Friday, January 19, 2018

Resensi Buku Parenting : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Jelang usia 3 tahun, Rania mulai menunjukkan beberapa perilaku ‘ajaib’ yang seringkali membuat saya (pengen koprol) istighfar. Kemampuan komunikasinya yang berkembang pesat membuat dia mulai melakukan praktik negosiasi dalam banyak hal, contoh sederhananya mandi. Total waktu yang saya gunakan saat merayu Rania mandi: 30 menit, total waktu mandi: 5 menit, drama masih mau main busa dan gak mau bilas: 10 menit. Jadi intinya waktu yang dihabiskan untuk bujuk rayu itu gak seimbang dengan waktu yang dihabiskan untuk mandi itu sendiri, hahah. Sungguh drama ibu muda beranak satu. LOL.

Baca : Sabar Mak.. This Too Shall Pass (1)

Rania juga lagi hobi banget bilang “stop!” saat saya atau suami sedang menasehati. Yang gak kalah ‘nggemesin’ adalah ketika Rania minta sesuatu, istilah suami saya harus sak dheg, sak nyet, saat ini juga pokoknya. Fiuhhh. Gak jarang perilaku ini membuat saya ikut-ikutan emosi atau malah tantrum ke suami.

Kalau digambarkan dengan diagram kira-kira begini:
Rania marah ke Bunda → Bunda kesel lalu melampiaskan marah ke Ayah → Ayah bingung cari pelampiasan
atau
Bunda nasehatin Rania → Rania bete tapi tetep dengerin. Pas Ayah ikut nasehatin, Rania langsung bilang “stop!” marah sama Ayah lalu nangis → Ayah putus asa

Jadi intinya? wanita selalu benar! Hahaha. Dan orang yang sebenarnya paling patut dikasihani di rumah ini karena  selalu jadi pelampiasan kekesalan kami adalah si Ayah :'D

Level ‘marah’ nya saya itu paling parah saat sudah mulai ngomong dengan nada yang cenderung membentak dan otomatis mata membesar. Ngomel panjang atau malah sekalian ngambek, mogok bicara, mogok main. Setiap kali saya marah model begini, Rania seperti otomatis juga menunjukkan emosi yang gak kalah negatif. Saya sadar something should be wrong dan mulai membuka kembali buku parenting yang pernah saya beli saat usia Rania masih sekitar satu tahunan, pas masih 'manis-manis' nya deh umur segitu mah :D

Baca : Lambang Sari, Si Manis Gurih Pemikat Hati

Buku parenting islami: Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Identitas Buku

Judul Buku : Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak
Penulis : Bunda Wening
Penerbit : Tinta Medina
Ketebalan Buku : XX+108 halaman

Seorang laki-laki datang menemui Rasulullah SAW untuk meminta nasihat beliau. Orang itu berkata, “Berilah wasiat (nasihat) kepadaku.” Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah engkau marah.” Kemudian orang itu mengulang berkali-kali meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Maka Rasulullah SAW selalu menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR Bukhari dan Abu Hurairah r.a.)

Psikolog bernama R. Plutchik, mengungkapkan bahwa ada empat emosi dasar dalam diri manusia, yaitu kegembiraan (joy), ketakutan (fear), kesedihan (sadness) dan kemarahan (anger). Sedangkan menurut Paul Ekman, salah seorang peneliti emosi terkemuka, manusia memiliki enam emosi dasar, yaitu takut (fear), marah (anger), sedih (sadness), bahagia (happiness), jijik (disgust) dan terkejut (surprise). Buku Marah yang Bijak ini fokus untuk membahas salah satu emosi dasar tersebut, yaitu emosi marah dari sisi parenting islami.

Emosi marah merupakan salah satu fitrah manusia. Bahkan, seorang Rasul pun sebagai pribadi yang mulia pernah marah. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Aku ini hanya manusia biasa, aku bisa senang sebagaimana manusia senang, dan aku bisa marah sebagaimana manusia marah.” (HR Muslim). Yang perlu ditekankan disini adalah bahwa marah merupakan suatu sikap, bukan perilaku. Ada perbedaan antara marah saja dan marah ‘tanpa kendali’ yang memberikan dampak buruk.

