Wednesday, December 20, 2017

SelebrASI 2 Tahun AIMI Lampung (Bagian Kedua), dr. Tan Shot Yen : Jangan jadi Ibu Micin Pencetak Generasi Micin

Baca bagian pertama dulu yah.. biar ntaps! :D

Saya excited sekali waktu pertama kali tahu bahwa AIMI Lampung akan mengundang dr. Tan Shot Yen dalam acara seminar kesehatan yang diadakan pada hari Minggu, 26 November 2017 di Sekolah Pelita Bangsa. Bagaimana tidak, dokter yang terkenal dengan gaya bicaranya yang blak-blakan ini seringkali saya lihat di TV. Tema besar yang biasanya beliau angkat adalah tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Dalam seminar kesehatan yang bertema “ASI Eksklusif dan MPASI Sehat bagi Generasi Ruwa Jurai Unggul” kali ini, dr. Tan akan membahas tentang MPASI untuk bayi. Cucok!

Pic from: FB AIMI Lampung

Ada beberapa kejadian konyol terkait over excited-nya saya menyambut kedatangan dokter Tan di Bandar Lampung, xixixi. Yang pertama, saking semangatnya, begitu tau informasi tentang seminar kesehatan ini dari grup emak eping, tanpa ba bi bu saya langsung transfer biaya pendaftaran ke rekening AIMI Lampung. Lupa aja gitu kalo harus konfirmasi panitia terlebih dahulu, pengennya buru-buru ngecup tempat wkwk. Dan panitia geleng kepala. Untung lah yang kayak saya cuma satu, kalo banyak? Bingung kan mereka :’D

Kejadian konyol kedua terjadi saat hari H, waktu saya sedang asik-asiknya foto di booth AIMI bareng Mbak Mei, kakak kelas saya jaman SMA. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang masih tampak cantik berhenti di depan kami seraya menunjukkan gestur “permisi mau numpang lewat”. Lalu dengan santainya saya mempersilahkan, “Lewat dulu aja, Bu”. Daaann beberapa detik kemudian.. tik tok tik tok.. saya baru sadarrrr kalo itu adalah dokter Tan Shot Yen dalam jarak yang sangat dekat! *ahhhh norak* gapapa lah biar! hahahahh.

Aslinya dr. Tan ini beneran awet muda! suerr :D (pic from: sindonews.net)

Sesi pertama silahkan baca disini ya :)

Masuk sesi kedua, topik seminar tentang MPASI sehat dibawakan oleh dr. Tan Shot Yen, M. Hum. Gaya beliau membawakan materi sungguh sangat berbeda dari materi pertama yang dibawakan oleh dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC. Kalau dr. Wiyarni itu keibuan syekali, dr. Tan ini gahul dan berapi-api. Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos mengingatkan saya dengan salah satu dokter spesialis anak disini :D

Baca : Rekomendasi Dokter Spesialis Anak di Bandar Lampung

Selain itu, pada materi pertama, saya bisa mencatat banyak hal penting. Namun hal sebaliknya terjadi saat mendengarkan materi dari dr. Tan Shot Yen, saya hanya bengong. Terkesima sekaligus tersindir. Jadi baru sadar kalau catatan saya kosong. Padahal warbyasak loh materi yang dibawakan oleh beliau inih. Berikut rangkuman materinya berdasarkan daya ingat saya (yang cukup terbatas ituh) aja ya :D

Pic from: FB AIMI Lampung

Kini : Pergeseran pola makan dan gaya hidup

dr. Tan memulai sesi seminar dengan menyoroti fenomena yang terjadi di masyarakat. Dimana orang mudah panik dan lebih mempercayai informasi kesehatan yang beredar dari broadcast hoax ketimbang mencari informasi terpercaya yang berasal langsung dari sumbernya. Mengapa pemahaman mengenai informasi kesehatan, khususnya tentang gizi ini menjadi perlu? Karena berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan, penyebab 41. 950 kematian di Indonesia berkaitan dengan pola makan dan gaya hidup.

Pic from: medtech.id

“Usia jomblo adalah usia terbaik untuk mempersiapkan diri menjadi orang tua.”, ujar dr. Tan. Kebetulan sekali, di dalam ruangan seminar kami saat itu tidak hanya terdiri dari ibu-ibu dan beberapa orang bapak, tetapi ada pula rombongan mahasiswi Poltekkes. Panjang lebar dr. Tan mewanti-wanti tentang memilih jodoh (lhah?). Termasuk menengok record pola makan dan gaya hidup, utamanya si calon suami haruslah bebas dari rokok. Ih wow, sepakat banget deh saya soal anjuran dr. Tan ini, masak iya seumur hidup kita mau jadi perokok pasif? Saya sih emoh :D

Para perempuan, calon ibu dan ibu harus melek banyak mengenai informasi tentang gizi. Karena ibu lazimnya adalah penentu utama ketersediaan makanan di rumah. Kebiasaan makan dari kedua orang tua akan turut membentuk pola makan anak. “Anak tidak hanya hidup hari ini, jadi jangan jadi ibu micin pencetak generasi micin.” kata beliau. Duh saya kesindir nih. Hahahah.

dr. Tan menjelaskan bahwa pergeseran pola makan secara global saat ini beralih pada jenis makanan tinggi kalori, lebih manis dan banyaknya versi makanan diproses (rafinasi) yang menggeser makanan alami dengan serat tinggi. Yang kemudian berakibat pada perubahan pilihan (preferensi/kesukaan) apa yang dimakan, perubahan tubuh yang lekas kenyang namun lekas lapar hingga berimbas pada kekacauan metabolisme, perubahan tipe penyakit dan perubahan cara mengatasi masalah dalam hidup yang cenderung menyukai hal-hal instan. Faktor risiko penyakit akibat pola makan dan gaya hidup ini paling tinggi tercatat 93,5% disebabkan kurangnya asupan sayur dan buah pada kelompok umur diatas 10 tahun (Riskesdas 2013).

Uhlala.

Panjang yaa ternyata akibat dari pergeseran pola makan ini. dr. Tan menceritakan bagaimana masyarakat saat ini berlomba-lomba membeli kue-kue arteiss yang notabene bahannya terdiri dari tepung terigu dan gula. Padahal gandum tidak bisa tumbuh di Indonesia, sehingga negara kita harus terus impor dari luar negeri. Selain itu, kebiasaan makan gula berlebihan memiliki akibat yang sangat berbahaya. Beliau bercerita tentang pasiennya yang baru berusia 20 tahun tapi sudah memiliki penyakit diabetes tipe 2, yang berarti berasal dari pola makan. Oemjii.

Wah saya masih doyan banget sih sama tetepungan terigu, utamanya mie. Tapi kalo konsumsi gula yah sebisa mungkin dikurangi lah. Kue artis it's okay icip-icip kalo harga sesuai dengan rasanya. Dan saya tetep suka juga kok sama sayur dan buah.

(((Lah ini ngapa guah jadi KLARIFIKASI?  Sapa yang nanya cobak? Keliatan yaa pola makannya belum bener. Hahahahhh)))

Baca: Belajar Membuat Mie Sawi Homemade bersama Rumbel Memasak IIP Lampung


Makan sehat hidup pun sehat

Pangan sehat paling baik dimakan semakin dekat dengan bentuk aslinya di alam. Makan buah? Langsung dimakan lebih baik ketimbang dibuat jus. Makan sayur? Perbanyak makan sayur mentah. Khawatir bakteri? Cuci bersih. Jadi jangan salahkan sayur mentahnya, tetapi koreksi pola hidup bersih dan sehatnya.

Tumpeng Gizi Seimbang (pic from: h4hinitiative.com)

Perhatikan juga pola minum air putih kita dalam sehari. Bukan hanya 8 gelas dalam satu hari, tetapi terus minum sampai urine bening dan tidak berwarna. Karena kebutuhan air ini bisa saja berbeda antara orang yang satu dan yang lainnya. Kebutuhan air seorang pekerja bangunan tentu berbeda dengan kebutuhan air seorang penumpang pesawat yang hanya melakukan aktivitas duduk selama 10 jam di ruangan ber-ac.

Memelihara pola makan dan gaya hidup sehat  saat masa kehamilan insya Allah akan melahirkan bayi yang sehat. Melanjutkan pola tersebut saat usia tumbuh kembang menjadikan pertumbuhan yang sehat sampai dewasa. Terus mempertahankan pola makan dan gaya hidup sehat di usia produktif membuat kita terbebas dari penuaan dini. Dan jika dilanjutkan sampai saat usia senior akan membuat kita tetap produktif dan tidak menjadi beban orang lain.



MPASI pada usia 6 bulan atau 180 hari

Alasan kenapa MPASI harus dimulai saat usia 6 bulan atau 180 hari

Gambar tersebut saya ambil dari duniasehat.net, menjelaskan tentang mengapa MPASI harus dimulai saat usia 6 bulan atau 180 hari. Harap maklum, waktu dr. Tan menjelaskan, saya cuma bengong. Jadi saya kutip alasannya dari web milik dr. Annisa Karnadi aja ya.

  1. Kebutuhan nutrisi dan nafsu makan sudah tidak bisa dipenuhi sepenuhnya hanya dari ASI (dan susu formula bagi bayi yang tidak disusui)
  2. Cadangan nutrisi penting seperti zat besi sudah habis terpakai dan tidak bisa dipenuhi hanya dari ASI lagi
  3. Perkembangan sistema persarafan dan oro-motorik telah mulai meningkat dari hanya menghisap menjadi menggigit dan bahkan mengunyah
  4. Bayi juga telah mulai tumbuh gigi
  5. Kemampuan bayi mengontrol lidahnya sudah lebih baik. Refleks menjulurkan lidah menolak objek padat yang memasuki mulutnya telah menghilang dan bayi telah mulai bisa duduk sendiri sehingga mulai bisa lebih lama menikmati makanan yang lebih padat
  6. Sistem pencernaan telah berkembang sempurna sehingga telah mampu mencerna makanan seperti karbohidrat dengan lebih baik
  7. Rasa penasaran akan aneka tekstur dan rasa dari lingkungan sehingga fase eksplorasi ini sangat berguna saat pengenalan makanan baru.

Jika MPASI diberikan terlambat (anak lebih dari 6 bulan) risikonya adalah anak akan terganggu perkembangan oro-motoriknya sehingga akan mengalami kesulitan makan. Selain itu anak akan menjadi kurang gizi karena ASI sudah tidak bisa mencukupi kebutuhan energi maupun zat gizi bagi anak umur 6 bulan, baik di Negara maju apalagi di Negara miskin dan sedang berkembang. Pernyataan ini juga saya kutip dari web duniasehat.net.



MPASI dengan bahan pangan lokal yang memenuhi standar empat bintang

Terkait dengan bahan pangan lokal, dr. Tan gemash, karena ada sesepeneliti yang menyebutkan bahwa ketersediaan pangan lokal di Indonesia tidak memenuhi standar kecukupan gizi. Padahal ada banyaaaakkkkk sekali sumber makanan bergizi yang tersedia di bumi Indonesia Raya ini. Salut deh sama nasionalismenya dr. Tan. Beliau berapi-api banget loh saat menjelaskan bahwa kalo gak sanggup beli salmon, gak usah maksa makan salmon. Alangkah banyak jenis ikan di Indonesia yang gizinya tidak kalah dari salmon. “Masak iya kamu sama suamimu orang Jawa. Ntar anakmu jadi Jepang? Bingung lagi ntar anak siape?” LOL! :D

Via : Giphy

MPASI menu 4 bintang terdiri dari protein hewani sebagai sumber pembentuk sel tubuh dan sumber zat besi, selanjutnya karbohidrat, protein nabati dari kacang-kacangan dan dilengkapi dengan buah dan sayur. dr. Tan saat menjawab pertanyaan salah satu peserta mengatakan, "Susu pertumbuhan sama sekali tidak wajib, karena kandungan di dalamnya bisa digantikan oleh sumber lain yang diperoleh dari bahan-bahan alami."

Lemak sehat juga diperlukan oleh tubuh. Kandungan lemak sehat ini contohnya berasal dari ikan laut dalam, minyak zaitun, kemiri, kacang-kacangan, alpukat dan kelapa. Kelapa bisa dibuat menjadi bermacam-macam olahan. Misal diambil santannya untuk masak, dibuat urap, buntil dan lain-lain.

“Tapi orang Indonesia itu lucu ya. Kalo masak santan, misal opor ayam. Ayamnya habis tapi santannya masih sisa, kamu masukin telur. Telur habis, ganti tempe. Tempe habis, tambahin tahu.. Itu namanya kamu bukan makan santan. Tapi makan MINYAK RAMBUT!”

Wkwkw.. Piye buk perasaanmu? AMBYAR ora? jangan diulang lagi yaa ongat-angetnya.. :'D

(pic from: infografiskesehatan.blogspot.co.id)


MPASI paling baik dibuat dari bahan-bahan yang diambil langsung dari alam, bukan yang sudah dikemas dalam bentuk instan tinggal seduh. Bahan-bahan yang baik ini akan menunjang kesehatan secara imbang. Di dalamnya terdapat zat gizi utuh dan kaya akan tekstur, warna asli serta rasa asli yang sesuai musim dan kearifan tradisi. Berbeda dengan MPASI instan, yang menunjukkan seolah-olah kebutuhan gizi hanya seperti yang tertera di daftar komposisi. MPASI instan ini kelihatannya memang menarik, tetapi tidak cukup, zat gizi sudah terurai karena mengalami berbagai pemrosesan.“Saya belum pernah sih, lihat produsen makanan instan beli bayam bertruk-truk untuk dijadikan bubur bayam.”, begitu kata dr. Tan. Beliau lohh yang bilang, bukan saya.. *mamah muda plis jangan bully :D

Contoh menu empat bintang: Tim Nasi Merah, bisa dibuat dari 4 sdm nasi merah. Tambahkan rebusan tulang/ceker ayam, ambil airnya + 1 cangkir santan. Masak hingga matang, matikan api. Masukkan tahu dan telur kocok, aduk rata. Bagi dalam beberapa wadah tahan panas, beri cincangan bayam muda di atasnya, kukus selama 5 menit.

Pic from: zonamama.com

Tambahan:
  • Menurut dr. Tan saat menjawab pertanyaan salah satu peserta, ketika anak mulai makan dengan tekstur cincangan, saat itu boleh ditambahkan dengan bumbu masak (rempah-rempah ya maksudnya, bukan roy*o atau masa*o) agar rasa makanan lebih keluar.
  • Anak tidak mau makan saat pertama kali memberikan MPASI? Dr. Wiyarni Pambudi, SpA, IBCLC dalam materinya yang pertama memberikan saran untuk menciprat-cipratkan ASI ke dalam makanan anak untuk menimbulkan aroma dan selera makan anak. Karena pada saat ASI anak sudah mendapatkan tabularasa makanan dari apa yang dimakan ibunya, maka berikan MPASI sesuai menu sehari-hari keluarga.


Yuk, masak!

“Siapa bilang masak itu repot?” saya dok.. eh. Ini tips dari dokter Tan agar kegiatan memasak menjadi mudah:
  1. Tentukan dalam satu minggu, keluarga mau makan apa? Buat daftar menu dan cara pengolahannya. Olahan makanan itu tidak terbatas pada digoreng dan digoreng. Tapi kita bisa membuat pepes, sop, soto, garang asem, pesmol, pangeh, tim dan lain-lain. Disantan juga boleh, karena santan itu termasuk salah satu sumber lemak sehat. Tetapi tidak baik juga jika terlalu sering dikonsumsi. Jadi di daftar menu satu minggu itu cukup satu kali makan olahan santan. "Ibu ibu jangan kayak bumi tanpa matahari kalau di rumah nggak ada minyak goreng." Ehemmm.. *ako banget sih ini wkwk* Contoh menu harian dan cara pengolahannya: ayah, ibu dan kakak hari Rabu makan olahan ikan acar kuning. Si adik bayi bisa ikut makan ikan kukus. Begitu pula di hari selanjutnya misal keluarga makan soto kudus, adik bayi bisa makan makanan yang sama tetapi diolah menjadi sup cincang.
  2. Pulang belanja, racik segera bahan seakan segera dimasak. *Jadi ikan yang sudah dibersihkan dan dibumbui itu betul-betul menjaga mood kita di pagi hari loh, ketimbang saat mau masak ikan masih dalam plastik beku dan belum dibersihkan. Betul ibuk-ibuk??? Wkwk.*
  3. Atur dalam wadah khusus sesuai hari di lemari beku/freezer *saya kebayang isi kulkasnya dr. Tan rapi bener kali yak.. beda sama isi kulkas saya.. :'D
  4. Persediaan yang ‘harus’ selalu ada: misal tulang ayam (untuk kaldu), telur, wortel, buncis, kacang merah.

Nah.. gimana buk ibuk? Gak sulit kan menyiapkan MPASI sekaligus masak untuk keluarga??? Hmmm.. jawab dalam hati masing-masing, xixixi. Yang jelas, pulang dari seminar itu saya seperti mendapat pencerahan. Bahwa para orang tua, menciptakan pola makan dan gaya hidup yang akan ditiru anak. Jadi kita nih, bu ibu pada khususnya yang memiliki tugas utama menyediakan makanan sehat di rumah, harus lebih melek gizi. Supaya gak jadi ibu micin pencetak generasi micin, seperti yang dibilang oleh dokter Tan. Saya sih (mencoba terus berusaha kerashh - menurut versi saya yah) memilih repot sekarang, untuk kebaikan di masa yang akan datang *uhuk*



Semoga resumenya bermanfaat. Bisa panjang juga ternyata. Berarti cukup bagus rupanya ingatan saya. Yah maklum lah, ini pasti efek dari banyak makan buah dan sayur. Wahaahaahh. Salam! :)

6 comments:

  1. Pengalaman, keinginan memberikan ASI Eksklusif hingga usia 2 tahun tidak terealisasi kan, karena di usia 20 bulan anak sudah tidak mau lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sebab.. Kudu ditelaah dulu satu2.. Hehe

      Delete
  2. ketampooool bgt. Pengen prakteklah. Apalg dua bulan ke dpn Hamzab MPASI. Kudu siap2

    ReplyDelete
  3. “Anak tidak hanya hidup hari ini, jadi jangan jadi ibu micin pencetak generasi micin.” Aduuuh bu dokter, ini ada bukti ilmiahnya nggak ya saat mengucapkan ini? Setau saya micin sih nggak masalah asalkan sesuai takaran, yaitu 2 - 5 gr sehari. Kalaupun ada sebab Micin menjadi sebuah penyakit, itu semata-mata karena Alergi. Alergi bsa disebabkan dari bahan makanan sehat sekalipun. Maaf koreksi kalau saya salah ya ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan micin secara eksplisit maksudnya mb.. Ini pake istilah anak sekarang yg sering disebut 'generasi micin' :D

      Delete

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi