Thursday, March 14, 2019

Meniti Jannah dari Rumah : Resensi Buku Hafidz Rumahan oleh Neny Suswati

Neny Suswati, penulis buku Hafidz Rumahan ini, adalah salah seorang teman saya di komunitas Tapis Blogger. Saya mengenal umi Neny, begitu sapaan akrab saya pada beliau, sebagai salah seorang blogger yang giat menulis tentang dakwah islam. Karyanya yang dituangkan dalam bentuk buku sudah cukup banyak, dan makin kesini, makin mengerucut ke tema parenting islami. Sebuah tema yang juga menjadi salah satu ketertarikan saya dalam dunia tulis menulis.

Beberapa minggu lalu, saat mengetahui bahwa umi Neny akan meluncurkan sebuah buku bertajuk Hafidz Rumahan, hati saya girang bukan kepalang. Buku ini semacam menjadi jawaban atas kegalauan orang tua macam saya. Seorang ibu yang sangat awam soal agama. Tapi jauh dalam lubuk hati, bercita-cita memiliki anak seorang penghapal qur'an.

Saya saat membaca buku Hafidz Rumahan. Dok: Desy LA.

Bersyukur rasanya, Kamis, 7 Maret 2019 lalu, Allah gerakkan saya untuk hadir dalam acara launching buku Hafidz Rumahan di G Hotel Syariah Lampung. Sebuah karya yang dibuat sepenuh hati oleh umi Neny. Berkisah tentang perjalanan keluarga Hasan Basri, seorang hafidz cilik terkenal dari Pulau Nias, Sumatera Utara.


Yang membuat saya kagum, Hasan Basri beserta kakak dan adik-adiknya yang sudah hapal 30 juz Al-Qur'an di usia 6 sampai dengan 12 tahun itu, bukanlah lulusan pondok pesantren. Mereka menghapal qur'an dari rumah, di bawah bimbingan langsung sang ibu dan juga ayah yang notabene bukan pula seorang hafidz/hafidzah.


Judul Buku: Hafidz Rumahan
Penulis: Neny Suswati
Penerbit: Aura Publishing 
ISBN: 978-623-211-033-5
Tahun Terbit: Februari 2019
Tebal: xxix + 200 halaman
Harga: Rp 65.000,-


Ikhtiar Keluarga Awam Melahirkan 7 Penghapal Qur'an

Saya yakin, awalnya pembaca mungkin memiliki pikiran yang sama dengan saya. Memiliki 7 anak penghapal qur'an, pastilah sang orang tua juga minimal lulusan pesantren! Hapalan qur'annya bagus, ilmu agamanya pun baik.

Namun ternyata, dugaan saya itu salah. Keluarga ini sama sekali bukan berasal dari kalangan santri. Ibunya, Siti Hajar, bahkan baru tamat iqro' 4 saat pertama kali mengajarkan anaknya membaca huruf hijaiyah. Begitu juga dengan Abdurrohim, sang ayah.  Bukan pula seseorang dengan pemahaman agama yang baik. Sholat pun dulu kadang masih ditinggalkannya.

Silahkan tercengang karena awalnya saya juga sulit untuk percaya. Namun begitulah kenyataannya. Umi Neny menceritakan tentang bagaimana awal mula keluarga awam ini tersentuh dakwah dan mengubah arah haluan bahtera keluarga mereka.

"Bukan hal mudah, keduanya bukan hafidz Al-Qur'an, bahkan hampir bisa dikatakan, Siti Hajar belajar membaca Al-Qur'an dengan sungguh-sungguh saat sudah memiliki 2 orang anak, bahkan belajar bersamaan dengan mengajari anak pertamanya. Tetapi tekadnya yang kuat tidak menyurutkan langkahnya. Dia terbiasa belajar keras saat sekolah, orangnya gigih menggapai apa yang dicita-citakan. Untuk prestasi dunia dia mampu sungguh-sungguh, apalagi untuk keselamatan hidup dunia dan akhirat bagi anak-anaknya? Tentu tekad dan semangatnya lebih kuat. Jadi sudah bulat tekadnya, ingin mendidik anak-anaknya hapal qur'an di bawah bimbingannya sendiri, tidak mendaftarkan anak-anaknya di sekolah formal." (halaman 44)

Buku Hafidz Rumahan. Dok: Heni Puspita

Siti Hajar, Sosok Madrasah Dibalik Anak-Anak Luar Biasa Itu

Sri Maharani Hasibuan. Adalah nama asli yang diberikan oleh orang tua kepadanya. Setelah hijrah, Rani memutuskan untuk mengubah nama panggilan menjadi Siti Hajar. Rani hanya menamatkan pendidikan sampai jenjang SMA. Di awal pernikahan, ia bahkan sama sekali belum mengenakan hijab. Kesadaran beragama perlahan muncul saat sang suami semakin aktif mengikuti aktivitas perjalanan dakwah. Rani yang saat itu perlahan behijrah menyadari bahwa kondisi generasi saat ini sudah sangat jauh dari nilai-nilai Al-Qur'an.

"Ada satu bagian agama yang sudah lama hilang, yaitu mendidik anak-anak secara sunnah, bahwa anak di awal kehidupannya lebih banyak berada di pangkuan/asuhan ibunya, karena sesungguhnya ibu adalah madrasah yang pertama dan utama." (halaman 13)

Rani kemudian menjadi sangat terobsesi dengan perannya sebagai seorang ibu. Meski tahu, hal itu bukanlah tugas yang mudah. Pilihan hidupnya untuk mendidik ilmu al-qur'an di rumah, tak jarang mengundang bisik-bisik tetangga. Keluarga pun sudah beberapa kali mengingatkan, namun ia tetap pada pendirian. Merawat anak-anak yang masih kecil, menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, mendidik anak-anak di rumah dengan kondisi apa adanya, sekaligus membimbing dan menerima setoran hapalan. Waktu terasa cepat berlalu dan menjadi sangat berharga di rumah mereka.

Saya rasa, dengan kesibukan padat mengurusi dan mendidik 8 anak (7 diantaranya sudah hafidz qur'an, 1 anak sedang dalam proses menghapal) itu, umi Siti Hajar mungkin tak lagi sempat berpikir untuk sekedar memberi kode receh #mamamintametime seperti yang digaung-gaungkan ibu masa kini macam saya. *sigh*

"Nak, Bunda juga akan berusaha semaksimal mungkin, walau mungkin ndak sekece umi Siti Hajar." Dok: Desy LA.


Abdurrohim, Sang Nahkoda Menuju Bahtera Surga

Dibalik istri yang luar biasa menjalankan perannya di rumah, ada sosok pemimpin yang juga begitu luar biasa memainkan peran. Dialah Abdurrohim. Ramlan Dalimunthe, nama asli lelaki itu. Telah lama ia risau akan kondisi diri yang tak begitu paham agama, ditambah lagi tinggal di pulau yang mayoritas penduduknya beragama kristen. Qadarullah, Allah mempertemukan ia dengan rombongan jaulah di masjid dekat rumah yang kemudian menjadi perantara perubahan-perubahan besar dalam hidupnya. Termasuk memilih resign dari pekerjaannya sebagai seorang PNS.

Abdurrohim adalah sosok laki-laki penyabar yang tidak pernah marah dan berkata kasar pada istrinya. Saat sang istri melakukan kesalahan, ia yang justru pertama kali akan memuhasabah diri dan memintakan ampunan dalam sujud panjang sepertiga malamnya. Benarlah kata pepatah, istri bisa tahan melewati cobaan apapun dalam rumah tangga, asal suami tetap menghargai dan menyayanginya. Potret Abdurrohim dan Siti Hajar digambarkan sebagai keluarga yang romantis dan saling mengingatkan akan akhirat.

Mbak Naqiyyah Syam, umi Neny Suswati dan Pak Abdurrohim. Dok: Heni Puspita. 


Tidak Ada Keluarga Tanpa Ujian!

Dari buku ini, saya mendapatkan gambaran bahwa keluarga Abdurrohim dan Siti Hajar bukanlah keluarga yang sempurna. Sejak awal, mereka menikah karena dijodohkan oleh orang tua.

"Di bulan-bulan pertama setelah pernikahannya, sering muncul rasa bencinya pada suaminya, terutama saat bertemu dengan teman-teman sejawat yang mengingatkannya pada kehidupan indah saat bekerja kantoran dan masa depan yang ingin dicapainya." (halaman 7)

Perasaan saya sebagai pembaca seperti disajikan kisah Datuk Maringgih versi nyata. Tapi tentu dengan ending yang jauh berbeda.

Cobaan demi cobaan pernah dilalui oleh keluarga ini. Termasuk kondisi ekonomi yang carut marut pasca Abdurrohim berhenti dari pekerjaannya sebagai guru.

"Ujian keyakinan terasa berat setelah pemecatan itu." (halaman 82)


Meniti Jannah dari dalam Rumah

Mungkin tak semua orang sanggup menjalani kehidupan seperti keluarga ini. Hidup sangat sederhana dengan rumah yang jaraknya dekat sekali dengan bibir pantai. Beratap seng, berdinding papan, perabotan seadanya, masak dengan kayu bakar, tidak ada televisi, pun tidak memiliki handphone. Itulah jalan hidup yang mereka pilih.

Hanzalah, anak ketujuh yang sudah hafidz qur'an di usia 6 tahun lebih. Dok: Heni Puspita. 

Namun dengan kondisi sangat sederhana dan minim sarana prasarana itu, kesungguhan mendidik anak yang dilakukan oleh Siti Hajar dan Abdurrohim telah berhasil mencetak hafidz/ah di usia yang sangat dini.
1. Fatimah, hafidzah di usia 12 tahun
2. Abu Dzar, hafidz di usia 11 tahun
3. Muhammad Luthfi, hafidz di usia hampir 9 tahun
4. Ummu Kulsum, hafidzah di usia hampir 9 tahun
5. Hasan Basri, hafidz di usia menjelang 8 tahun
6. Abdullah Zubair, hafidz di usia belum mencapai 6 tahun
7. Ahmad Hanzalah, hafidz di usia 6 tahun lebih


Bagaimana bisa? Metode apa yang dipakai?

"Abdurrohim dan Siti Hajar mendidik anak-anaknya mengikuti cara Rasulullah dan sahabat." (halaman 129)

Mereka membagi usia anak menjadi 4 fase, yaitu 0, 3, 7 dan 10 tahun. Masing-masing fase memiliki perlakuan khusus. Semua anak mereka ajarkan untuk lancar membaca Al-Qur'an terlebih dahulu, barulah diajar membaca, mengenal angka dan menghitung.

Pada bagian akhir buku, pembaca akan disuguhkan dengan penjelasan detail yang ditulis secara apik oleh umi Neny Suswati. Mengenai konsep pendidikan dan kunci sukses keluarga Hasan Basri dalam mendidik anak menjadi hafidz/ah dari rumah.

Saya saat berburu tanda tangan umi Neny. Dok: Lilih Muflihah. 

Bagi saya, judul buku ini sangat menarik. Dipercantik dengan desain sampul berwarna hijau segar berlatar rumah keluarga Hasan Basri yang secara jelas menggambarkan tentang kesederhanaan dalam keluarga itu. Cerita berdasarkan kisah nyata yang diangkat oleh umi Neny ini, menjadi motivasi tersendiri bagi para orang tua awam seperti saya, untuk terus berikhtiar dengan berbagai cara agar cita-cita mulia memiliki anak hafidz/ah itu dapat tercapai. Ditulis dengan gaya bahasa yang ringan, membuat pembaca seolah diajak langsung menyelami kehidupan keluarga Hasan Basri di desa terpencil di Pulau Nias. Menjadikan buku setebal 200 halaman ini tidak membosankan untuk dibaca.


Yang sedikit menjadi kekurangan adalah gambar yang masih menggunakan cetakan hitam putih. Bagi seorang visual seperti saya, akan lebih menarik jika buku ini dilengkapi dengan foto-foto berwarna, meskipun hal itu juga pasti akan berdampak pada naiknya harga jual buku. Namun demikian, buku Hafidz Rumahan karya umi Neny Suswati ini tetap sangat layak dijadikan referensi bagi para keluarga muslim. Selamat menyelami samudera hikmah :)


Ingin Pesan Buku Hafidz Rumahan? 
Klik disini.





1 comment:

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi