Friday, June 2, 2017

Nice Homework #3 : Membangun Peradaban dari dalam Rumah

Semakin kesini, saya semakin bersemangat mengerjakan tugas Matrikulasi Batch 4 yang diselenggarakan oleh Institut Ibu Profesional. Saya menikmati keterlibatan suami dalam membantu saya menyelesaikan tugas lewat komunikasi yang lebih intens dan saling bertukar pikiran.

Pada tugas kali ini, saya diminta membuat surat cinta untuk suami, menuliskan potensi yang dimiliki anak, menuliskan potensi yang ada dalam diri saya dan menggambarkan keadaan di lingkungan sekitar tempat saya tinggal.

Butuh kepekaan dalam membaca kehendak Allah tentang mengapa kami dipersatukan sebagai sebuah keluarga. Dan juga mengapa Allah mengizinkan kami menetap di daerah ini.

Saat mengerjakan NHW #3, besar harapan saya agar komitmen dalam membangun peradaban dari dalam rumah semakin kuat. Seperti pesan Pak Dodik kepada Ibu Septi untuk meyakinkan beliau tentang pentingnya kesungguhan menjadi seorang Ibu, sebagai berikut:



“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu, tidak ada hukum terbalik."


Jatuh cintalah kembali kepada suami Anda, buatlah surat cinta yang menjadikan Anda memiliki "alasan kuat" bahwa dia layak menjadi ayah bagi anak-anak Anda. Berikan kepadanya dan lihatlah respon dari suami.



"It takes billion of people to complete the world, but it only takes YOU to complete ME."

Penggalan quotes tersebut mengawali surat cinta yang saya buat untuk suami. Surat cinta yang panjangnya tak sampai setengah halaman. Saat menerimanya di malam hari sebelum tidur, suami saya tersenyum simpul. Entah memang terenyuh atau sebenarnya geli dengan rangkaian kalimat-kalimat norak yang saya tulis buru-buru itu. Hahaha.

Masa pengantin baru, saat kami sedang 'lucu-lucu'nya.. :D


Isi suratnya memang tidak banyak, namun ada banyak air mata yang tumpah saat menulisnya. Air mata kesyukuran yang membuncah begitu saja saat harus menuliskan ekspresi betapa saya yakin ketika memilihnya menjadi ayah bagi anak-anak kami. Termasuk tak henti-hentinya berterima kasih kepada Allah yang telah mempertemukan kami. Walau kami besar di dua pulau yang berbeda.



"I love you because the entire universe conspires to help me find you." (The Alchemist)

Setelah membaca surat tersebut, kami kembali menyadari bahwa ada banyak sekali perbedaan sifat diantara kami. Namun hal itu seharusnya membuat kami saling melengkapi satu sama lain dan semakin kuat sebagai sebuah keluarga. Saya berterima kasih atas kesabaran suami dalam mendampingi proses belajar saya, sekaligus meminta maaf dan entah untuk yang keberapa kalinya, saya bertekad untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Kami meyakini bahwa masih banyak potensi kebaikan yang bisa kami gali dan berjanji untuk saling mendukung serta saling mengingatkan.



Lihatlah anak-anak Anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.


Di usia 2 tahun 1 bulan, potensi kekuatan diri Rania yang mulai terlihat adalah sebagai berikut:


  • Memiliki kemauan yang kuat terhadap sesuatu. Hal ini baik, namun saya harus lebih sabar dan tenang saat menghadapi masa tantrumnya
  • Mencoba mandiri. Keinginan besarnya untuk mandiri mulai terlihat di usia 10 bulan, ketika Rania memilih untuk makan sendiri tanpa bantuan saya. Saat ini, sedang masanya Rania suka memakai sepatu, baju atau celana sendiri
  • Ekspresif. Mudah menunjukkan rasa senang, sedih atau ketidaksukaannya terhadap sesuatu
  • Mudah dialihkan. Meskipun memiliki kemauan yang kuat terhadap sesuatu, namun Rania masih bisa diberikan pengertian dan dialihkan ke kegiatan lain yang menyenangkan
  • Senang berkomunikasi. Saat ini kosakata yang dimiliki Rania sudah cukup banyak. Rania juga tak segan memulai percakapan saat berkumpul dengan anak-anak lain. Walaupun di beberapa kesempatan bertemu dengan orang baru, Rania lebih suka mengamati
  • Senang membaca. Rania tertarik dengan macam-macam buku. Mulai dari yang berwarna-warni sampai yang isinya hanya tulisan seperti novel. Biasanya, Rania bertanya tentang gambar-gambar yang ada di buku ataupun berakting seolah-olah sudah bisa membaca
  • Kooperatif saat diajak jalan-jalan. Rania terlihat menikmati setiap kegiatan jalan-jalan kami ke berbagai tempat dan hanya rewel secukupnya saat meminta pemenuhan kebutuhan dasar, seperti makan, minum dan tidur
  • Cukup kooperatif saat dibawa ke majelis ilmu
  • Makan sesuai menu keluarga. Rania memiliki selera yang sama dengan kami, sehingga tak perlu membuatkan makanan khusus untuknya. Ini sangat memudahkan saya sebagai ibu rumah tangga tanpa ART


Lihatlah diri Anda, silakan cari kekuatan potensi diri Anda. Kemudian tengok kembali anak dan suami, silakan baca kehendak Allah, mengapa Anda dihadirkan di tengah-tengah keluarga seperti ini dengan bekal kekuatan potensi yang Anda miliki.

Bagi saya, sulit sekali menemukan apa potensi yang ada dalam diri saya. Mungkin karena dulu saya lebih sering bergantung kepada orang lain dan jarang membuat keputusan penting. Setelah menikah, suami yang memiliki sifat berkebalikan dengan saya, melatih saya untuk menentukan pilihan. Suami juga mempercayai bahwa saya memiliki banyak potensi kebaikan, hanya saja saya perlu lebih percaya diri.

Hingga saat ini, potensi kekuatan diri yang telah saya temukan adalah sebagai berikut:


  • Tertarik dengan ilmu parenting. Hal ini didukung oleh suami yang tak jarang meng-iya-kan permintaan saya untuk membeli buku atau mengikuti pelatihan yang berhubungan dengan parenting. Saya pun bertekad untuk memaafkan inner child yang ada dalam diri saya dan memperbaiki pola asuh kepada anak saya
  • Tertarik dengan ilmu kepenulisan. Saya suka menulis catatan perjalanan saya sebagai seorang ibu dan mempostingnya di media sosial. Saya berharap bisa sharing dengan orang tua yang lain. Ataupun memberikan sedikit inspirasi dengan keterbatasan ilmu yang saya miliki ini kepada mereka yang belum menikah.


Saya pernah mengikuti tes singkat di website www.temubakat.com. Hasilnya memang serupa dengan potensi yang saya rasa saya miliki saat ini. Berikut hasil dari tes tersebut:



Lihat lingkungan dimana Anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan Anda? adakah Anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga Anda dihadirkan disini?

Saya tinggal di perkampungan yang berbatasan langsung dengan kotamadya. Walaupun hanya berjarak sekian kilometer dari kota, daerah tempat saya tinggal ini masih tergolong sepi. Akses untuk menemukan angkutan umum juga cukup jauh. Mungkin Allah menaruh saya di tempat ini salah satunya agar saya bisa betah produktif di rumah. Sementara saya dulu bisa dibilang 'bolang' yang suka wara-wiri ke berbagai tempat.

Daerah yang saya tempati saat ini juga jarang dilewati oleh penjaja makanan. Lagi-lagi saya berterima kasih kepada Allah. Karena bisa jadi ini adalah 'latihan' untuk diri saya yang dulunya boros dan suka sekali jajan di luar. Saat ini saya memang masih senang jajan tiap weekend, namun tidak setiap hari seperti dulu. Saya belajar membuat camilan sehat untuk anak yang kebersihan serta bahan-bahannya lebih terjamin. Dan yang tak kalah penting adalah saya bisa lebih menghemat uang belanja :D

Tetangga saya berasal dari bermacam-macam suku. Lampung, Sunda, Jawa, Banten dan lain lain. Allah memberikan saya kesempatan untuk mengenal berbagai macam karakter dan menyesuaikan diri. Secara perlahan, saya belajar bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.

Perihal pengetahuan agama, daerah tempat saya tinggal memang belum terlalu kondusif. Beberapa kali saya masih menemui bapak-bapak yang bermain gaple sambil taruhan, kejadian hamil di luar nikah dan masjid yang belum makmur dari jamaah. Hal tersebut justru membuat saya tak hentinya menyemangati suami untuk menjadi salah satu pionir dalam memakmurkan masjid. Suami saya jadi belajar banyak hal tentang agama. Termasuk memperbaiki bacaan Al-Qur'an, sholat berjamaah di masjid, mengadakan kegiatan yang bermanfaat dalam program kerja pengurus masjid dan belajar menyampaikan kultum :D

Kami melihat kasih sayang Allah saat kami ditempatkan di lingkungan ini. Semoga saya, suami dan anak-anak kelak bisa memberikan kontribusi yang lebih baik lagi bagi lingkungan yang ada di sekitar kami.


Alhamdulillaah, dengan selesainya NHW #3 kali ini, saya berharap tulisan ini tak hanya berhenti pada goresan kata semata. Karena yang terpenting adalah pelaksanaannya.

Oh ya, pada NHW #2 kemarin, saya mendapatkan apresiasi atas ketepatan waktu dalam mengumpulkan tugas. Sebuah badge unyu berwarna merah bertinta emas.


Jadi semangat nih mengumpulkan badge-badge untuk tugas selanjutnya. Hohoho.. Terima kasih IIP.

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah mampir. Means a lot to me :) Silahkan komentar yang sopan dan mohon jangan sertakan link hidup ya. Jika ingin berdiskusi atau butuh jawaban cepat, bisa menghubungi saya via pesan instagram di akun @dwiseptiani.dwi