen sepanjang hidupnya, berusaha keras mewujudkan sakinah, mawaddah, wa rahmah.
So, verily with every difficulty, there is relief. (Qur'an 94:5)
Fa inna ma'al usri yusro. Inna ma'al usri yusro.
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.

You have to thanked Allah, karena kamu gak perlu mikir besok bakal kena tembak musuh apa nggak. Rumahmu kena bom atau nggak. Gak perlu mikir mau tinggal dimana makan apa. Dan bersyukurlah karena dikelilingi keluarga dan orang-orang baik. Itu rejeki luar biasa yang Allah kasih.

Sekian. Semoga postingan selanjutnya bukan sekedar tjurhat dan lebih berfaedah ya gengs~











Saturday, June 9, 2018

Tips Mudik Nyaman Naik Bus Bersama Balita

June 09, 2018 6 Comments

Buk ibuk setuju yaa, kalau momen mudik bersama balita itu adalah salah satu pengalaman paling menegangkan bagi seorang ibu baru. Rasanya deg-degan banget. Awal packing  bingung mau bawa apa, setelah packing lebih bingung lagi karena kok rasanya mau dibawa semua, hahaha. Tenang kamu tak sendirian, toss dulu kitah! wkwk XD

Btw, ini postingan collab saya bareng Mama Rayyaan Razqa. Baca juga cerita Mama 2R yaa.

Pengalaman pertama saya membawa anak dalam perjalanan jauh dimulai saat Rania masih bayi merah berusia 37 hari. Saat itu, kami menempuh perjalanan Lampung-Jambi sekitar 23 jam dengan kecepatan very slow, hehehe. Alhamdulillah, karena naik kendaraan pribadi, kami jadi bisa banyak berhenti di jalan sekedar untuk istirahat, makan, atau membersihkan pup Rania  di kamar kecil.

Setelah berhasil melewati hari itu, saya jadi lebih pede bawa Rania bepergian, hehehe. Perjalanan darat, laut, udara, kendaraan umum ataupun kendaraan pribadi, hayuk ajah! XD


Dari semua portofolio perjalanan Rania (tsaelah protofolio, hahaha), bagi saya yang paling challenging adalah saat harus mudik ke kampung halaman naik bus lebaran tahun kemarin. Ketika itu usia Rania 2 tahun 2 bulan. Kami berangkat sekitar pukul 3 sore dari Bandar Lampung dan sampai di Jogja pukul 1 dini hari di hari berikutnya. Hueheheheh.

Tahun ini, kami kembali berencana pulang naik bus, insya Allah persiapannya lebih matang deh, karena tahun kemarin kan sudah pernah, hihihi. Berikut saya rangkum beberapa tips mudik nyaman naik bus bersama balita berdasarkan pengalaman saya tahun kemarin ya buk ibuk, untuk yang tahun ini kalau ternyata ada tambahan, nanti blogpost nya saya update lagi deh. Let's cekidot!


Tips Mudik Nyaman Naik Bus Bersama Balita


1. Saat beli tiket
Usahakan banget untuk nggak ambil tempat duduk di deretan depan dekat supir. Karena perlu kuberitahu bahwaa kebanyakan supir bus dan kernetnya akan merokok hampir sepanjang jalan meskipun kita naik bus full AC. Itu sungguh menyebalkan, huhu. Jangan pula ambil bangku terlalu belakang, karena guncangannya lumayan dan deket kamar mandi, hmm. Saya sarankan bangku tengah. Tinggal pilih, mau lebih deket ke rokok apa ke kamar mandi? hahaha. Nggak lah ya, kamar mandi nya gak bau kok kalo kita gak deket-deket banget. Jadi saya cenderung memilih untuk berada di deret tengah hampir ke belakang.


2. Persiapan alat tempur anak
Penting sangat untuk punya tas serbaguna yang muat diisi oleh beberapa barang sebagai berikut:

Makanan dan minuman. Siapkan bekal nasi supaya perut anak 'aman' di jalan. Bawa juga kotak makan kosong beserta sendoknya kalau-kalau anak beli jajanan di jalan. Bisa juga untuk menaruh sisa makanan, multifungsi deh. Siapkan cemilan favorit, air putih (sedotan) dan susu. Cemilan favorit ini kalau saya ada yang sifatnya mengenyangkan, semacam roti dan ada juga yang kletikan, seperti stik keju dan kawan-kawannya. Bawa botol minum dan sedotannya jangan lupa buibu. Anak akan lebih aman minum di jalan dengan menggunakan sedotan untuk meminimalisir tumpah. Sedangkan untuk susu, saya biasanya membawa beberapa kotak UHT kemasan paling kecil.

Mainan. Bawa 1 atau 2 item mainan, kalau bisa mainan baru yang belum pernah dia lihat sebelumnya, gak terlalu printilan dan bisa dimainkan dalam waktu yang lama. Tahun kemarin saya membawa busy book yang masih dibungkus. Rania seneng banget waktu buka paketnya sendiri, lanjut main berulang-ulang, berasa dapet kado dadakan kann, hahaha. Alhamdulillah adem ayem sampe Jogja. Waktu itu Rania belum kenal youtube sama sekali, jadi saya gak mempersiapkan gadget untuk dimainkan di jalan.


Pospak. Estimasikan ganti pospak tiap 4 atau 5 jam sekali. Lebihkan 1 atau 2 buah, kalau-kalau ada surprised pup, ehehe. Siapkan juga beberapa plastik kecil untuk wadah pup kotor sebelum dibuang ke kotak sampah. Saya dulu masing-masing pospak dibungkus dengan plastik langsung, jadi tinggal ambil saat mau ke kamar mandi. Kalau perlu, siapkan air mentah di botol besar untuk campuran saat anak cebok, karena air di kamar mandi bus biasanya sangat dingin.

Alat kebersihan. Ini super duper penting. Bawa tisu kering, tisu basah, dan alat mandi. Mandi? Iya, harus mandi, karena perjalanannya satu hari lebih. Demi kenyamanan anak, mandilah paling minimal sekali deh, saat bus berhenti untuk istirahat di rumah makan. Alat mandi yang dibawa meliputi sampo, sabun,  sikat gigi, pasta gigi dan handuk kecil. Semua peralatan mandi, bawa dengan botol kecil dan masukkan ke dalam satu pouch supaya mudah ditenteng.



Baju. Siap baju ganti minimal 3 buah di tas. Fungsinya untuk kalau tiba-tiba baju terkena kotoran/basah, ganti saat mandi, atau kalau gak sempat mandi, minimal badan anak di lap dengan handuk basah, keringkan, lalu ganti baju di jam-jam mandi biasanya.

Alat tidur. Bawa jaket, topi/jilbab, selimut kecil dan kaus kaki supaya gak kedinginan saat tidur. Kalau punya bantal kecil boleh pun dibawa. Tahun ini saya membawa boneka hafizh doll juga karena biasanya saya setel jelang Rania tidur.

Obat-obatan. Obat-obatan yang saya bawa biasanya adalah segala perminyakan, berupa minyak telon, minyak but-but dan minyak kayu putih plus transpulmin. Bawa juga tolak angin anak untuk jaga-jaga. Kalau anaknya mabuk, bisa bawa antimo atau sejenisnya. Rania alhamdulillah nggak sih, jadi saya gak punya pengalaman soal obat anti mual. Bawa juga termometer dan obat penurun panasin case something happen, semoga nggak sih ya, huhu.

Gendongan Ergonomis. Ini fungsinya untuk menggendong anak agar gerakan pindah emak dari satu tempat ke tempat lainnya menjadi kebih cepat, xixixi. Atau saat si bocah hanya sedang ingin ditimang-timang. Pilih gendongan yang ergonomis supaya nyaman untuk ibu dan bayi. Tahun kemarin saya pakai Andrea seri toddler.



3. Persiapan alat tempur orang tua
Pakai baju nyaman yang ada kantongnya, untuk menaruh barang printilan anak atau bahkan punya kita sendiri. Plus bawa masker, untuk mencegah debu dan asap rokok.

Dompet diisi dengan uang secukupnya, siapkan uang kecil mana tau anak minta jajan. Bawa KTP dan kartu penting lainnya, seperti ATM, kartu BPJS orang tua dan anak dll.


Lainnya kurang lebih sama dengan anak, tinggal disesuaikan, tambahannya adalah hape dicas penuh, powerbank standby. Ini berguna banget untuk refresh pikiran saat anak tidur, hahaha. Bisa juga bawa buku sih, tapi kalo saya mah suka pusing baca buku di jalan. Atau yang paling mulia nih, kita bisa mengisi waktu luang dengan membaca Al-Qur'an dari aplikasi hape. Mudik tuh biasanya 10 hari terakhir kan ya.. Sayang kalau gak dimanfaatkan dengan baik.


4. Niatkan perjalanan untuk ibadah
Ini yang sering kita lupa kan? Padahal segala sesuatu yang niatnya ibadah akan terasa lebih indah, termasuk mudik bersama balita. Ini ane bukan mendadak jadi Mamah Dedeh loh, tapi sungguhlah makna perjalanan akan jadi beda kalo kita mudik cuma buat 'mudik doang' dan mudik untuk ibadah.


Beri penjelasan ke anak, kalau kita akan menemui kakung, uti dan saudara di kampung. Bersilaturrahim sekaligus menyenangkan hati mereka. Menyenangkan hati orang lain itu insyaAllah bernilai pahala kebaikan di sisi Allah. Maka semoga dengan niatan ini, susah senang gonjang-ganjing mudik di perjalanan bersama balita akan terasa lebih ringan, xixixi.

Jangan lewatkan ibadah wajib, apapun kondisinya. Iya, ibadah itu kita yang mengusahakan. Ingat bahwa anak aan mencontoh apa yang kita lakukan. So, parents pliss, jangan jadikan alibi baju kotor di perjalanan sebagai alasan kita untuk meninggalkan ibadah. Karena secetek pengetahuan saya, kotor itu belum tentu najis. Jangan juga beralasan capek bolak-balik musholla atau bingung karena gak ada air. Pelajari soal tayamum, sholat jamak maupun qashar dan tata cara sholat di perjalanan. Supaya sudah siap saat mudik dan gak googling-googling lagi, hehehe.

Nikmati momen bersama keluarga sambil mempererat bonding, sebisa mungkin temani anak dengan perhatian penuh selama perjalanan. Dengarkan celotehnya, jawab pertanyaannya. Belajar bisa dimana saja, termasuk saat perjalanan. Ada banyak hal yang bisa anak kita pelajari, dengan bimbingan orang tua tentunya. Ajarkan pula anak kalimat-kalimat tasbih, misal 'masyaAllah' saat melihat sesuatu yang indah.

Pak, Buk, sibuk sendiri main hapenya ntar ntar aja. Disini kesempatan kita banget untuk semaki  mengenal karakter anak dan lebih dekat dengan mereka loh. 



5. Kerjasama
Kerjasama yang baik antar suami istri saat mengasuh anak dalam perjalanan, akan membuat semuanya jadi lebih ringan, caya deh! :D Penting untuk berangkat dalam keadaan mesra yah, maksodnya jangan berantem sama pasangan pas hari H, HAHAHA. Asli itu bikin gak nyaman banget. Perjalanan kalau bukan untuk dinikmati, terus untuk apa dong? Aseek.


Sounding ke anak sejak jauh-jauh hari tentang rencana mudik, naik apa, berapa lama dan jelaskan gambaran perjalanannya dengan bahasa yang sederhana. 

It's all wrap! Begitulah tips berdasarkan pengalaman ini saya buat yah buk ibuk. Selamat mudik semuanyaaa. Semoga perjalanannya berkah, menyenangkan dan sehat selamat sampai tujuan. Aamiin... Jangan lupa do'a saat perjalanannya yaa :D









Wednesday, June 6, 2018

Resep Terong Cabai Hijau dan Cerita Family Project Perdana Keluarga Subekti

June 06, 2018 3 Comments


Ih wow akhirnya saya nongol lagi di blog, wkwk. Bulan ramadan ini ceritanya berusaha banget gitu meminimalisir sentuhan dengan gadget, termasuk ngisi blog.  Cuma 30 hari kan dalam setahun, jadi pengen manfaatin sebaik-baiknya. Tiap mau ngetik blog, ada rasa bersalah, haee tilawah masih sedikit, tilawah aja dah. 20 menit kemudian mulai ngantuk. Buka hape dulu ah biar sembuh ngantuknya. Kemudian scroll instagram 30 menit. BHAIQUE.

Mari skip usaha yang gagal itu, semoga sisa ramadan beberapa hari ini ibadah saya bisa lebih baik lagi, huhu, aamiin.

Beberapa rencana family project di bulan ramadan yang sudah digadang-gadang sejak sebulanan yang lalu, alhamdulillah akhirnyaaa bisa kami wujudkan. Baru satu sih, WK, tapi itu aja udah buat seneng banget. "Memberi makan orang yang berpuasa" Seruu rasanya, campur aduk deh, ada happy, ada sebel, ada tegang, ngos-ngosan, tapi lega dan juga bahagia, hehehe.


Happy karena ini adalah family project pertama keluarga yang sedari awal sudah kami rencanakan untuk dilakuin bareng-bareng bertiga. Pokoknyah apapun yang terjadi, we are team!, tsaelah.

Sebel karena ya memang kendala dalam keluarga kecil kami itu komunikasi. Saya sama suami sering banget miskom. Maksudnya A, saya nyampein pake cara B, suami pake cara C, gak nyambung, kemudian saya ngambek, suami pusing dan harus diselesaikan saat itu juga, sementara saya males ngomong XD Begitu lah yang terjadi selama 4 tahun pernikahan. Kami masih terus saling memahami satu sama lain, mungkin karena beda "bahasa" yaa. Maklum suami jawa tulen, saya mah jawa gede di sumatera, hehehe. Tapi abis itu baikan dan malah tambah mesraa, halah.


Tegang. Gimana nggak? Kami belanja dadakan hampir seluruh bahan pagi harinya. Eh, udah siang sih, jam 10-an. Paginya leyeh-leyeh dulu :D Yang udah saya cicil belanja dari hari-hari sebelumnya cuma cabe ijo doang, itu pun belum saya apa-apain, hahaha. Dan karena hari itu hari Jum'at, pulang dari pasar, suami sholat jum'at dulu. Saya masih belum mulai juga, mandi plus sholat, lalu buka buku resep. Selesai sholat, nyuapin Rania dulu sambil nunggu suami pulang. Kan team ya, jadi pengennya mulai bareng gitu *alasan* Jam 1 saya masih okelah. Jam setengah 2 suami belum pulang juga dari masjid. Jam 2 kurang 15 saya telpon, "DIMANAAA???" Jam 2 teng, akhirnya kami mulai, huahuahuaa. Suami kebagian bersihin lele, sementara saya ngulek cabe dan bawang untuk masak terong cabai hijau.


Resep Terong Cabai Hijau
Sumber: Buku resep Variasi Hidangan Lauk Pauk untuk Sebulan oleh Lucy Lusanty

Bahan:
Terong ungu 4 buah, belah, potong 4 bagian
Cabai hijau 200 gram
Bawang merah 5 butir
Teri jengki 100 gram, goreng kering
Minyak goreng
Daun jeruk 5 lembar
Garam 1 sdm

Cara membuat:
Ulek kasar cabai hijau dan bawang merah
Goreng terung sampai layu dan lembut
Tumis cabai hijau dan bawang merah sampai harum, jangan terlalu matang
Masukkan terong dan daun jeruk, bubuhi garam
Tambahkan teri goreng, aduk rata. Angkat.

Mon maap. Saking riweuh-nya, saya cuma punya poto ini. Bawang dan cabe ijo, hahaha.

Simpel kan yaaa? Saya sukaa banget sama masakan terong dicabein ini. Bahkan lebih suka terong dicabe ijo daripada dicabe merah, apalagi dicabe-cabein -_- Karena saya suka dan membangkitkan selera makan itulah, makanya saya memilih menu terong cabai hijau ini untuk ifthar orang-orang yang berpuasa. Kemarin saya masak 2 kg terung dengan 1/2 kg cabai hijau dan 1/4 bawang merah. Bahan-bahan lain menyesuaikan. Daun jeruk juga saya sobek-sobek biar aromanya lebih keluar. Btw, cabe dan bawangnya harus diulek yaa. Kalo diblender nanti jadinya terlalu halus, kurang mantep gitu. Paling sip ya diulek. Sabar-sabar aja nguleknya, hehehe.

Ngos-ngosan banget karena mulai masaknya mepet. Jadi berasa lagi di Master Chef, dikejer waktu! Setelah selesai ngulek bumbu, saya langsung bumbuin lele pake garam, bawang putih ulek dan ketumbar. Suami cuss ke pasar lagi karenaaaaa, KERTAS NASINYA KURANG. Gubrak banget deh. Selain itu KARET GELANG KAMI JUGA GAK CUKUP. Jadi beli lah sekalian. LOL moment banget ini kalo diinget lagi. Bisa-bisanyaaaaaaa XD

Ba'da ashar, saya marathon goreng lele sekian puluh biji. Mo nangis rasanya karena kenceng di rumah saya kan kecil semua ya. Yang paling gede buat masak terong. Nyesel banget ngapa gak minjem alat tempur dulu sama Mamah, huhuhu. Suami mulai bersihin daun pisang untuk pelapis kertas nasi, masukin nasi, masukin tempe goreng dan terong cabe ijo nya. Sampe jam 5, lele yang mateng baru separonyaaaa. CRYYYYY. Langsung lah gorengan terakhir itu, saya cemplungin aja banyak banyak dan ikannya jadi nempel satu sama lain lalu mrotol. Huaaaaaaaaaaa.

Jam setengah 6 akhirnya semua selesai, NAMUNN ujian belum usai, HAHAHA. Karena kepenuhan isi, kertas nasinya susah ditutup XD ASTAGHFIRULLAH. Kami jadi banyak-banyak beristighfar :'D Wes lah, bentuk tak masalah plenyat-plenyot yang penting rasa (?) Rasa? Lah saya aja puasa, belum tau masakannya keasinan apa nggak. HAHAHA. Pas ngetik blogpost ini aseli lah saya keinget stress nya kemarin ituh. Pengalaman pertama banget masak untuk orang banyak. Sungguh warbyasak. Panikk boooook XD




Jam 6 kurang 15, alhamdulillah semua siap. Res beres, gotong-gotong, salin baju (gak sempet mandi lagii, huaaaa, masih bau terong, wkwk) jam 6 kurang 10 kami berangkat dari rumah menuju Masjid Al-Hikmah di Gang PU. Kok jauh amat? lha iya, udah diniatin. Soalnya suami tiap hari sholat disitu. Deket kantor kan. Trus disana memang dikasih makanan bukaan berupa nasi dari sumbangan para relawan. 

Yang kami khawatirkan sampe sana sholat maghrib udah selesai, karena mayan jauh dari Way Hui ke Gang PU, Kedaton. Mana macet pulak, huhu. Tapi alhamdulillah.. sampe disana, kami baru ketinggalan 1 rakaat. Suami langsung kasih beberapa bungkus nasi itu ke pengurus masjid yang berjaga dan segera ikut sholat berjamaah, begitu pun saya dan Rania. LEGA BANGET RASANYAA. Fiuuhhhh.

Selesai sholat, saya deg-degan lagi. Masakan gue ini keasinan apa nggak yaa, hhahaha. Pas saya cicip, ALHAMDULILLAH passs. Suami juga bilang enak, ya Allah seneng bangettt. Padahal masakan keasinan itu udah jadi cerita keseharian saya, wk. Kali ini alhamdulillah, gak berhenti-berhentinya saya bersyukur. Terlebih pas liat nasi bungkusnya ludes. Ya Allah.. bahagia banget. Semoga bermanfaat untuk orang-orang yang berbuka di masjid tersebut. Dan semoga Allah juga berkenan menerima ibadah buru-buru kami hari itu.

~

Btw, Rania ngapain pas kami sibuk oprek di dapur? She was busy too. Bolak-balik bertanya sambil mainan sendiri. Sesekali ngerecokin juga, tapi masih terkendali lah, hihi. Beberapa hari sebelumnya kami memang sudah memberikan pengertian tentang hal ini. Bahwa nanti kita akan memberikan makanan berbuka di masjid untuk orang yang berpuasa. Dengan itu kita bisa dapat pahala kebaikan dari Allah. Allah suka orang yang baik. Allah sayang orang yang baik. Selain itu, kita harus bersyukur punya makanan untuk berbuka puasa. Gak semua orang bisa merasakan hal yang sama. Dst, dst, tentunya dengan bahasa yang sederhana dan pengetahuan agama kami yang masih minim. Semoga suatu saat Rania bisa jauh lebih baik daripada kami, aamiin.

Alhamdulillah, hari itu ditutup dengan ngobrol ringan besok-besok gak boleh terburu-buru kek gini lagi. Kami juga memuji Rania yang sangat kooperatif menemani kami memasak di dapur. Selebihnya, kami bangga dan bahagia karena telah berhasil menyelesaikan project ini. Well done, Keluarga Subekti! :D




Sumber gambar: https://s1.bukalapak.com/img/191208933/w-1000/Terong_Ungu.jpg
Gif: Giphy









Tuesday, May 22, 2018

Menu Praktis Ramadan : Ayam Goreng Istimewa

May 22, 2018 2 Comments
ayam goreng


Assalamu'alaikum buk ibuk.. gimana puasanya? stok makanan di kulkas aman? :D Ini sih saya nanya diri sendiri yaa, xixixi. Soalnya ada rencana yang belum terealisasi di awal bulan ramadan ini, yaituuu bikin stok ayam goreng istimewa. Kenapa belum? karena minggu kemarin saya habis kalaappp belanja di Pasar Gudang Lelang, Teluk Betung, Lampung. Beli aneka seafood segarr dan ikan giling untuk bikin tekwan (semogaa bukan sekedar wacana, hahaha).


Jadi di hari-hari awal ramadan ini, puas-puasin dulu makan ikan, kerang, cumi dan kawan-kawannya. Cumi lagi murah banget disini. Ukuran sedang sekilonya cuma Rp 40.000. Beberapa hari yang lalu, saya sampai 3 hari berturut-turut makan cumi goreng tepung. Hasilnya? leher berat banget dan itu pasti kolesterol. Huhu, memang segala sesuatu yang berlebihan itu gak baik yaa. Balik lagi ke soaln ayam goreng istimewa, ini menu andalan Mamah. Rasanya sedikit manis dan dominan gurih. Ayam goreng memang cocok dijodohin sama apa aja. Pake sayur tumis oke, bening mantep, lalapan plus sambel juga top markotop.


nyamm nyamm

Gak di bulan ramadan pun, Mamah memang sering banget nyetok ayam goreng istimewa ini. Maklum lah, anak tertua. Kunjungan keluarga bisa terjadi kapan aja. Kalau punya stok lauk, hati jadi lebih adem kan ya, hehehe. Gara-gara hobi Mamah nyetok makanan ini, freezer kulkas jadi penuh bangett. Gak saya poto deh waktu freezer kulkas Mamah diiket pake tali rafia saking penuhnya. Takut viral, HAHAHA. Daan akhirnya si Mamah beli freezer tambahan. Persis kek orang jualan nugget, padahal untuk konsumsi pribadi. Warbyasak XD

Ini nih resep andalan Mamah, ayam goreng istimewa, cekidot yaah.

Resep Ayam Goreng Istimewa
Untuk 8 orang
 Sumber: Kumpulan Resep Femina
Bahan:
1 ekor ayam, potong menjadi 8 bagian
air kelapa (dari 1 butir kelapa)
1 sdm air asam 
1 potong kecil gula merah
1 batang serai, memarkan
3 lembar daun salam
minyak untuk menggoreng

Bumbu yang dihaluskan:
5 butir bawang merah
2 siung bawang putih
1 sdm ketumbar
1 ruas lengkuas
1 ruas kunyit
1 ruas jahe
garam secukupnya

ayamg setelah diungkep

Cara membuat:
Haluskan bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, kunyit, jahe dan garam.
Didihkan air kelapa bersama bumbu halus, air asam, gula merah, serai dan daun salam.
Masukkan ayam, masak hingga empuk dan air mengering sambil sesekali diaduk. Angkat dan biarkan ayam dingin.
Goreng dalam minyak panas hingga kuning, angkat dan tiriskan.

Catatan dari Mamah:
Untuk 1 kg ayam, Mamah biasanya menggunakan garam sebanyak 1 sdm.
Resep dengan menggunakan air kelapa ini cocok untuk diaplikasikan ke ayam kampung. Karena di rumah sering pakai ayam negeri yang memang udah empuk, biasanya setelah dicuci, ayam langsung Mamah tiriskan. Trus langsung masukkan aja ke wajan bareng dengan bumbunya. Ayam negeri ini nantinya akan mengeluarkan air juga, jadi gak perlu ditambahkan air lagi.

ayam yang ditiriskan
Menggoreng ayam tidak perlu terlalu lama karena ayam yang kekeringan, cita rasa bumbunya akan berkurang.

Penting banget punya persediaan menu praktis selama bulan ramadan ini. Karena kita pengennya fokus sama ibadah kan.. Meskipun masak untuk keluarga itu ibadah juga sih :D Yang praktis-praktis gini bisa jadi penyelamat banget juga saat sahur di injury time :D Tinggal goreng sebentar, langsung leppp. Semoga puasa kita tahun ini menjadikan kita manusia yang lebih baik lagi ya. Aamiin.

Salam sayang!





Thursday, May 17, 2018

3 Tips Sukses Puasa Ramadan Saat Hamil dan Menyusui

May 17, 2018 6 Comments



Alhamdulillah.. sampai lagi di bulan penuh berkah ini. Tahun 2015 yang lalu (di atas itu foto saat usia kehamilan saya 38 minggu), saya dihadapkan pada posisi menyusui bayi usia 2 bulan saat bulan ramadan tiba. Tahun ini? Pada kepo gak? hahaha. Saya belum hamil lagi sih. Gatau nanti pas pertengahan puasa. Wohoooooow XD

Saat melahirkan Rania, ilmu per-puasa-an dan ilmu segala-gala saya masih minim banget deh. Support group juga gak ada. Belum tau lah ternyata banyak banget birth club dan komunitas menyusui gitu. Jadi dukungan terbesar saya saat itu ya 'cuma' dari suami dan keluarga besar. Bukannya gak cukup, tapi ternyata kita juga butuh banget nget teman senasib sepenanggungan yang sudah berpengalaman lebih dulu dan jauh lebih mengerti tentang ilmu beserta praktik di lapangannya.

Pasca resign 3 bulan setelah melahirkan, saya diberitahu oleh Mbak Sukma, kakak tingkat saya semasa kuliah, untuk bergabung di facebook group AIMI Lampung. Dari situlah mata saya jauuuhhh lebih terbuka tentang dunia per-ASI-an. Berawal sejak itu pula saya mulai cukup sering mengedukasi orang-orang terdekat sebisa dan semampu saya. Salah satunya lewat media sosial. Itu juga yang menjadi salah satu alasan saya untuk membuat blog ini. Agar lebih banyak lagi orang yang bisa membaca tulisan saya.


Ramadan tahun ini, alhamdulillah saya bisa mengikuti kuliah whatsapp langsung di grup Ibu Profesional Lampung, dengan pembicara Mbak Upi Fitriyanti, Ketua AIMI Cabang Lampung. Saya coba rangkum kembali diskusi kami di grup hari itu ya.. Semoga bermanfaat bagi para bumil dan busui yang tetap ingin sukses manjalankan ibadah di bulan ramadan ini.





3 Tips Sukses Puasa Ramadhan Saat Hamil dan Menyusui

Berbicara tentang ibu hamil dan menyusui, yang perlu kita ingat yaitu bahwa hamil dan menyusui adalah kondisi normal pada tubuh wanita, bukan kondisi medis. Pada saat hamil dan menyusui ini, metabolisme dan penyerapan zat besi di dalam tubuh menjadi lebih efisien. Ibu hamil dan menyusui membutuhkan tambahan asupan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan mencegah terjadinya pengurangan zat gizi pada jaringan tubuh ibu. Dan ternyataaa, ibu menyusui tidak membutuhkan makanan khusus loh untuk meningkatkan produksi ASI, yang penting tetap gunakan Pedoman Gizi Seimbang.