Marah tanpa kendali menunjukkan rendahnya kemampuan problem solving.

Buku ini memberikan orang tua Form Assesment sebagai alat untuk refleksi diri. Beberapa pertanyaan yang diajukan dalam assessment tersebut antara lain: Seberapa sering marah kepada anak dalam sehari? Siapa yang lebih sering melakukannya? Ayah atau Ibu? Biasanya marah jika? dan lain sebagainya. Tujuan dari assessment ini adalah agar orang tua dapat melakukan evaluasi terhadap cara penanganan anak selama ini. Apakah marah yang dilakukan sudah efektif atau justru tidak berhasil karena hasilnya tidak sesuai dengan tujuan marah itu sendiri.

Jika marah tidak membuat perubahan yang lebih baik bagi anak, lalu mengapa marah masih dipakai sebagai strategi penanganan dalam pengasuhan?

Sebuah pepatah mengatakan, “Jika selalu ada alasan untuk marah, berarti juga selalu ada alasan untuk tidak marah.” Orang tua diminta untuk mencari hal-hal apa sajakah yang biasanya menjadi pemicu kemarahan pada anak. Apakah karena lelah fisik dan mental, panik saat menghadapi sikap anak, tidak siap dengan perbedaan atau justru menggunakan standar orang tua untuk anak.

Ketika orang tua menganggap MARAH tanpa kendali adalah wujud kasih sayang kepada anak, kelak anak pun akan belajar menyayangi dengan KEMARAHAN.

Islam jelas menganjurkan untuk sedapat mungkin mengendalikan amarah karena hal ini akan berdampak secara fisiologis dan psikologis di kemudian hari. Anak bisa saja meniru perilaku marah tersebut, menjadi pemurung dan tidak ceria, cenderung menutup diri, kurang berani mengambil keputusan penting dalam hidup bahkan menjadi seorang pemberontak. Marah pun memiliki dampak buruk bagi si pelaku itu sendiri.

Buku Marah yang Bijak ini juga memaparkan tentang beberapa teknik pengendalian marah. Marah adalah sebuah sikap, marah adalah sebuah bentuk komunikasi, marah adalah fitrah, marah itu boleh dan marah dapat membuat tubuh sehat. Namun marah tidak harus terwujud dalam bentuk perilaku mata melotot, berkata kasar, mencubit, memukul dan semisalnya. Marah dapat terwujud dalam bentuk lain.

Yang saya sukai dari buku ini adalah satu bab yang membahas khusus soal contoh kasus dan penanganannya. Bahkan saat pertama kali membaca, bab terakhir inilah yang justru paling pertama saya buka. Aplikatif soalnya, hehe. Pernah kan menghadapi anak tantrum di tempat umum? Saya ingat betul waktu Rania nangis ala ala Waljinah dengan suara tangis yang melengking pake banget. Kek nya memang udah doi setting sedemikian rupa sehingga menarik perhatian hampir seluruh orang yang ada di sekitar situ. Saat itu rasanya satu supermarket tau kalau Rania minta es krim dan gak saya izinkan. Wajah saya hangat dan kuping memanas mendengarnya, fiuhh :D


Rania, 2 tahun 8 bulan, saat bibir mecucu

Menurut buku Marah yang Bijak, ada dua hal yang dapat dilakukan saat menghadapi perilaku semacam ini, yaitu pencegahan (preventif) dan penanganan (kuratif). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dalam bentuk kesepakatan. Jadi, saat akan pergi kemana pun, sebisa mungkin dilakukan kesepakatan dengan anak terhadap apa yang akan dilakukan disana, terutama ketika hendak membeli sesuatu.

Misal saat akan ke warung bersama anak, jelaskan bahwa disana nanti ibu akan membeli sabun, odol dan sikat gigi. Tawarkan apakah anak juga ingin membeli sesuatu, buat kesepakatan apa barangnya dan berapa jumlahnya. Contoh: dua buah permen cokelat. Ketika sampai di warung, ada kemungkinan anak meminta lebih dari kesepakatan. Tugas ibu adalah mengingatkan tentang kesepakatan yang sebelumnya sudah dibuat dengan suara yang sedang dan ekspresi hangat, posisi tubuh agak merendah, lalu tenangkan. Jika si anak masih menangis, temani di sampingnya, sambil sesekali ucapkan bahwa ibu akan menunggu sampai si anak tenang. Konsisten sampai emosinya mereda. Jika sudah tenang, beri pelukan dan ciuman, lalu gandeng tangannya untuk diajak pulang bersama. Sepanjang perjalanan pulang tidak perlu menasehati atau berkomentar atas perilakunya tadi. Ajak bicara dengan hal-hal menyenangkan yang ditemui di jalan.

Salah satu tip keberhasilan pengasuhan anak adalah konsistensi. Dalam mendidik anak, harus ada kombinasi yang cantik antara kelembutan dan ketegasan, lembut dalam menyampaikan dan tegas dalam kesepakatan.

Buku yang tebalnya hanya 101 halaman ini ditulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti. Bagian favorit saya selain quotes dari Bunda Wening, yaitu bab contoh kasus, karena sangat aplikatif. Saya bahkan berharap agar contoh kasus dalam buku ini bisa lebih diperbanyak. Untuk buku dengan harga yang tak sampai Rp 50.000, Marah yang Bijak ini layak dijadikan sebagai salah satu buku pegangan pengasuhan anak (parenting) untuk para orang tua.

Bu ibu pak bapak, jomblowan jomblowati, selamat berburu Marah yang Bijak di toko buku online ya!




7 comments:

  1. Sepertinya perlu juga nih memiliki bukunya, terkadang tidak sadar ketika marah kepada anak dengan nada tinggi bahkan seperti membentak. dan sesudahnya ada perasaan menyesal. dan untuk istiqomah tidak mengeluarkan kata kata dengan nada tinggi itu yang masih dirasa kurang

    ReplyDelete
  2. Saya terkadang masih menyesal krn dulu terkadang cepat marah ke anak sulung ketika ia masih kanak2.Alhamdulillah saya menyadari kesalahan dan tak melakukan ke anak ke dan ke 3 dan menemukan cara jitu yaitu memandang anak dgn lucu,apapun yg di lakukan mereka.mengajak anak2 bernegoisasi dlm segala hal dgn banyak pilihan.ternyata hal ini cara yg tepat utk saya dan anak menjalin hubungan.perlu kesabaran extra menangani usia batita.

    ReplyDelete
  3. Marah itu tidak pernah jadi solusi bahwa anak akan menjadi lebih baik nantinya. Justru ia akan tumbuh menjadi pribadi berkarakter keras dan egois. Sayangnya masih banyak orangtua yang lebih suka berkata keras dan meninggi saat anak melakukan salah atau membuat kesal.

    Buku ini wajib dimiliki setiap orangtua agar mampu memanage marah sehingga bisa menangani anak lebih bijak.

    ReplyDelete
  4. Dalam prakteknya, hal tersebut harus dilakukan berulang. Setiap anak punya karakter berbeda, ortu harus kreatif menyesusikan sikap dengan karakter anak, sehingga dapat mencegah situasi yg memancing emosi

    ReplyDelete
  5. heheh, tahu aja saya suka marah sama anak, iya marah bijak itu harus jangan sampe marah yang justru bikin anak tertekan

    ReplyDelete
  6. wah bagus referensinya ini, bagus buat dibaca suamiku hahha... marah iu kdang karena karakter yang tercipta dari pendidikan masa kecil di keluarga, Mbk

    ReplyDelete
  7. Wah aku perlu nih bukunya. Bagus mba resensinya :)

    ReplyDelete

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi