Tuesday, January 30, 2018

Dear Para Suami, Beri Waktu bagi Ibu Rumah Tangga untuk Me Time Tanpa Anak

Me time bagi saya saat usia Rania masih di bawah dua tahun itu tidak muluk-muluk, yaitu 'sekedar' menghirup udara segar dan mencari suasana baru di luar rumah. Jalan-jalan di sekitar kompleks, cuci mata ke toko buku atau pergi membeli bakso favorit, meskipun saat itu saya harus tetap membawa Rania kemanapun saya pergi, karena Rania masih ASI. Sesederhana itu arti me time untuk ibu menyusui. Itu aja udah bahagia banget loh, hehehe..

Teorinya sih bisa ya me time saat anak tidur siang. Tapi pikiran saya seringkali kembali tertuju pada tumpukan pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Maklum lah, saya seorang stay at home mom tanpa asisten rumah tangga (ART). Me time di malam hari setelah anak tertidur juga sudah sering saya niatkan, tapi nyatanya saya justru ikut tertidur setelah menyusui. Dan bagaimana pula caranya me time jalan-jalan ke suatu tempat sendirian, sementara saya nyumput di balik tembok saja Rania langsung menjerit histeris, takut kehilangan :'D hahaha. Jadilah me time saya lebih banyak dilakukan sekaligus family time. 

Lama kelamaan saya mulai menyadari bahwa sebagai ibu rumah tangga, saya juga butuh waktu untuk betul-betul sendirian dan menikmati suasana baru. 24 jam sehari, 7 hari seminggu berkutat dengan kegiatan kerumahtanggaan dan mengasuh anak di rumah tanpa bantuan orang lain, membuat ibu-ibu macam saya ini rentan terkena stres.

MOM = Master of Multitasking (pic from: freepik.com)


Ibu Butuh Me Time

Tak jarang, para ibu rumah tangga itu segan loh saat meminta waktu untuk me time. Iya apa iya? xixixi. Bahkan saat kami saling curhat, beberapa teman seringkali merasa perlu diyakinkan kembali akan pentingnya me time untuk ibu ini. "Kita kan cuma di rumah, terus nanti pas ditanya stres kenapa? bosan kenapa? bingung juga jawabnya. Tapi ya rasanya suntuk aja. Yang begitu, perlu me time juga?"

Jenuh terus menerus dengan pekerjaan sehari-hari yang tidak ada habisnya merupakan salah satu pertanda bahwa para ibu butuh me time. Kebutuhan me time yang tidak tersalurkan ini lama kelamaan bisa menjadi 'bom' yang dapat meledak sewaktu-waktu. Wujudnya bisa macam-macam, mulai dari melampiaskan marah pada anak, menyesali pernikahan karena merasa kehilangan diri sendiri atau justru ngomel-ngomel gak jelas ke suami, kayak saya hahaha.

Baca : Resensi Buku Parenting: Marah yang Bijak, Panduan Islami Menjadi Orang Tua Bijak

Kalau sudah begini, idealnya sih tanpa diminta, suami harus mengerti sinyal-sinyal bahwa istrinya butuh me time. Sayangnya para pria bukan cenayang. Jadi seringkali, kita para istri yang kudu rajin mengkomunikasikan kebutuhan me time ini dengan baik, bicara dari hati ke hati dan tidak perlu segan.


Me Time Ala Ibu Rumah Tangga

Berapa lama waktu yang ideal untuk me time? Tidak ada batasan, bisa sebentar, bisa juga lama. Yang perlu kita perhatikan adalah jangan sampai mengabaikan hak suami dan anak.

Lalu kalau sudah dapat 'izin' me time, kita bisa ngapain aja nih? Banyak. Beri waktu 'bernapas' bagi diri sendiri dengan melakukan aktivitas atau hobi yang kita sukai. Paling dekat, bisa dimulai dengan hal-hal sederhana yang sudah menjadi barang mewah bagi seorang ibu rumah tangga, misalnya: mandi tenang dengan pintu kamar mandi yang tertutup sempurna tanpa rengekan si kecil yang pengen ikut masuk ke dalam. Prestisius kan ini? :D Atau makan dua mangkuk mie ayam dengan kuah yang panas tanpa perlu ritual menyuapi anak sebelumnya. Duh, nikmatnya. Bisa juga memberi waktu bagi diri sendiri untuk berbelanja dengan tenang. Belanja yang betul-betul belanja, tanpa perlu menggendong atau tengok kanan kiri mengawasi anak. Jenis me time yang lain bisa kita sesuaikan dengan waktu yang dimiliki dan juga dana yang tersedia.



Saya sendiri, sejak Rania lepas ASI di usia 2 tahun 3 bulan, mulai memberanikan diri untuk memiliki waktu me time. Pertama kalinya saya memiliki momen sendiri tanpa anak itu adalah ketika saya mengikuti seminar kesehatan yang diadakan oleh AIMI Lampung.

Baca :
SelebrASI 2 Tahun AIMI Lampung: Seminar Kesehatan Bersama dr. Wiyarni Pambudi dan dr. Tan Shot Yen (Bagian Pertama)
SelebrASI 2 Tahun AIMI Lampung (Bagian Kedua), dr. Tan Shot Yen: Jangan Jadi Ibu Micin Pencetak Generasi Micin

Sejak saat itu, setiap kali saya meminta waktu me time, Rania pasti bilang, "Bunda mau seminar ya?" Hehehe. Rupanya Rania juga masih ingat momen pertama kali saat dia harus saya tinggal hanya berdua dengan si Ayah :D

Begitu pula saat saya mengikuti kegiatan gathering di komunitas Tapis Blogger minggu lalu. Rania 'ngeh' nya saya mau seminar. Jadilah Rania dan Ayah jalan-jalan ke Trans Studio Mini sementara saya 'seminar', hehehe.

Baca: Main di Trans Studio Mini Transmart Lampung, Mahal Gak Sih?

Beruntunglah ibu-ibu zaman now, karena teknologi bisa dengan mudahnya mempertemukan kita dengan berbagai komunitas yang memiliki kesamaan hobi.


Saya dan teman-teman komunitas di acara Tapis Blogger Gathering 2


Me time di acara Tapis Blogger Gathering 2 kemarin mempunyai kesan tersendiri bagi saya. Karena selain bisa bertemu dengan banyak teman dan menambah ilmu, hari itu para peserta juga diizinkan untuk mencoba berbagai macam kain tapis khas Lampung yang sudah didesain menjadi beragam fashion cantik oleh Thasya Busana. Mata ibu-ibu mana yang tidak menyala-nyala saat disuruh mencoba baju? :D


Thasya Busana, Ethnic Syar'i

Rumah tangga itu ibarat workshop. Papa work, mama shop. Pernah dengar quotes ngasal ini kan? Hehe. Mungkin memang sudah kodratnya wanita untuk menyukai kegiatan berbelanja. Saya juga gak nolak deh kalau dapat kesempatan me time cuci mata seperti ini.

Saya saat memilih gamis

Yang menjadi khas pada berbagai produk yang dihasilkan oleh Thasya Busana adalah tapis yang ditenun langsung pada bahan yang akan digunakan, bukan sekedar kain tapis tempelan.



Saat ini Thasya Busana telah memproduksi berbagai macam gamis, outer, jilbab,  tas, kemeja, dan baju anak yang semuanya dihiasi dengan tenun tapis khas Lampung. Dalam waktu dekat, Thasya Busana juga berencana untuk membuat sarung, yakni sarung lilit. Semua produk yang dihasilkan oleh Thasya Busana menonjolkan karakter si pemakai yang berakhlak dan berwibawa.


Jilbab dan gamis yang dihiasi tenun tapis

Tas motif kain tapis!

Kemeja pria motif tenun gisting

Tenun tapis yang diaplikasikan pada baju anak

Desain produk lain bisa juga dibuat berdasarkan permintaan pelanggan. Harga yang ditawarkan tentu disesuaikan dengan bahan yang digunakan. Pelanggan bisa mendapatkan potongan diskon sekitar 10-15% untuk pembelian langsung.

Thasya Busana
Alamat: Jalan Purnawirawan 9 No. 30, Kelurahan Gunung Terang, Bandar Lampung
Facebook : Thasya Busana
Instagram : @thasya_busana
WA : 081369704950


Manfaat Me Time

Sepulangnya dari me time di acara gathering Tapis Blogger kemarin, saya merasa lebih fresh dan siap untuk kembali bertemu dengan anak dan suami. Para suami perlu memahami bahwa pentingnya me time untuk ibu rumah tangga ini bukan sekedar akal-akalan ibu untuk meninggalkan kewajiban. Justru dengan memberikan waktu me time tanpa anak, ada beberapa manfaat yang bisa dirasakan tidak hanya oleh ibu, tapi juga untuk ayah dan anak, antara lain:

Menenangkan Pikiran
Happy mom, raise a happy family. Ibu yang senantiasa memiliki pikiran positif, akan menularkan aura positif tersebut pada seisi rumah. Jadi kalau akhir-akhir ini kesabaran kita mulai menipis pada anak, mungkin selain mendekatkan diri pada Sang Pencipta, kita juga butuh me time sejenak untuk menstabilkan emosi. Memikirkan hal-hal menyenangkan di luar tanggung jawab sehari-hari dapat menenangkan pikiran dan meningkatkan mood.

Mengembalikan Energi Tubuh
Sepakat kan kalau mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mendampingi aktivitas anak itu banyak membakar kalori? Me time bisa membuat tubuh kita beristirahat sejenak, untuk kemudian lebih siap menghadapi aktivitas.

Memberikan Penghargaan pada Diri Sendiri
Meluangkan waktu untuk melakukan kegiatan menyenangkan atau hobi di luar rutinitas harian merupakan semacam reward bagi seorang ibu rumah tangga. Hal ini mampu meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri. Tidak perlu merasa bersalah. Memiliki waktu me time bukan berarti egois, melainkan memberi jeda agar ibu tidak merasa kehilangan waktu pribadi setelah berkeluarga. Mom, you are worth to get a little me time! or a lot!


Pic from: lovethispic.com

Meningkatkan Bonding antara Ayah dan Anak

Saya dan Rania itu lengket tak terpisahkan :D Tak jarang meskipun ada Ayah, Rania tetap memilih bermain dengan saya. Nah, di waktu me time inilah, suami berkesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Rania. Sekaligus merasakan 'ujian kesabaran' yang sesungguhnya, hahaha.

Teruntuk para suami, jangan pernah merasa rugi untuk memberikan waktu me time tanpa anak pada ibu rumah tangga. Manfaatnya sudah saya jembreng di atas yah. Pun para ahli psikologi juga menyarankan agar ibu tetap memiliki waktu untuk dirinya sendiri.


Karena romantis itu adalah.. sesekali memberikan istri waktu untuk me time tanpa anak.

Special thanks untuk suami yang sudah berkenan memberikan waktu me time untuk saya. Bahagiaaa adek Mas.. #uhuk! Dan akan lebih bahagia lagi kalau sekalian dibeliin gamis tapis lengkap dengan jilbabnya dari Thasya Busana XD

***

Tulisan ini merupakan tugas dari Kelas Ngeblog Seru 4 Bersama Naqiyyah Syam.

12 comments:

  1. Perlu banget me time biar waras ya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya sih gitu mb.. ternyata emang bener. hahaha

      Delete
  2. Me time : aktualisasi diri : waktunya relaksasi : mengosongkan fikiran dari kepenatan aktifitas rumah tangga : biar tetep jadi happy mom

    ReplyDelete
  3. Setuju bunda. Memang sesama emak-emak kita saling mengerti ya kalau soal me time ini hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betuuulll cem relationship goals gitu saling pengertian hehehe

      Delete
  4. Ternyata begini ya curhat para bunda hehehe. Nanti kalau aku sudah jadi seorang bunda, mau juga ikuti jejak para bunda di atas. Ternyata banyak sekali manfaat 'me time' bagi seorang ibu, ya. Terimakasih infonya Mbak :)

    ReplyDelete
  5. hehe, untung saja ini sering saya lakukan gmana kalo gak yah.. wah bakalan di amuk nih.. penjabarannya asyik mbak jadi betah mbaca nih plus berbagi pengalaman parenting mantabb

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah makasih mas.. kan mas lean gurunya hahaha

      Delete
  6. Mantap banget, khas Lampung semakin dikenal lebih luas ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mb.. tapis aslinya udah keren.. tinggal dikombinasiin dan disesuaikan sama kebutuhan pasar, hehehe

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi