Thursday, March 14, 2019

Meniti Jannah dari Rumah : Resensi Buku Hafidz Rumahan oleh Neny Suswati

March 14, 2019 2 Comments
Neny Suswati, penulis buku Hafidz Rumahan ini, adalah salah seorang teman saya di komunitas Tapis Blogger. Saya mengenal umi Neny, begitu sapaan akrab saya pada beliau, sebagai salah seorang blogger yang giat menulis tentang dakwah islam. Karyanya yang dituangkan dalam bentuk buku sudah cukup banyak, dan makin kesini, makin mengerucut ke tema parenting islami. Sebuah tema yang juga menjadi salah satu ketertarikan saya dalam dunia tulis menulis.

Beberapa minggu lalu, saat mengetahui bahwa umi Neny akan meluncurkan sebuah buku bertajuk Hafidz Rumahan, hati saya girang bukan kepalang. Buku ini semacam menjadi jawaban atas kegalauan orang tua macam saya. Seorang ibu yang sangat awam soal agama. Tapi jauh dalam lubuk hati, bercita-cita memiliki anak seorang penghapal qur'an.

Saya saat membaca buku Hafidz Rumahan. Dok: Desy LA.

Bersyukur rasanya, Kamis, 7 Maret 2019 lalu, Allah gerakkan saya untuk hadir dalam acara launching buku Hafidz Rumahan di G Hotel Syariah Lampung. Sebuah karya yang dibuat sepenuh hati oleh umi Neny. Berkisah tentang perjalanan keluarga Hasan Basri, seorang hafidz cilik terkenal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.


Yang membuat saya kagum, Hasan Basri beserta kakak dan adik-adiknya yang sudah hapal 30 juz Al-Qur'an di usia 6 sampai dengan 12 tahun itu, bukanlah lulusan pondok pesantren. Mereka menghapal qur'an dari rumah, di bawah bimbingan langsung sang ibu dan juga ayah yang notabene bukan pula seorang hafidz/hafidzah.


Judul Buku: Hafidz Rumahan
Penulis: Neny Suswati
Penerbit: Aura Publishing 
ISBN: 978-623-211-033-5
Tahun Terbit: Februari 2019
Tebal: xxix + 200 halaman
Harga: Rp 65.000,-


Ikhtiar Keluarga Awam Melahirkan 7 Penghapal Qur'an

Saya yakin, awalnya pembaca mungkin memiliki pikiran yang sama dengan saya. Memiliki 7 anak penghapal qur'an, pastilah sang orang tua juga minimal lulusan pesantren! Hapalan qur'annya bagus, ilmu agamanya pun baik.

Namun ternyata, dugaan saya itu salah. Keluarga ini sama sekali bukan berasal dari kalangan santri. Ibunya, Siti Hajar, bahkan baru tamat iqro' 4 saat pertama kali mengajarkan anaknya membaca huruf hijaiyah. Begitu juga dengan Abdurrohim, sang ayah.  Bukan pula seseorang dengan pemahaman agama yang baik. Sholat pun dulu kadang masih ditinggalkannya.

Silahkan tercengang karena awalnya saya juga sulit untuk percaya. Namun begitulah kenyataannya. Umi Neny menceritakan tentang bagaimana awal mula keluarga awam ini tersentuh dakwah dan mengubah arah haluan bahtera keluarga mereka.

"Bukan hal mudah, keduanya bukan hafidz Al-Qur'an, bahkan hampir bisa dikatakan, Siti Hajar belajar membaca Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh saat sudah memiliki 2 orang anak, bahkan belajar bersamaan dengan mengajari anak pertamanya. Tetapi tekadnya yang kuat tidak menyurutkan langkahnya. Dia terbiasa belajar keras saat sekolah, orangnya gigih menggapai apa yang dicita-citakan. Untuk prestasi dunia dia mampu sungguh-sungguh, apalagi untuk keselamatan hidup dunia dan akhirat bagi anak-anaknya? Tentu tekad dan semangatnya lebih kuat. Jadi sudah bulat tekadnya, ingin mendidik anak-anaknya hapal qur'an di bawah bimbingannya sendiri, tidak mendaftarkan anak-anaknya di sekolah formal." (halaman 44)

Buku Hafidz Rumahan. Dok: Heni Puspita

Siti Hajar, Sosok Madrasah Dibalik Anak-Anak Luar Biasa Itu

Sri Maharani Hasibuan. Adalah nama asli yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Setelah hijrah, Rani memutuskan untuk mengubah nama panggilan menjadi Siti Hajar. Rani hanya menamatkan pendidikan sampai jenjang SMA. Di awal pernikahan, ia bahkan sama sekali belum mengenakan hijab. Kesadaran beragama perlahan muncul saat sang suami semakin aktif mengikuti aktivitas perjalanan dakwah. Rani yang saat itu perlahan behijrah menyadari bahwa kondisi generasi saat ini sudah sangat jauh dari nilai-nilai Al-Qur'an.

"Ada satu bagian agama yang sudah lama hilang, yaitu mendidik anak-anak secara sunnah, bahwa anak di awal kehidupannya lebih banyak berada di pangkuan/asuhan ibunya, karena sesungguhnya ibu adalah madrasah yang pertama dan utama." (halaman 13)

Rani kemudian menjadi sangat terobsesi dengan perannya sebagai seorang ibu. Meski tahu, hal itu bukanlah tugas yang mudah. Pilihan hidupnya untuk mendidik ilmu al-qur'an di rumah, tak jarang mengundang bisik-bisik tetangga. Keluarga pun sudah beberapa kali mengingatkan, namun ia tetap pada pendirian. Merawat anak-anak yang masih kecil, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mendidik anak-anak di rumah dengan kondisi apa adanya, sekaligus membimbing dan menerima setoran hapalan. Waktu terasa cepat berlalu dan menjadi sangat berharga di rumah mereka.

Saya rasa, dengan kesibukan padat mengurusi dan mendidik 8 anak (7 diantaranya sudah hafidz qur'an, 1 anak sedang dalam proses menghapal) itu, umi Siti Hajar mungkin tak lagi sempat berpikir untuk sekedar memberi kode receh #mamamintametime seperti yang digaung-gaungkan ibu masa kini macam saya. *sigh*

"Nak, Bunda juga akan berusaha semaksimal mungkin, walau mungkin ndak sekece umi Siti Hajar." Dok: Desy LA.


Abdurrohim, Sang Nahkoda Menuju Bahtera Surga

Dibalik istri yang luar biasa menjalankan perannya di rumah, ada sosok pemimpin yang juga begitu luar biasa memainkan peran. Dialah Abdurrohim. Ramlan Dalimunthe, nama asli lelaki itu. Telah lama ia risau akan kondisi diri yang tak begitu paham agama, ditambah lagi tinggal di pulau yang mayoritas penduduknya beragama kristen. Qadarullah, Allah mempertemukan ia dengan rombongan jaulah di masjid dekat rumah yang kemudian menjadi perantara perubahan-perubahan besar dalam hidupnya. Termasuk memilih resign dari pekerjaannya sebagai seorang PNS.

Abdurrohim adalah sosok laki-laki penyabar yang tidak pernah marah dan berkata kasar pada istrinya. Saat sang istri melakukan kesalahan, ia yang justru pertama kali akan memuhasabah diri dan memintakan ampunan dalam sujud panjang sepertiga malamnya. Benarlah kata pepatah, istri bisa tahan melewati cobaan apapun dalam rumah tangga, asal suami tetap menghargai dan menyayanginya. Potret Abdurrohim dan Siti Hajar digambarkan sebagai keluarga yang romantis dan saling mengingatkan akan akhirat.

Mbak Naqiyyah Syam, umi Neny Suswati dan Pak Abdurrohim. Dok: Heni Puspita. 


Tidak Ada Keluarga Tanpa Ujian!

Dari buku ini, saya mendapatkan gambaran bahwa keluarga Abdurrohim dan Siti Hajar bukanlah keluarga yang sempurna. Sejak awal, mereka menikah karena dijodohkan oleh orang tua.

"Di bulan-bulan pertama setelah pernikahannya, sering muncul rasa bencinya pada suaminya, terutama saat bertemu dengan teman-teman sejawat yang mengingatkannya pada kehidupan indah saat bekerja kantoran dan masa depan yang ingin dicapainya." (halaman 7)

Perasaan saya sebagai pembaca seperti disajikan kisah Datuk Maringgih versi nyata. Tapi tentu dengan ending yang jauh berbeda.

Cobaan demi cobaan pernah dilalui oleh keluarga ini. Termasuk kondisi ekonomi yang carut marut pasca Abdurrohim berhenti dari pekerjaannya sebagai guru.

"Ujian keyakinan terasa berat setelah pemecatan itu." (halaman 82)


Meniti Jannah dari dalam Rumah

Mungkin tak semua orang sanggup menjalani kehidupan seperti keluarga ini. Hidup sangat sederhana dengan rumah yang jaraknya dekat sekali dengan bibir pantai. Beratap seng, berdinding papan, perabotan seadanya, masak dengan kayu bakar, tidak ada televisi, pun tidak memiliki handphone. Itulah jalan hidup yang mereka pilih.

Hanzalah, anak ketujuh yang sudah hafidz qur'an di usia 6 tahun lebih. Dok: Heni Puspita. 

Namun dengan kondisi sangat sederhana dan minim sarana prasarana itu, kesungguhan mendidik anak yang dilakukan oleh Siti Hajar dan Abdurrohim telah berhasil mencetak hafidz/ah di usia yang sangat dini.
1. Fatimah, hafidzah di usia 12 tahun
2. Abu Dzar, hafidz di usia 11 tahun
3. Muhammad Luthfi, hafidz di usia hampir 9 tahun
4. Ummu Kulsum, hafidzah di usia hampir 9 tahun
5. Hasan Basri, hafidz di usia menjelang 8 tahun
6. Abdullah Zubair, hafidz di usia belum mencapai 6 tahun
7. Ahmad Hanzalah, hafidz di usia 6 tahun lebih


Bagaimana bisa? Metode apa yang dipakai?

"Abdurrohim dan Siti Hajar mendidik anak-anaknya mengikuti cara Rasulullah dan sahabat." (halaman 129)

Mereka membagi usia anak menjadi 4 fase, yaitu 0, 3, 7 dan 10 tahun. Masing-masing fase memiliki perlakuan khusus. Semua anak mereka ajarkan untuk lancar membaca Al-Qur'an terlebih dahulu, barulah diajar membaca, mengenal angka dan menghitung.

Pada bagian akhir buku, pembaca akan disuguhkan dengan penjelasan detail yang ditulis secara apik oleh umi Neny Suswati. Mengenai konsep pendidikan dan kunci sukses keluarga Hasan Basri dalam mendidik anak menjadi hafidz/ah dari rumah.

Saya saat berburu tanda tangan umi Neny. Dok: Lilih Muflihah. 

Bagi saya, judul buku ini sangat menarik. Dipercantik dengan desain sampul berwarna hijau segar berlatar rumah keluarga Hasan Basri yang secara jelas menggambarkan tentang kesederhanaan dalam keluarga itu. Cerita berdasarkan kisah nyata yang diangkat oleh umi Neny ini, menjadi motivasi tersendiri bagi para orang tua awam seperti saya, untuk terus berikhtiar dengan berbagai cara agar cita-cita mulia memiliki anak hafidz/ah itu dapat tercapai. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, membuat pembaca seolah diajak langsung menyelami kehidupan keluarga Hasan Basri di desa terpencil di Pulau Nias. Menjadikan buku setebal 200 halaman ini tidak membosankan untuk dibaca.


Yang sedikit menjadi kekurangan adalah gambar yang masih menggunakan cetakan hitam putih. Bagi seorang visual seperti saya, akan lebih menarik jika buku ini dilengkapi dengan foto-foto berwarna, meskipun hal itu juga pasti akan berdampak pada naiknya harga jual buku. Namun demikian, buku Hafidz Rumahan karya umi Neny Suswati ini tetap sangat layak dijadikan referensi bagi para keluarga muslim. Selamat menyelami samudera hikmah :)


Ingin Pesan Buku Hafidz Rumahan? 
Klik disini.





Thursday, February 28, 2019

Emak Dilarang Gaptek, ASUS Zenfone Max M2 Pilihan Tepat, Harga Hemat

February 28, 2019 31 Comments
Sebagai emak milenial yang hidup di era digital, saya enggak mau dibilang gaptek, apalagi sampe gagap diajak ngobrol hitech. Pantang gaess! Minimal nyambung dikit-dikit lah. Meski dibalik itu, ada muka panik sok shantay dengan jempol yang sigap googling dan sibuk nyubit lengan suami, "Tadi tuh maksudnya apa sih?" wkwkwk.

Sumber gambar : dreamstime.com

Tak dipungkiri, teknologi internet saat ini memang sangat memudahkan kita untuk mengakses beragam informasi. Handphone yang tadinya hanya sebagai alat komunikasi, kini menjelma jadi smartphone yang memiliki beragam fungsi. Mulai dari menyimpan foto dan video, memantau perkembangan anak di sekolah lewat whatsapp group, belanja online, bayar tagihan, sampai urusan hiburan, seperti sosial media, youtube dan main game.

Memiliki anak usia balita, awalnya membuat saya berpikir bahwa smartphone adalah momok menakutkan yang sebisa mungkin harus dijauhkan dari anak. Tapi kok ya jadi capek sendiri dan kemudian saya menemukan sebuah artikel parenting yang menjelaskan bahwa:

Memisahkan anak dari teknologi di masa ini adalah sebuah keniscayaan.

Ih wow, ya emang bener sih. Saya sadar udah gak jaman jadi orang tua model 'polisi dunia digital' yang harus selalu ON menjaga anak agar taat aturan.

Saat ini yang lebih penting adalah menjadi orang tua bijak yang mengajarkan anak untuk disiplin dan memberikan contoh tentang bagaimana memberdayakan teknologi, bukan diperdaya oleh teknologi.

Misal soal main game. Dulu banget kita sering berpikir bahwa anak yang hobi nge-game udah pasti gak punya masa depan. Buang-buang duit, buang-buang waktu. Sekarang? Anak hobi nge-game jangan langsung dimarahin. Kita bisa arahkan hobinya, mana tau jadi atlet e-sports, olahraga gaming bergengsi yang dipertandingkan secara internasional dan diikuti banyak negara. Hadiahnya tentu saja menggiurkan. Anak juga bisa kita beri wawasan tentang profesi yang dapat digeluti oleh seorang gamer di masa depan. Buat game dan jadi game developer misalnya. Atau jadi youtuber gamer. Nah.. banyak positifnya juga kan..

Ajang tarung bergengsi tim e-sports tanah air, didukung oleh ASUS. Sumber: kincir.com

Intinya, jadi orang tua sekarang harus banyak wawasan, kudu rajin-rajin update informasi. Mengutip pernyataan Najelaa Shihab, seorang psikolog pemerhati pendidikan,

"Hindari menjadi orang tua gaptek dan tidak mau tahu tentang perkembangan dunia digital, karena akan menjadi hambatan yang berdampak besar bagi anak."


Bye-Bye Gaptek, ASUS Zenfone Max M2 ZB633KL, Pilihan Tepat, Harga Hemat

Salah satu cara saya untuk mendampingi anak dan tetap update dalam perkembangan dunia digital adalah dengan memilih smartphone canggih yang memiliki fitur serba bisa. Tentunya harus dengan harga terjangkau yang gak bikin sesak napas. Biar apa? Biar makin disayang suami dongg.. Udahlah hitech, pinter ngatur keuangan pulak, ya kann. Eaaaaaa.

Dan inilah smartphone yang menjadi wishlist saya di tahun 2019, ASUS Zenfone Max M2. Smartphone gaming besutan ASUS yang memiliki banyak keunggulan. Loh kok pilih smartphone gaming? Yes, karena seorang teman pernah bilang pada saya, "Hape tuh kalo dipake ngegame aja jago, apalagi dipake buat yang lain. Udah pasti tahan banting."


ASUS Zenfone Max M2, cantik, serba bisa, jago nge-game, murah meriah.

ASUS Zenfone Max M2 ini dilengkapi dengan prosesor Qualcomm Snapdragon 632. Dengan prosesor ini kita akan mendapatkan performa cepat bebas lemot yang tetap hemat daya dan tidak panas bagai gosokan. LOL. Selain itu, ASUS Zenfone Max M2 juga menggunakan sistem operasi android pure Oreo 8.0 membuat smartphone ini sangat ringan saat digunakan untuk bermain game. Persis seperti yang pernah teman saya katakan, kalo dipake nge-game aja dia ringan, apalagi dipakai menjalankan aplikasi lain sekaligus, bisa banget. Performa tetap maksimal, nyenengin dan gak bikin esmosi.

Baterainya gimana? 4.000 mAh dan dilengkapi teknologi fast charging. Browsing seharian, youtube-an 13 jam lebih, nge-game 8 jam non stop, hayuk aja. Dari segi penampilan, ASUS Zenfone Max M2 ini cantik dan slim 7.7mm, memberikan kesan elegan dan nyaman dalam genggaman. Layar berukuran 6,3" dengan rasio 19:9 HD+ nya menghasilkan tampilan yang luas dan jernih. Nonton drama korea video dokumenter National Geographic sama anak bakal puas banget nih.


Menariknya lagi, ASUS Zenfone Max M2 ini memiliki kamera mumpuni yang dilengkapi dengan Dual Rear Camera dan AI Scene Detection. Resolusi kamera utamanya 13 MP + 2 MP. Lensa kedua berfungsi untuk menghasilkan efek bokeh. Resolusi kamera depannya 8.0 MP dan dilengkapi dengan fitur beauty mode. Puas-puasin foto karena hasil gambarnya bakal tajam, fokus dan gak pecah.

Ngobrolin kamera dan foto, pasti membuat kita juga bertanya-tanya soal memori internalnya. Tenang, cukup besar kok, yaitu 32 GB dan 64 GB. Selain itu, ASUS Zenfone Max M2 juga memiliki dua slot kartu sim yang didukung kecepatan 4G LTE hingga 300 mbps dan satu slot eksternal memori yang dapat memperluas penyimpanan hingga 2 TB.

Terakhir, harganya nih, ehm. Percuma kan ya hape bagus kalo mahal, gak kebeli. Murah kalo jelek, ya ngapain beli, xixixi.  ASUS Zenfone Max M2 ini merupakan pilihan tepat dengan harga hemat. Meski mengkhususkan diri sebagai smartphone gaming dan didesain untuk para gamers, dengan kemampuan seperti ini, ASUS Zenfone Max M2 juga sangat layak untuk dimiliki emak milenial macam saya. Ibarat kata, dengan spesifikasi yang sudah saya jembreng diatas, smartphone ini terbilang murah tapi gak murahan. Rp 2.299.000 untuk ASUS Zenfone Max M2 3GB/32GB dan Rp 2.699.000 untuk 4GB/64GB.


Spesifikasi lengkapnya bisa dilihat disini ya atau langsung ke official website ASUS.



"Emak-emak pake smartphone gaming? Gak takut tuh anak balita bakal pinjem trus jadi kecanduan nge-game? Pake hape biasa aja ngapa.."

Ugh, sori beb. Eyke butuh ASUS Zenfone Max M2 ini buat nemenin anak ngikutin perkembangan zaman. Emak-emak dari anak generasi alfa paling pantang gaptek. Sudah jadi kewajiban kita untuk ngawal bocah supaya disiplin dan ngasih contoh memanfaatkan teknologi dengan cara yang positif.  Inget inget bahwa kita yang harus mengendalikan teknologi. Bukan teknologi yang mengendalikan kita.

Lagipula beb, kalo ada smartphone gaming yang murah, spesifikasi oke banget dan serba bisa cem gini, lha ngapain beli yang biasa aja? 😁 Gimana gimana, Sobat Blog Emak pada setuju kaaaann? Cusss komen yhaa.


Saturday, January 5, 2019

Review Jujur Film Keluarga Cemara Yang.. Cukup Bagus

January 05, 2019 0 Comments
Sudah beberapa review saya baca tentang film Keluarga Cemara, semuanya bilang bagus dan bikin nangis. Waw. Bagus dan bikin nangis itu genre film saya banget! hahahah. Jelas bertolak belakang dengan suami yang lebih suka film action. Maka Jum'at kemarin, setengah maksa, saya mengajak suami untuk nonton. "Nonton Aquaman aja deh." "Nggak! Pokoknya harus Keluarga Cemara." Okelah suami akhirnya bilang iya, karena doi juga sebenarnya suka dengan film yang berbau-bau keluarga.


Malam itu dengan ekspektasi tinggi, kami nonton di CGV Transmart Lampung yang jaraknya cukup dekat dari rumah. Pilih CGV karena selain dekat, disana juga gak ada tulisan "anak di atas 2 tahun harus bayar", jadilah kami beli 2 tiket aja. Masih banyak kursi kosong pun. Jadi Rania tetep bisa duduk di tengah. Dari awal, saya kurang dapet 'feel'nya karena si petugas bioskop lupa matiin lampu. Sampai film ada kali 10 menit berjalan, saya lihat petugasnya baru datang dan matiin lampu. Arggh. Agak kecewa, tapi yasudahlah.

Keluarga Cemara? XD

Lanjut nonton film. Keluarga Cemara ini diangkat dari serial yang pernah tayang saat jaman saya kecil dulu. Anak 90-an pasti tau deh. jalan ceritanya secara garis besar tentu sama, keluarga kaya yang usaha Abah nya bangkrut dan harus mengubah kehidupan mereka 180 derajat dari sebelumnya. Film-film semacam ini hampir selalu relate dengan kehidupan saya yang juga dibesarkan dari keluarga sederhana. Walaupun saya memang belum pernah sampai diminta berjualan di sekolah. Waktu lihat scene Euis jualan opak di sekolah. Hati saya ngiluu. Kebayang pasti beraaatt ya :'(

Film Keluarga Cemara ini adalah potret keluarga milenial saat ini yang berusaha memperbaiki ekonomi dengan cara menjadi ..... nonton sendiri deh :D yang jelas karena pemerannya Ringgo dan Nirina Zubir, film ini beberapa kali membuat saya ngakak.

Saya suka setting rumahnya yang asri dan ada ayunan pohonnya. Lovable. Saya juga suka  tokoh Ara yang auranya positif banget. Waktu baru pindah rumah dan anggota keluarga lain menghela napas melihat kondisi rumah, Ara justru memilih untuk bersenang-senang prosotan di rerumputan. Sungguh tipikal anak manis penyejuk hati Emak dan Abah.


Beberapa kali saya dibuat terharu saat Ara bilang, "Ara mau 7 tahun aja. Gak mau jadi 13 tahun. Soalnya kalo jadi 13 tahun nanti Abah marah-marah kayak Abah marah sama Teh Euis. Ara gak suka Abah marah-marah." Hati orang tua mana yang gak 'nyes' gaes. Saya juga cukup terharu saat Ara bilang, "Ara suka tinggal disini, jadi sering ketemu Abah, Emak juga masak Opak tiap hari. Ara bisa sekamar sama Teteh." Bahagia banget kan kalo punya ayah yang punya banyak waktu bermain sama anak dan ibu yang masakannya enak-enak. 

Pesan dari film ini adalah bagaimanapun keadaannya, yang paling penting kita melewatinya bersama dengan keluarga. Gak perlu ada kata penyesalan dan saling menyalahkan. Yang perlu dibangun adalah kebesaran hati yang mampu membuat keluarga jadi tempat paling nyaman untuk pulang.

Gak susah buat saya nangis dan tersentuh saat nonton film, ya karena dasarnya emang cengeng sih, haha. Salah satu reviewer film ini bilang, 'jangan lupa bawa tisu'. Saya udah bawa tisu segepok dong, takut beleleran air mata trus malu kan XD tapi enggak kepake sih karena film ini memang bukan tipikal film yang mengaduk perasaan banget banget atau bakal bikin nangis sampe mata bengkak. Bahkan dalam beberapa scene, bagi saya ada adegan yang too good to be true.

Saya sebenernya gak tega mau bilang kalau film ini sungguh kurang greget dan harusnya bisa dibuat lebih sentimentil lagi. Tapi serius, ini adalah film yang bagus untuk mengawali 2019. Tentang pesan yuk kembali ke keluarga. Because family is not an important thing. It's everything. Selamat menonton ya!

Note : Indonesia plis banyakin film keluarga yang berkualitas macam ini, saya dukung film baik.



Wednesday, January 2, 2019

5 Alasan Memilih Berwisata Alam ke Wira Garden Lampung

January 02, 2019 3 Comments
Kapan terakhir kali mengajak anak bermain di alam? Ehm, kalo saya sih jujur sudah lumayan lama yaa. Gak dipungkiri, weekend kami akhir-akhir ini lebih banyak berakhir di mall. Selain lebih dekat, suasanya nyaman dan fasilitas biasanya jadi alasan kami untuk mengajak Rania balik lagi jalan-jalan ke mall.


Libur akhir tahun 2018 kemarin, kami sekeluarga memutuskan untuk berwisata alam. Tadinya mau ke pantai, tapi karena masih khawatir gelombang tinggi dan tsunami, kami pun berbelok ke sungai. Tempat wisata alam yang selama ini menjadi favorit kami selain pantai adalah Wira Garden. Seingat saya, ini adalah kunjungan ketiga saya ke tempat ini.

wira garden lampung
Ajak anak main di alam yuk!

Lokasi Wira Garden Lampung berada di Jalan Wan Abdurrahman, Batu Putu, Teluk Betung Utara. Letaknya hampir persis bersebelahan dengan Taman Wisata Bumi Kedaton. Di daerah ini memang terdapat beberapa pilihan wisata alam, seperti Lembah Hijau, Bukit Mas atau Taman Kupu-Kupu Gita Persada. Terus apa dong yang membuat Wira Garden menjadi tempat favorit keluarga kami untuk berwisata alam? Ini nih alasannya.

1. Murah meriah dan tidak dikenakan biaya tambahan lain
Buat emak-emak, stabilitas keuangan pasca liburan tentu penting banget kan? haha. Tiket masuk Wira Garden Lampung ini per orangnya hanya Rp 12.500 loh. Anak kecil seumuran Rania (3 tahun) tidak dikenakan biaya masuk. Sebelumnya, saya pernah mengajak keponakan yang berumur 5 tahun main kesini, juga tidak dikenai biaya tiket. Saya gak ngerti sih, berapa batasan umur yang dikenakan tiket. Pokoknya asal gratis, saya seneng! hahaha. Jadi kunjungan kami sekeluarga bertiga kemarin, yang dihitung hanya 2 orang. Total Rp 25.000 aja bisa puas eksplor Wira Garden dari pagi sampe sore, ckckck. Berwisata alam ke Wira Garden Lampung juga aman banget di kantong karena pengunjung tidak dikenakan biaya tambahan lain seperti parkir, sewa pondok ataupun toilet. Luv!

wira garden bandar lampung
Anak happy, kantong emak pun happy :D

2. Alam yang masih asri
Ini juga yang menjadi salah satu alasan kami untuk balik lagi. Di pinggir-pinggir sungai, kami banyak menemui capung dan kupu-kupu cantik aneka warna yang menandakan bahwa tempat ini masih asri dan terjaga. Karena ini sudah kunjungan kami yang ketiga, kali itu kami memilih jalur anti mainstream untuk menuju sungai. Yaitu menyusuri jalan setapak yang melewati pohon-pohon buah. Bukan langsung parkir mobil di dekat sungai ataupun turun melewati tangga. Di jalan setapak ini, kami menemukan beberapa bunga dan jamur. Ala-ala hiking gitu deh. Seru euy!

wira garden lampung

3. Bisa main air sepuasnya
Karena wisata alam yang ada di Wira Garden ini adalah sungai, kami merasa Rania lebih aman main disini karena gak perlu khawatir dengan gelombang, tapi masih tetap bisa bermain dengan arus sungai. Rata-rata kami menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk bermain air. Waw ya? XD Air sungai disini tergolong bersih. Meskipun saat musim hujan ataupun kering, sungai menjadi sedikit lebih keruh. Tapi masih tetap asik jadi tempat bermain air.


wira garden bandar lampung

4. Spot foto dan pohon buah yang bisa dinikmati pengunjung
Kebanyakan netijen saat ini mencari tempat wisata yang instagramable kan ya? Wira Garden bisa menjadi salah satu tempat itu. Beberapa spot foto cantik tersedia disini. Kita bisa berfoto dari area tinggi berlatar belakang laut, bergaya di tepi tebing alaminya atau berpose cantik di jembatan dan rumput hijau. Selain spot foto, yang paling saya suka adalah, Wira Garden memiliki beragam tanaman buah yang juga bisa dinikmati oleh pengunjung, seperti manggis, rambutan, sirsak, kelapa, jengkol dan durian. Nah, tujuan utama kedatangan kami kemarin sebenarnya ini, hahaha. Apalagi saat ini Lampung sedang musim durian dan rambutan. Tapi ternyata duriannya sudah gak sebanyak yang kami kira, mungkin sudah dipanen ya, tapi lumayanlah bisa petik-petik rambutan gratis :D


wira garden lampung

5. Fasilitas lengkap
Wira Garden juga menyediakan fasilitas taman bermain anak yang terletak tidak jauh dari tempat masuk. Selain itu, jika kita ingin menginap, disini juga tersedia cottage dengan ruang pertemuan yang cukup besar dan area ground camping yang bisa dipakai berkemah. Yang saya suka, Wira Garden juga dilengkapi dengan banyak saung di pinggir sungai dan sekitar area yang bisa dipakai gratis. Selain itu, ada beberapa titik toilet bersih dengan air yang mengalir deras di tempat ini, sehingga tidak khawatir mengantri terlalu lama. Terdapat juga mushola yang cukup luas di dekat taman bermain dan di area dekat sungai.

wira garden lampung


Bagi saya, Wira Garden is still a lovable place to visit. Perpaduan bermain di alam dengan fasilitas yang cukup nyaman dan harga terjangkau untuk wisata keluarga itu sudah sangat cukup menjadi alasan bagi kami untuk balik lagi ke tempat ini. Yuk ajak anak main di alam!







Tuesday, January 1, 2019

Assalamu'alaikum 2019

January 01, 2019 0 Comments
Assalamu'alaikum sobat blog emak. Postingan ini mengawali dibukanya lembaran baru tahun 2019. Gimana bobonya semalem? Nyenyak kah? Atau justru terganggu alunan kerasnya musik tetangga? :D Saya sendiri sebenarnya cukup terganggu, tapi alhamdulillah masih bisa nyenyak seperti biasa. Bisa tidur pulas  meskipun lingkungan sekitar berisik adalah salah satu nikmat yang sangat saya syukuri di awal tahun 2019 XD

Tahun ini, meskipun gak secara eksplisit saya tulis di blog, sepertinya saya cukup ambisius memasang target resolusi untuk setahun ke depan. Saya bilang ambisius karena jujur aja 2018 kemarin sungguh lempeng. Kurang greget karena saya memang gak buat target apa-apa, just let it flow, yang ternyata setelah dilalui, alhamdulillah gak nyesek-nyesek amat sih. Malah happy bisa melewati 2018 dengan beberapa pencapaian yang menurut saya membahagiakan. Nah di 2019 ceritanya saya pengen ada kemajuan dalam beberapa hal, jadilah saya tertarik untuk membuat resolusi.

Dari kemarin saya sibuk bikin target. Target pencapaian pribadi, target beresin rumah (yang gak beres-beres ituh), target sekolah Rania, target ngeblog tahun depan dannn target ngerapihin feed instagram XD Setelah merinci satu persatu pencapaian yang ingin saya raih, target-target ini saya baca ulang.. dan baru sadar. Gak ada satupun dari sekian banyak target itu yang berhubungan dengan urusan akhirat.

Krik krik..

Nganu. Itu yang paling penting kenapa bisa saya lupain ya?

 


Alih-alih lanjut buat resolusi, saya memilih untuk mengevaluasi ibadah-ibadah yang sudah saya jalani di tahun 2018. Dan waw, ya masih gitu-gitu aja sih. Kacau banget malah. SHOLAT terutama. Tahun kemarin, saya sempat pasang target sholat di awal waktu. Kenyataannya? walah walaahhhh masih banyakkk sholat yang saya kerjain di akhir waktu. Sampe harus berkali-kali diingetin suami, pernah juga tuh kami berantem gegara saya nunda-nunda sholat, ckck. Itu baru soal ibadah yang paling pokok. Ibadah lainnya? Jelas mengikuti ritme si sholat wajib ini. Kebayang kan, kalo yang paling pokok dan wajibnya aja belum terjaga, gimana dengan ibadah-ibadah yang lain cobak.. Hiks.

Jika seorang wanita selalu menjaga sholat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan ramadhan), serta betul-betul menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan benar-benar taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita yang memiliki sifat mulia ini, "Masuklah dalam surga melalui pintu mana saja yang engkau suka." (HR Ahmad)

Jujur saya ngerasa ketampar bolak-balik. Karena kok ya bisa-bisanya buat daftar panjang untuk resolusi dunia. Tapi sama sekali lupa menyusun resolusi akhirat. Padahal kita di dunia ini ya ngapain sih, cuma bentar doang. Yang kekal dan kudu banyak bekal jelas di akhirat nanti :( Jadilah saya revisi semua target-target dunia itu. Jangan sampe semangat untuk mencapainya, melampaui semangat mengejar akhirat. Duh ini sebenernya tahun lalu ya ngomong gini juga. Sekarang ditulis lagi. Nulis ini bukan karena udah sholehah banget. Justru karena masih kacauu sampe harus dibuat jejak digitalnya sebagai pengingat.

Yuk yuk revisi resolusi 2019 nya. Buat yang lebih akhirat oriented, besides gak ada salahnya juga ngejar dunia asal gak berlebihan. Semoga cita-cita baik kita tercapai di tahun ini ya.. dan kita bisa jadi pribadi yang juga lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Aamiin aamiin aamiin...

Kalo kamu gimana gaes? sempet salah bikin resolusi kayak aku juga nggak? *lha malah nyari temen* hehehe.