Ini harus saya bilang kabar baik atau kabar buruk sih? wkwkwk. Kan jadi gaabisaa modus lagi minta beliin ini itu yaah XD *kidding*


Pedoman Gizi Seimbang

Prinsip gizi pada ibu menyusui:
• Jika asupan ibu tidak cukup, tubuhnya akan menggantikan gizi yang kurang untuk produksi ASI, sehingga kandungan ASI tetap lengkap dan baik
• Jika ibu mengalami kekurangan gizi, tubuhnya akan “mengorbankan” zat gizi dari tubuhnya untuk memenuhi kebutuhan gizi ASI


So, here it is.. 3 Tips Sukses Puasa Ramadan Saat Hamil dan Menyusui 

1. Niat, Persiapan dan Dukungan

• Niat yang kuat
Ini bener banget menurutku. Meskipun dalam islam ada rukhsoh (keringanan) untuk tidak berpuasa bagi ibu hamil dan menyusui. Namun ga ada salahnya juga untuk kita coba terlebih dahulu, diawali dengan niat yang kuat. Saat hamil, kita bisa komunikasi sama bayi yang ada di perut. Komunikasi yang baik ini bisa jadi sugesti yang positif untuk diri kita dan dedek bayi. Saat menyusui juga, kita harus yakin kalau ASI itu rezeki bayi. Dan yang Maha Pemberi Rezeki itu Allah, maka bismillah kita coba puasa sambil mengamati reaksi bayi.

• Persiapan – berkonsultasi ke dokter
Dokter insyaAllah paham kondisi kita *eh bumil dan busui sih, saya belomm, haha* Berkonsultasi dan mendengarkan saran dokter bisa membuat kita lebih yakin saat mengambil keputusan untuk lanjut berpuasa atau tidak.
 
• Dukungan – meminta bantuan keluarga atau pihak lain
Meminta dukungan suami dan keluarga kita. Kalau orang terdekat belum mengerti, kita bisa edukasi sebelumnya atau sekalian diajak saat berkonsultasi dengan dokter.


2. Menjaga Asupan Minum dan Makan

• Cukup minum dan hindari konsumsi minuman berkafein dan berkarbonasi
Air putih harus banget cukup. Yang suka ngopi dan minum colaa, coba tahan dulu, hehehe.
• Usahakan minum air putih sebanyak 2 liter per hari atau 10-12 gelas

Sumber: DanCommunity.com

• Mengatur agar asupan makanan yang bergizi tetap terjaga
Ingat-ingat bahwa berpuasa hanya menggeser jam makan.
• Minum secukupnya setiap jam atau makan dalam porsi kecil namun sering
Jangan sekaligus, kamu gak akan kuat :P


3. Mempertahankan Menyusui

• Menyusui dan memerahlah seperti biasa
Ini harus kita coba terlebih dahulu, sambil mengamati reaksi si anak.

Kapan Puasa Harus Dihentikan?

Jika Bayi
• Berat badannya tidak bertambah atau menurun
• Buang air kecil lebih sedikit. Bayi sedikitnya harus buang air kecil sebanyak 6 kali per hari
• Rewel sepanjang waktu bahkan setelah disusui, atau sebaliknya bayi lemas dan selalu mengantuk 

Jika Ibu
• Mendadak merasa lemas
• Warna air seni lebih pekat
• Pusing atau rasa sakit yang tidak tertahankan


Kulwap hari itu berlangsung seru karena banyak peserta yang menyimak dan aktif memberi tanggapan. Berikut beberapa diskusi dan tanya jawab bersama Mbak Upi Fitriyanti yang saya rangkum:

Irma: 
Bumil galau ingin berpuasa namun BB bayi kurang.
Upi:
Untuk calon bayi yang BB nya kurang, sebaiknya ibu tidak berpuasa. Islam memberikan kemudahan bagi ibu hamil dan menyusui dengan mengqadha puasa.

Evi: 
Saya insyaAllah melahirkan dua hari sebelum ramadan, minta tips dan trik tetap fit menyusui karena makan dan ngemil harus sembunyi-sembunyi dari anak yang sedang belajar berpuasa.
Upi:
Butuh proses untuk bisa mengedukasi anak-anak memahami tentang apa itu nifas dan mengapa ibu tidak berpuasa. Semoga dimudahkan memberikan edukASI ke anak-anak.

Linda: 
Jadi bumil dan busui tinggal diatur pola makannya saja ya mbak?
Upi: 
Iya, atur pola makan dan minum jangan sampai berkurang seperti saat tidak puasa. Terutama minum ya.

Indah: 
Galau di kehamilan saat ini memasuki 3 bulan, masih suka mual dan muntah.
Upi: 
Jika masih mual-mual hebat yang menyebabkan lemas dan pusing, sebaiknya tidak berpuasa dulu. Selanjutnya silahkan dikonsultasikan ke dokter untuk dilakukan pengecekan secara menyeluruh. Saat kondisi masih morning sick, lebih dianjurkan untuk makan sedikit tapi sering. Pada usia kehamilan 0-3 bulan itu masa pembentukan otak calon bayi, maka diperhatikan sekali asupan gizi pada menu makanannya. Pastikan memenuhi kaidah Pedoman Gizi Seimbang pada menu makanan sehingga memiliki “cadangan makanan” yang dapat digunakan pada saat menyusui nanti. Termasuk jika ASI pada hari 1-3 belum keluar, bayi juga memiliki cadangan makanan.

Mira:
1. Busui, bayi 1 tahun. Syarat minimum buang air kecil bayi sebanyak 6x dalam sehari berlaku sampai usia berapa?
2. Dulu waktu hamil anak pertama, saat usia kandungan 3 bulan, saya memaksakan puasa. Sesuai anjuran, saat berbuka dan sahur sering makan. Tapi hampir setiap sore sekitar jam 4 saya muntah cairan kuning dan saya tetap melanjutkan puasa sampai maghrib. Bagaimana dengan kondisi yang seperti itu?
Upi:
1. BAK bayi minimal 6x sehari berlaku untuk bayi ASI Eksklusif (6 bulan). Jika sudah lewat dari 6 bulan, perhatikan saja warna BAK nya, jika pekat sebaiknya puasa ibu dihentikan. Untuk anak usia 1 tahun, sebaiknya fokus saja pada pemberian makannya. Usia 1 tahun sebenarnya sudah makan dengan menu keluarga.
2. Kalau sampai menyebabkan lemas dan pusing pasca muntah, sebaiknya puasa dihentikan jangan dipaksakan.

Iin: 
Bayi saya berusia 2 bulan nanti ketika masuk bulan ramadan, sekarang saya sudah latihan persiapan ramadan, coba puasa sunah tapi di hari pertama puasa, bayi menjelang sore menyusu dan setelahnya muntah lumayan banyak. Apakah ini efek puasa atau kekhawatiran saya saja terbawa mindset karena puasa?
Upi: 
Ada beberapa bayi yang memberikan “sinyal” berbeda saat berpuasa. Pastikan pola makan dan minum ibu tidak berkurang. Terutama minum minimal 2 liter per hari. Jadi harus diatur selama berbuka sampai dengan sahur terpenuhi jumlah air yang diminum. Selama ibu dan bayi kuat, tidak masalah. Namun pastikan juga tanda-tanda kecukupan ASInya. Untuk bayi ASI eksklusif, minimal 6x BAK dan tidak berwarna pekat. Kenaikan berat badan bayi 600-800 gram. Jadi sebaiknya dikonsultasikan juga ke dokter sebelum memutuskan untuk tetap berpuasa.

Baca: Rekomendasi Dokter Spesialis Anak di Bandar Lampung

Lusia:
Asupan tetap sama seperti saat tidak puasa ya mb? Hanya beda waktu makan dan minumnya.
Upi: 
Iya, jumlah asupan tetap sekitar 500 kalori, hanya beda waktu/jadwal makannya. Sebaiknya jumlah sayur dan buah lebih banyak dari karbo.

Ummu Azzam: 
Si kecil tanggal 3 Juni genap 2 tahun, berarti ramadan nanti mulai tahap penyapihan. Namu saya khawatir si kecil rewel. Apakah sebaiknya saya tunda setelah bulan ramadan ya?
Upi: 
Saya pakai metode Weaning With Love (WWL). Anak saya tidak ada yang pas 2 tahun menyapihnya. Saran saya ditunda saja dulu.

Linda: 
Untuk bumil dan busui saat puasa apakah ada makanan tertentu yang sebaiknya dihindari agar tetap fit?
Upi: 
Untuk makanan tidak ada larangan, yang penting harus seimbang antara karbo, protein, sayur dan buah. Sedangkan untuk minuman, kurangi minuman yang berkafein.
Evi: 
Pengalaman saya, kalau anak sudah MPASI akan lebih nyaman berpuasa. Tapi kalau belum MPASI, benar-benar harus dipersiapkan dan diperhatikan kondisi bayinya, karena dalam islam juga ada keringanan untuk ibu menyusui.
Upi: 
Ya betul, sebaiknya tidak berpuasa untuk yang masih ASI Eksklusif.

Intermezzo yaa pemirsaaa, hahaha

Selesaii. Semoga beberapa pertanyaan tersebut mewakili pertanyaan para pembaca blog juga yaa, hehehe. Mbak Upi Fitriyanti menutup diskusi dengan pesan untuk para ibu hamil dan menyusui, agar memastikan diri untuk mempersiapkan lahir batin, dimulai dari niat yang tentunya juga disesuaikan dengan kekuatan tubuh dan bayi. Ibadah puasa ramadan akan dapat dilaksanakan dengan bahagia jika kita melakukan persiapan yang optimal.

Sepakaaatttttt!!! Gimana bumil dan busui? Semoga kuliah whatsapp bersama Ketua AIMI Cabang Lampung, Mbak Upi Fitriyanti ini bermanfaat yaa. Saya dokumentasikan resumenya di blog juga sebagai pengingat kalau-kalau suatu saat saya jadi bumil atau busui lagi, hihihi. Kamu yang lagi baca, puasa pertama lancar jaya kan? Teruss semangat yaaa.